"Kenapa Uni Emirate Arab mendukung RFS karena ada
simbiosis mutualisme. RFS butuh senjata butuh amunisi untuk mengalahkan wilayah
Sudan dan Uni Emirate Arab butuh emas, karena memang cuan itu sangat besar
dalam konflik Sudan ini," ucapnya di kanal YouTube Tabloid Media Umat;
Peran AS Dalam Konflik Sudan dan Dunia Islam, Ahad (16/11/2025).
Pizaro menjelaskan, RFS dari tahun 2015 hingga 2022
menghasilkan 240 ton emas. “240 ton emas jika di rupiahkan setara 550 triliun,
untuk negara seperti Sudan itu terbilang besar,” beber Pizaro.
"Siapa kemudian yang mau membagi emas yang begitu
berlimpah ini? Siapa yang mau melepaskan begitu saja, karena begitu sangat kuat
dan emas-emas ini kenapa UEA mendukung RFS," terangnya.
Ia menilai emas tidak hanya diberikan kepada Uni
Emirate Arab, tetapi kemudian dijual lagi ke Eropa. "Makanya kenapa
kemudian Rusia masuk. Rusia itu kan join kerja sama dengan berbagai
perusahaan yang ada di Abu Dhabi atau Uni Emirate Arab untuk melakukan semacam join
emas, kemudian dijual ke eropa," jelasnya.
"Ini kenapa Uni Emirate Arab memiliki atensi
sangat kuat, tidak hanya faktor emas tetapi juga pangan. Kita mengetahui 90
persennya impor Uni Emirate Arab untuk pangan itu dari Sudan. Karena dia
mengalami krisis pangan dan krisis air kemudian dia melakukan impor dari
Sudan," tambahnya.
Selain itu, ia membeberkan adanya perang proksi di
Sudan yakni antara Uni Emirate Arab dengan Arab Saudi. “Walaupun dua negara ini
sering berkoalisi salah satunya berperan dalam jatuhnya mantan Presiden Mesir
Mohamed Morsi,” ungkapnya.
"Dalam jatuhnya Morsi mereka sama-sama mendukung
tetapi dalam kasus Sudan pecah, Saudi mendukung militer Sudan (SAF), Uni
Emirate Arab mendukung RFS karena ada kepentingsn ekonomi dan penguasaan maritim,"
bebernya.
Lanjutnya, ia menambahkan bahwa Arab Saudi sekarang
sedang membuat perusahaan multinasional yang ingin menanamkan investasi di
wilayah Timur Tengah dan pusatnya di Arab Saudi.
“Langkah ini bagi Uni Emirate Arab sebagai peran Arab
Saudi untuk menggeser Dubai sebagai pusat ekonomi di Timur Tengah,” ulasnya.
"Nah, kemudian kenapa mereka terlibat
persengketaan di wilayah Sudan. Dan jalur laut Merah itu kan seperti jalur
perdagangan kontainer global. Laut Merah di situ ada siapa? ada Saudi ada Uni
Emirate Arab, dan Uni Emirate Arab begitu bersemangat membangun kekuatan maritim.
Tentu itu berbenturan dengan kepentingan Saudi dan sebagainya," paparnya.
"Jadi Sudan itu seperti menjadi negara bajakan
pertarungan aktor-aktor regional dan aktor-aktor internasional untuk
kepentingan sumber daya, maritim, geopolitik, dan Amerika juga bermain
disini," tutupnya.[] Taufan
