Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Dakwah Amar Makruf Nahi Munkar: Investasi Pahala yang Mengalir Hingga Akhirat

Kamis, 13 November 2025 | 10:08 WIB Last Updated 2025-11-13T03:08:36Z
TintaSiyasi.id — Di antara amal yang paling mulia dan paling besar pahalanya di sisi Allah SWT adalah dakwah amar makruf nahi munkar — menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dakwah bukan hanya sekadar tugas para ustadz atau dai di atas mimbar, melainkan panggilan suci bagi setiap Muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir.

Dakwah adalah manifestasi cinta sejati kepada sesama manusia, karena siapa pun yang mengajak orang lain kepada kebaikan, sejatinya sedang menuntun saudaranya menuju jalan keselamatan dan kebahagiaan abadi.

Hakikat Dakwah: Cinta yang Menyelamatkan

Amar ma’ruf nahi munkar adalah wujud kasih sayang yang tulus. Sebab, cinta sejati tidak diam melihat keburukan menjalar, tidak tenang melihat kemaksiatan mengakar, dan tidak rela bila saudaranya tersesat jauh dari jalan kebenaran.

Allah SWT berfirman: "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, serta beriman kepada Allah."
(QS. Ali Imran: 110)

Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan umat Islam bukan karena jumlahnya, hartanya, atau pengaruh dunianya, tetapi karena misi sucinya: menjadi penyeru kebaikan dan penjaga moral masyarakat.

Dakwah berarti peduli. Ketika seseorang mengajak orang lain untuk shalat, menasihati agar jujur, atau mencegah dari maksiat, ia sedang menjalankan fungsi keumatan yang membuatnya layak disebut khairu ummah — umat terbaik.

Dakwah Sebagai Investasi Abadi

Segala sesuatu di dunia akan lenyap — harta, jabatan, popularitas, bahkan tubuh yang kita rawat pun akan kembali menjadi tanah. Namun, ada amal yang tak pernah berhenti mengalir, bahkan setelah manusia meninggal dunia.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)

Dakwah yang menyeru kepada amar ma’ruf nahi munkar mencakup ketiganya sekaligus:

1. Ia adalah sedekah jariyah, karena manfaatnya terus mengalir.

2. Ia adalah ilmu yang bermanfaat, karena mengubah pikiran dan perilaku.

3. Ia juga melahirkan generasi saleh, karena setiap jiwa yang tersentuh dakwah akan menurunkan kebaikan bagi generasi setelahnya.

Betapa agungnya pahala seorang dai yang ikhlas. Setiap kali orang yang pernah ia nasihati melaksanakan kebaikan, mengalir pahala kepada sang penyeru tanpa mengurangi sedikit pun pahala pelakunya. Begitu seterusnya, hingga dunia berakhir.

Refleksi Ruhani: Menjadi Cahaya di Tengah Kegelapan

Dunia hari ini tengah dilanda kegelapan moral dan kebingungan nilai. Banyak orang tahu kebenaran, tetapi malu mengatakannya. Banyak yang tahu kebatilan, tetapi enggan mencegahnya karena takut tidak diterima, takut dianggap fanatik, atau takut kehilangan posisi.

Padahal, Rasulullah ﷺ telah mengingatkan: “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemahnya iman.”
(HR. Muslim)

Kita tidak dituntut untuk sempurna dalam berdakwah, tetapi kita dituntut untuk tidak diam. Sebab diam di hadapan kemungkaran adalah tanda matinya hati.

Dakwah tidak harus di podium atau masjid besar. Dakwah bisa melalui tulisan, status media sosial, konten dakwah digital, senyum kebaikan, atau sikap jujur di tempat kerja.

Setiap kebaikan yang kita sebarkan, sekecil apa pun, adalah gelombang cahaya yang memecah kegelapan zaman.

 Ikhlas, Kunci Keabadian Amal

Namun, kunci dari semua itu adalah keikhlasan. Tanpa keikhlasan, dakwah berubah menjadi pencitraan; tanpa ketulusan, amar ma’ruf kehilangan ruhnya.

Para salafus shalih dahulu selalu menangis ketika berdakwah, bukan karena takut gagal, tetapi karena takut amalnya tidak diterima. Mereka mengajarkan kita bahwa keberkahan dakwah bukan diukur dari banyaknya pengikut, melainkan dari keberlanjutan pengaruhnya di hati manusia.

Kesimpulan: Dakwah Adalah Warisan Para Nabi

Amar ma’ruf nahi munkar adalah warisan risalah para nabi. Setiap langkah di jalan ini adalah langkah mengikuti jejak Rasulullah ﷺ, yang sepanjang hidupnya tidak pernah berhenti menyeru kepada tauhid, kebaikan, dan kasih sayang.

Maka, siapa pun yang berdakwah dengan niat tulus karena Allah, sesungguhnya ia sedang menanam pohon pahala di taman surga — yang kelak akan ia temui buahnya di akhirat.

Penutup Reflektif

Mari kita renungkan: Apa warisan yang ingin kita tinggalkan di dunia ini? Apakah hanya harta dan kenangan, ataukah pahala yang terus mengalir tanpa henti?

Jadilah penyeru kebaikan, walau hanya dengan satu kalimat. Jadilah pencegah kemungkaran, walau hanya dengan isyarat lembut. Sebab dari situ, mengalir pahala tanpa batas — investasi ruhani yang tidak mengenal kerugian dan tak terhapus waktu.

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)

Dakwah amar ma’ruf nahi munkar adalah investasi abadi. Sekali menanam kebaikan, selamanya mengalir pahala. Mari terus berdakwah dengan cinta, hikmah, dan keikhlasan.

Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis, Dosen dan Konsultan Pengembangan diri dan SDM. Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa )

Opini

×
Berita Terbaru Update