“Amerika itu tak tampak secara langsung karena dia
melihat Sudan ini dalam satu proses yang sebenarnya diinginkan Barat, Amerika
khususnya, yaitu proses pelemahan,” ujarnya di kanal Youtube Tabloid Media
Umat bertajuk Peran AS dalam Konflik Sudan dan Dunia Islam, Senin
(18/11/2025).
Lanjutnya, selain negara yang kaya dengan minyak dan
sumber daya alam strategis seperti emas, Sudan dipandang salah satu pusat
penting berkembangnya dakwah dan gerakan Islam terutama selama 30 tahun
pemerintahan Omar Bashir.
“Pertumbuhan Islam ini justru dianggap radikal oleh
Barat karena telah mengancam kedudukannya,” tandas UIY.
“Meski ada banyak kritik terhadap pemerintah Omar
Bashir, dari kaca Islam disebutlah ia kurang Islami segala macam, tetapi bagi
Barat ini sudah terlalu sangat Islam. Itulah mengapa Sudan itu sudah lama di
mata Barat itu, kalau ada individu radikal, ada kelompok radikal, ada negara
radikal, itulah Sudan,” ungkapnya.
Lanjut, ia mengungkapkan dinamika itu dipantau oleh Barat
dan menganggap Sudan perlu dilemahkan dan caranya adalah dengan mendorong
terjadinya disintegrasi Sudan Selatan dari Sudan Utara.
“Ini dilakukan melalui referendum yang dianggap jalan
yang paling absah melegitimasi pemisahan wilayah dari induknya,” bebernya.
“Di situ peran Amerika itu tidak bisa dinafikan,
karena Amerikalah yang menjadi mediator di dalam apa yang disebut CPA
(Comprehensive Peace Agreement) tahun 2005 antara Sudan dan Tentara Gerakan
Pembebasan Sudan wilayah Selatan,” katanya.
Berkaitan hal itu, menurutnya, Sudan sebetulnya telah
mengalami pelemahan yang sangat besar setelah Sudan Selatan memisahkan diri
karena ia telah kehilangan sejumlah besar cadangan minyaknya karena sumber
utama minyak berada di wilayah Selatan.
“Ini adalah proses pelemahan yang sangat signifikan
karena tadi telah dikemukakan bahwa setelah Selatan itu dipisahkan dari Sudan,
maka Sudan Utara kehilangan 75 persen cadangan minyak dan sampai sekarang enggak
selesai karena cadangannya ada di Selatan,” ungkap UIY.
“Tetapi ekspertise sampai infrastruktur dan
peralatan ekplorasi dan eksploitasi di utara termasuk juga jalur untuk
pengapalan sampai ke port side satu-satunya pelabuhan ke Laut Merah itu
di utara,” imbuhnya.
Lanjut, ia menambah bahwa setelah Sudan Selatan
memisahkan diri, Sudan akan dilemahkan lagi dengan Sudan Timur dan Sudan Barat.
“Ini adalah salah satu cara untuk melemahkan kekuatan satu negara yaitu melalui
disintegrasi,” lugasnya.
“Setelah Sudan Selatan berhasil dipisahkan dari
induknya, sekarang ada tanda-tanda bahwa Sudan itu akan dibelah lagi menjadi
Sudan Timur dan Sudan Barat,” bebernya.
Ia membeberkan bahwa salah satu cara melemahkan sebuah
negara adalah memecahkannya melalui isu ras, agama, suku, atau wilayah seperti
yang pernah terjadi di India dan Pakistan, Bangladesh, Yaman Utara dan Yaman
Selatan dan hal serupa juga berpotensi terjadi di negeri-negeri lainnya.
“Kalau kita boleh memprediksi ujung dari konflik
antara SAF dan RSF itu adalah pemisahan Sudan. Jadi nanti sudahlah Sudan itu
lemah setelah Sudan Selatan berpisah, kemudian dibelah lagi menjadi Sudan Barat
dan Sudan Timur,” tandasnya.
Menyikapi apa yang telah dan sedang terjadi di Sudan
dalam konteks geopolitik global, UIYMmenyimpulkan bahwa Barat sedaya upaya
menghindari munculnya negara muslim yang kuat.
“Jadi apa kepentingan globalnya? Kepentingan gobalnya
adalah Barat tidak menginginkan ada satu negara Muslim yang kuat,”
pungkasnya.[] Rahmah
