Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Cendekiawan: Sudan dalam Proses Pelemahan oleh Barat

Senin, 24 November 2025 | 05:55 WIB Last Updated 2025-11-23T22:55:25Z

TintaSiyasi.id -- Cendekiawan Muslim Ustaz M. Ismail Yusanto (UIY) menyatakan bahwa Sudan kini dalam proses pelemahan oleh Barat.

 

“Amerika itu tak tampak secara langsung karena dia melihat Sudan ini dalam satu proses yang sebenarnya diinginkan Barat, Amerika khususnya, yaitu proses pelemahan,” ujarnya di kanal Youtube Tabloid Media Umat bertajuk Peran AS dalam Konflik Sudan dan Dunia Islam, Senin (18/11/2025).

 

Lanjutnya, selain negara yang kaya dengan minyak dan sumber daya alam strategis seperti emas, Sudan dipandang salah satu pusat penting berkembangnya dakwah dan gerakan Islam terutama selama 30 tahun pemerintahan Omar Bashir.

 

“Pertumbuhan Islam ini justru dianggap radikal oleh Barat karena telah mengancam kedudukannya,” tandas UIY.

 

“Meski ada banyak kritik terhadap pemerintah Omar Bashir, dari kaca Islam disebutlah ia kurang Islami segala macam, tetapi bagi Barat ini sudah terlalu sangat Islam. Itulah mengapa Sudan itu sudah lama di mata Barat itu, kalau ada individu radikal, ada kelompok radikal, ada negara radikal, itulah Sudan,” ungkapnya.

 

Lanjut, ia mengungkapkan dinamika itu dipantau oleh Barat dan menganggap Sudan perlu dilemahkan dan caranya adalah dengan mendorong terjadinya disintegrasi Sudan Selatan dari Sudan Utara.

 

“Ini dilakukan melalui referendum yang dianggap jalan yang paling absah melegitimasi pemisahan wilayah dari induknya,” bebernya.

 

“Di situ peran Amerika itu tidak bisa dinafikan, karena Amerikalah yang menjadi mediator di dalam apa yang disebut CPA (Comprehensive Peace Agreement) tahun 2005 antara Sudan dan Tentara Gerakan Pembebasan Sudan wilayah Selatan,” katanya.

 

Berkaitan hal itu, menurutnya, Sudan sebetulnya telah mengalami pelemahan yang sangat besar setelah Sudan Selatan memisahkan diri karena ia telah kehilangan sejumlah besar cadangan minyaknya karena sumber utama minyak berada di wilayah Selatan.

 

“Ini adalah proses pelemahan yang sangat signifikan karena tadi telah dikemukakan bahwa setelah Selatan itu dipisahkan dari Sudan, maka Sudan Utara kehilangan 75 persen cadangan minyak dan sampai sekarang enggak selesai karena cadangannya ada di Selatan,” ungkap UIY.

 

“Tetapi ekspertise sampai infrastruktur dan peralatan ekplorasi dan eksploitasi di utara termasuk juga jalur untuk pengapalan sampai ke port side satu-satunya pelabuhan ke Laut Merah itu di utara,” imbuhnya.

 

Lanjut, ia menambah bahwa setelah Sudan Selatan memisahkan diri, Sudan akan dilemahkan lagi dengan Sudan Timur dan Sudan Barat. “Ini adalah salah satu cara untuk melemahkan kekuatan satu negara yaitu melalui disintegrasi,” lugasnya.

 

“Setelah Sudan Selatan berhasil dipisahkan dari induknya, sekarang ada tanda-tanda bahwa Sudan itu akan dibelah lagi menjadi Sudan Timur dan Sudan Barat,” bebernya.

 

Ia membeberkan bahwa salah satu cara melemahkan sebuah negara adalah memecahkannya melalui isu ras, agama, suku, atau wilayah seperti yang pernah terjadi di India dan Pakistan, Bangladesh, Yaman Utara dan Yaman Selatan dan hal serupa juga berpotensi terjadi di negeri-negeri lainnya.

 

“Kalau kita boleh memprediksi ujung dari konflik antara SAF dan RSF itu adalah pemisahan Sudan. Jadi nanti sudahlah Sudan itu lemah setelah Sudan Selatan berpisah, kemudian dibelah lagi menjadi Sudan Barat dan Sudan Timur,” tandasnya.

 

Menyikapi apa yang telah dan sedang terjadi di Sudan dalam konteks geopolitik global, UIYMmenyimpulkan bahwa Barat sedaya upaya menghindari munculnya negara muslim yang kuat.

 

“Jadi apa kepentingan globalnya? Kepentingan gobalnya adalah Barat tidak menginginkan ada satu negara Muslim yang kuat,” pungkasnya.[] Rahmah

 

 

Opini

×
Berita Terbaru Update