"Sekarang situasinya terbalik,
sadarkah kalian? Pemimpin dunia mengkritik, kita bertindak. Seharusnya kita,
sebagai rakyat biasa yang mengkritik, berekfleksi. Para pemimpin dunia yang
bertindak," ujarnya dalam acara Open Circle bertajuk Gelombang
Palestina Rakyat, Senin (10/11/2025).
Menurutnya, para pemimpin rakyat
hanya berhenti pada kritik, tetapi tidak ada tindakan nyata yang dapat membantu
umat Islam menghadapi kekejaman Israel.
"Jika para pemimpin dunia yang
berpengaruh ini hanya mengkritik tindakan Israel, hanya itu yang bisa mereka
lakukan. Lalu bagaimana mereka bisa mencapai tujuan yang sebenarnya?"
tanyanya.
Ia menambahkan bahwa banyak rakyat
kecewa ketika para pemimpin hanya diam tanpa tindakan nyata. “Bahkan sekadar
mengeluarkan pernyataan umum dan yang lebih menyedihkan adalah mempertahankan
hubungan dengan negara yang terang-terangan menindas rakyat Palestina,”
lugasnya.
"Kita tidak nyaman berpangku
tangan, bukan? Sementara para pemimpin dunia, para penguasa mereka, hanya
berpangku tangan dan bersantai, bahkan menjalin hubungan dengan kaum kafir
terkutuk. Mengapa para pemimpin dunia masih diam dan mempertahankan status
quo, artinya tidak berbuat apa-apa? Mengapa kaum Zionis masih
bertahan?" tanyanya.
Ia menjelaskan bahwa masyarakat telah
melakukan berbagai cara sebagai bentuk dukungan dan solidaritas kepada umat
Islam di Palestina, meskipun tidak memiliki kekuatan politik.
“Tindakan masyarakat yang bersuara
lantang menunjukkan kebencian mereka terhadap tindakan Zionis Israel. Mengapa
situasi ini terjadi? Mengapa justru masyarakat yang berada di garda terdepan
dalam isu penyelamatan tanah Palestina dan mengakhiri penderitaan Gaza?”
ujarnya.
Ia menyatakan bahwa Global Sumud
Flotilla merupakan contoh nyata keberanian umat Islam dan aktivis kemanusiaan
dari berbagai negara yang mempertaruhkan nyawa, bergabung mengirimkan bantuan
langsung ke Gaza melalui laut. “Tindakan tersebut berbahaya karena risikonya
sangat besar, termasuk kemungkinan diserang atau dihalangi oleh tentara Zionis,”
ungkapnya.
"Orang-orang yang berada di
garda terdepan, contohnya armada Sumud Global, kami bertanya-tanya apakah
mereka mau pergi tanpa didampingi tentara? Mereka yang pergi juga perempuan,
generasi kedua juga memiliki dokter lanjut usia yang kami katakan memang akan
berisiko. Kami memikirkan keselamatan karena kami sudah tahu seperti apa
perilaku Zionis," jelasnya.
Menurutnya, ini membuktikan bahwa
rakyat lebih berani bertindak daripada para pemimpin dan mereka telah berusaha
mewujudkannya meskipun tampaknya sangat mustahil untuk tiba di Gaza dengan
selamat.
"Mereka yang pergi atas dasar
kasih sayang, atas dasar kemanusiaan, tetapi mereka tetap berisiko dipenjara,
ditangkap. Karena kami sudah tahu risikonya. Mereka tidak akan tiba dengan
selamat. Jadi jika mereka sudah mencoba, Allah sudah memperhitungkan pahala
mereka," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa meskipun rakyat
telah bertindak dengan mengirimkan bantuan sedemikian rupa, hal itu secara
tidak langsung telah menunjukkan kelemahan para pemimpin yang ada.
“Saya ingin menunjukkan sisi
negatifnya, sudut pandang lain yang ingin kita ambil, kelemahan para pemimpin
Muslim. Di satu sisi, saya ingin mengatakan bahwa ketika rakyat bertindak
seperti itu, itu menunjukkan kelemahan para pemimpin Muslim saat ini. Sungguh,
ini sangat memalukan,” pungkasnya.[] Rahmah
