TintaSiyasi.id -- Berita pelajar bunuh diri kembali mencabik hati. Di Cianjur, siswa SD ditemukan meninggal tergantung (22/10/2025). Di Sukabumi, siswi MTs ditemukan tak bernyawa di rumahnya (28/10/2025). Di Sawahlunto, dua siswa SMP — Arif dan Bagindo — memilih mengakhiri hidup mereka di sekolah (17/10/2025).
Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, mengungkap data mencengangkan: dari sekitar 20 juta jiwa yang menjalani pemeriksaan kesehatan jiwa gratis, lebih dari dua juta anak Indonesia mengalami gangguan mental (Liputan6, 30/10/2025). Dua juta jiwa kecil yang terluka — sebagian tak tahu harus meminta tolong ke siapa. Ini bukan sekadar statistik, tapi jeritan generasi yang tumbuh di bawah sistem yang kehilangan arah.
Kita hidup di zaman ketika pendidikan sibuk mengejar angka, tapi kehilangan makna. Anak dijejali hafalan, rumus, dan target nilai, tapi tak tahu untuk siapa mereka belajar, dan kepada siapa mereka kembali. Sekolah menjadi pabrik nilai, bukan taman iman. Mereka belajar bagaimana lulus ujian, tapi tidak bagaimana bertahan ketika hidup menekan.
Sistem pendidikan sekuler telah mengubah arah pendidikan dari pembentuk manusia beriman menjadi pencetak sumber daya ekonomi. Ilmu dipisahkan dari iman, akal dipisahkan dari ruh, manusia diajarkan bahwa hidup ini soal kompetisi, bukan pengabdian. Maka ketika gagal memenuhi ekspektasi dunia, mereka merasa hidupnya tak layak diteruskan. Iman yang lemah bertemu tekanan yang kuat — hasilnya tragis.
Barat menunda kedewasaan hingga usia delapan belas tahun. Di situlah kesalahannya. Banyak anak sudah baligh, sudah menanggung taklif syar’i, tapi diperlakukan seperti anak kecil. Mereka tumbuh tanpa bimbingan akidah, tanpa pemahaman bahwa hidup bukan sekadar “menyenangkan diri”, tapi menunaikan amanah Allah. Ketika hati tak diisi iman, dunia yang keras akan mengosongkannya.
Kapitalisme memperparah luka itu. Ia memaksa manusia mengejar citra sempurna: kaya, cantik, sukses, viral. Anak-anak dipaksa melihat kebahagiaan sebagai milik mereka yang menang di panggung dunia. Media sosial mengukir luka baru: membandingkan, mempermalukan, merendahkan. Di tengah tekanan itu, agama hanya hadir satu jam seminggu — teori tanpa ruh.
Padahal Islam memiliki konsep pendidikan yang benar-benar memanusiakan manusia. Di bawah sistem Khilafah, pendidikan bukan industri, bukan proyek, apalagi ladang bisnis. Ia amanah negara untuk membentuk generasi beriman, berilmu, dan bertakwa. Tujuannya bukan menghasilkan pegawai, tapi melahirkan pemimpin.
Negara memastikan setiap anak dididik dengan akidah sebagai asas berpikir. Ilmu apapun — sains, sejarah, bahasa — tidak netral nilai. Semuanya ditautkan dengan iman, agar anak tahu: alam ini ciptaan Allah, hukum fisika adalah sunnatullah, dan tugas manusia bukan sekadar memahami dunia, tapi mengelolanya dengan syariat-Nya.
Guru bukan sekadar pengajar, tapi pembina jiwa. Di ruang kelas ada nasihat, doa, dan teladan. Pendidikan karakter tidak diajarkan lewat slogan, tapi melalui contoh hidup. Anak belajar shalat berjamaah, adab pada guru, tanggung jawab sosial, dan keberanian berkata benar. Sekolah menjadi tempat anak menemukan jati dirinya sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi.
Dalam sistem Islam, anak yang sudah baligh tidak disuruh menunggu “dewasa versi Barat”. Mereka dibimbing untuk berpikir matang, bertanggung jawab, dan siap menanggung konsekuensi amal. Mereka tak diajari “bebas sebebas-bebasnya”, tapi “merdeka dalam ketaatan”. Di situlah lahir kekuatan akhlak.
Negara Khilafah juga memastikan pendidikan gratis, agar anak tak terbebani kesenjangan ekonomi. Tidak ada “anak miskin gagal sekolah”, sebab ilmu hak semua umat. Lingkungan dijaga dari paparan perusak akidah: pornografi, kekerasan, nihilisme, hedonisme. Media diarahkan menanam nilai iman, bukan racun mental.
Hasilnya bukan sekadar siswa berprestasi, tapi generasi dengan keteguhan jiwa seperti para ilmuwan Islam — Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Al-Farabi, Al-Biruni. Mereka berpikir dengan akal, berjiwa dengan iman, berilmu tinggi namun tetap sujud rendah di hadapan Allah.
Krisis mental anak hari ini bukan krisis pribadi, tapi krisis peradaban. Kita hidup dalam sistem yang membunuh ruh perlahan. Anak-anak tidak kehilangan kemampuan berpikir, mereka kehilangan arah berpikir. Bukan kehilangan pengetahuan, tapi kehilangan tujuan.
Solusinya bukan menambah konselor atau jam “kesehatan mental”, tapi mengembalikan pendidikan kepada akar yang benar: iman sebagai dasar, syariat sebagai panduan, dan akhirat sebagai tujuan. Hanya dengan sistem seperti itu manusia menemukan makna hidup — bukan sekadar cara bertahan hidup.
Wallahu a’lam.
Oleh: Tuty Prihatini, Di.Hut.
Aktivis Muslimah Banua