Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Aktivis Malaysia: Dalam Sirah Terkandung Hukum Syarak

Minggu, 16 November 2025 | 05:20 WIB Last Updated 2025-11-15T22:29:01Z

TintaSiyasi.id -- Aktivis Dakwah Malaysia Hayati menyatakan bahwa di dalam sirah Rasulullah saw. terkandung hukum syarak.

 

“Sirah adalah perjalanan hidup Rasulullah. Artinya ketika kita menyebut sirah, itu akan membahas tentang riwayat hidup Nabi Muhammad saw., tetapi sebenarnya di dalam sirah itu terkandung hukum syarak,” ujarnya pada program Ukhuwwah Mahabbah Fillah, Senin (10/11/25).

 

Ia menjelaskan bahwa sirah Rasulullah sulit dipalsukan karena diriwayatkan melalui sanad, yaitu rantai periwayat yang terpercaya dan bersambung.

 

“Sirah itu sulit untuk dipalsukan karena sirah diambil melalui sanad-sanad tertentu, dan dalam sirah sebenarnya akan muncul hukum syarak,” katanya.

 

Menurutnya lagi, di dalam sirah Rasulullah saw. terdapat banyak peristiwa yang menjadi dasar bagi hukum syarak serta bagaimana Rasulullah melaksanakannya, seperti perintah untuk melaksanakan salat, jihad, dan sebagainya.

 

“Dalam peristiwa Isra Mikraj itu, apa hukum syaraknya? Salat. Ketika Nabi pergi berperang, apa hukum syarak yang ada di situ? Jihad. Itulah sebabnya sirah Rasulullah saw. seharusnya kita ketahui, karena dari situlah kita tahu dari mana datangnya hukum syarak,” ungkapnya.

 

Sebagai perbandingan, ia menjelaskan bahwa sirah tidak sama seperti sejarah, bahkan sirah lebih penting karena bukan sekadar peristiwa yang terjadi, tetapi mengandung pelajaran dan hukum syarak.

 

Ia menambahkan bahwa sejarah mudah dimanipulasi tergantung pada siapa yang menyampaikannya, di mana faktanya bisa diubah sesuai pandangan, kepentingan politik, atau keberpihakan kepada kelompok tertentu.

 

“Jadi sebenarnya sirah itu penting bagi umat Islam dibandingkan dengan sejarah. Contohnya sejarah Negeri Perak, Pasir Salak, J.W.W. Birch, Maharajalela, dan sebagainya. Sebenarnya fakta sejarah itu ada yang benar, ada yang tidak, tergantung pada siapa yang bercerita,” ungkapnya.

 

Ia melanjutkan, “Sejarah negara kita ada di perpustakaan di London. Bayangkan, sejarah kita diceritakan oleh orang Inggris. Kira-kira apa yang mereka sampaikan? Tentu saja mereka yang benar, kita yang salah. Kalau dari pihak kita, tentu kita yang benar dan menganggap orang Inggris itu penjajah, bukan begitu? Jadi sejarah itu hal yang bisa dimanipulasi tergantung siapa yang berbicara,” jelasnya.

 

Ia kemudian menerangkan pentingnya sirah dan pelajaran yang dapat diambil dari kisah Perang Mu’tah yang menjadi jalan pembuka tersebarnya dakwah Islam ke luar Jazirah Arab. Dari peristiwa ini juga terbukti kehebatan iman, keberanian, dan ketaatan para sahabat kepada Allah dan Rasul-Nya.

 

“Perang Mu’tah terjadi pada tahun 8 Hijriah. Perang inilah pembuka bagi penyebaran wilayah Islam ke luar Jazirah Arab. Apakah peristiwa itu hanya untuk diketahui saja? Jawabannya tidak. Lalu, mengapa tiga sahabat yang tahu mereka akan mati tetap pergi berperang? Karena ingin mempertahankan Islam, ingin berjihad. Itu semua adalah hukum syarak,” katanya.

 

Sebagai kesimpulan, ia menyeru para hadirin untuk meneladani keimanan para sahabat.

 

“Teladanilah para sahabat terdahulu, karena dengan keimanan mereka itulah Islam sampai kepada kita. Beruntunglah umat Nabi Muhammad, siapa pun yang mengucapkan Laa ilaha illallah Muhammadur Rasulullah, maka ia akan masuk surga,” pungkasnya.[] Rahmah

Opini

×
Berita Terbaru Update