“Sirah adalah perjalanan hidup
Rasulullah. Artinya ketika kita menyebut sirah, itu akan membahas tentang
riwayat hidup Nabi Muhammad saw., tetapi sebenarnya di dalam sirah itu
terkandung hukum syarak,” ujarnya pada program Ukhuwwah Mahabbah Fillah,
Senin (10/11/25).
Ia menjelaskan bahwa sirah Rasulullah
sulit dipalsukan karena diriwayatkan melalui sanad, yaitu rantai periwayat yang
terpercaya dan bersambung.
“Sirah itu sulit untuk dipalsukan
karena sirah diambil melalui sanad-sanad tertentu, dan dalam sirah sebenarnya
akan muncul hukum syarak,” katanya.
Menurutnya lagi, di dalam sirah
Rasulullah saw. terdapat banyak peristiwa yang menjadi dasar bagi hukum syarak
serta bagaimana Rasulullah melaksanakannya, seperti perintah untuk melaksanakan
salat, jihad, dan sebagainya.
“Dalam peristiwa Isra Mikraj itu, apa
hukum syaraknya? Salat. Ketika Nabi pergi berperang, apa hukum syarak yang ada
di situ? Jihad. Itulah sebabnya sirah Rasulullah saw. seharusnya kita ketahui,
karena dari situlah kita tahu dari mana datangnya hukum syarak,” ungkapnya.
Sebagai perbandingan, ia menjelaskan
bahwa sirah tidak sama seperti sejarah, bahkan sirah lebih penting karena bukan
sekadar peristiwa yang terjadi, tetapi mengandung pelajaran dan hukum syarak.
Ia menambahkan bahwa sejarah mudah
dimanipulasi tergantung pada siapa yang menyampaikannya, di mana faktanya bisa
diubah sesuai pandangan, kepentingan politik, atau keberpihakan kepada kelompok
tertentu.
“Jadi sebenarnya sirah itu penting
bagi umat Islam dibandingkan dengan sejarah. Contohnya sejarah Negeri Perak,
Pasir Salak, J.W.W. Birch, Maharajalela, dan sebagainya. Sebenarnya fakta
sejarah itu ada yang benar, ada yang tidak, tergantung pada siapa yang
bercerita,” ungkapnya.
Ia melanjutkan, “Sejarah negara kita
ada di perpustakaan di London. Bayangkan, sejarah kita diceritakan oleh orang
Inggris. Kira-kira apa yang mereka sampaikan? Tentu saja mereka yang benar,
kita yang salah. Kalau dari pihak kita, tentu kita yang benar dan menganggap
orang Inggris itu penjajah, bukan begitu? Jadi sejarah itu hal yang bisa
dimanipulasi tergantung siapa yang berbicara,” jelasnya.
Ia kemudian menerangkan pentingnya
sirah dan pelajaran yang dapat diambil dari kisah Perang Mu’tah yang menjadi
jalan pembuka tersebarnya dakwah Islam ke luar Jazirah Arab. Dari peristiwa ini
juga terbukti kehebatan iman, keberanian, dan ketaatan para sahabat kepada
Allah dan Rasul-Nya.
“Perang Mu’tah terjadi pada tahun 8
Hijriah. Perang inilah pembuka bagi penyebaran wilayah Islam ke luar Jazirah
Arab. Apakah peristiwa itu hanya untuk diketahui saja? Jawabannya tidak. Lalu,
mengapa tiga sahabat yang tahu mereka akan mati tetap pergi berperang? Karena
ingin mempertahankan Islam, ingin berjihad. Itu semua adalah hukum syarak,”
katanya.
Sebagai kesimpulan, ia menyeru para
hadirin untuk meneladani keimanan para sahabat.
“Teladanilah para sahabat terdahulu,
karena dengan keimanan mereka itulah Islam sampai kepada kita. Beruntunglah
umat Nabi Muhammad, siapa pun yang mengucapkan Laa ilaha illallah Muhammadur
Rasulullah, maka ia akan masuk surga,” pungkasnya.[] Rahmah
