Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Zionis Yahudi Kembali Mengepung Gaza Tentara Islam Dinanti

Rabu, 01 Oktober 2025 | 09:13 WIB Last Updated 2025-10-01T02:13:25Z

TintaSiyasi.id -- Pemadaman listrik, internet, telekomunikasi putus bukan sekadar masalah teknis, melainkan konsekuensi langsung dari strategi militer Israel yang menargetkan infrastruktur penting, termasuk jalur komunikasi utama. Dalam kondisi tersebut ribuan tank dikerahkan untuk mengepung warga sipil. Upaya pengosongan wilayah Gaza dilakukan dengan membuka jalur evakuasi Salah al-Din, pada Kamis (18/9/2025).

Tedros Adhanom Ghebreyesus selaku kepala WHO mengatakan, pada Kamis seperti dilansir Al Jazeera bahwa serangan Israel, yang saat ini berpusat di Kota Gaza, "menimbulkan gelombang pengungsian baru, memaksa keluarga-keluarga yang trauma ke wilayah yang semakin menyempit dan tidak layak huni".

Sekalipun negara-negara di dunia mengecam dan mengembargo, Israel tetap bergeming. Belgia menerapkan larangan impor dari Israel. Spanyol mengubah embargo senjata de facto yang berlaku saat ini menjadi undang-undang, dan melarang kapal dan pesawat yang membawa senjata ke Israel untuk berlabuh di pelabuhan Spanyol atau memasuki wilayah udaranya. Norwegia akan melakukan divestasi dari perusahaan -perusahaan yang terdaftar di Israel. Eropa, akan memberi sanksi kepada menteri dan menangguhkan elemen perdagangan dari perjanjian dengan Israel. Di Hollywood, surat penyeruan boikot terhadap perusahaan, festival, dan penyiaran Israel, telah ditandatangani oleh lebih dari 4.000 orang dalam sepekan. Demikian juga di bidang olahraga (balap sepeda dan catur).

Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB untuk Wilayah Palestina yang Diduduki mengonfirmasi bahwa Israel telah melakukan genosida di Gaza. Bahkan, sekjen PBB mengingatkan Dunia tak boleh terintimidasi oleh Israel.

Propaganda Jalur Evakuasi

Seluruh jalur akses untuk koordinasi, kedaruratan, bantuan, berita, dibungkam secara total untuk melumpuhkan Gaza.Tujuan mereka mendesak warga sipil untuk migrasi dan mengosongkan Gaza.Pada kenyataannya, kondisi di jalur evakuasi maupun lokasi tujuan tidak menjamin keselamatan ataupun kehidupan layak bagi warga Gaza. Banyak pengungsi yang tetap menghadapi kekurangan pangan, air bersih, obat-obatan, serta risiko serangan di wilayah yang diklaim sebagai zona aman.

Sebenarnya Jalur evakuasi salah satu jalan mempercepat agenda Israel untuk menguasasi wilayah strategis dari populasi sipil. Bagi warga Gaza sendiri, tawaran evakuasi ini adalah dilema pahit. Sebagian terpaksa meninggalkan rumah mereka meskipun tidak tahu harus menuju ke mana. Bagi mereka, Jalur Evakuasi ini mungkin hanyalah koridor menuju ketakpastian, bukan jaminan keselamatan.

Di sisi lain negara-negara di dunia melakukan boikot internasional terhadap Israel, namun sampai saat ini, hal itu tidak mengubah keadaan di Gaza. Israel tetap bergeming dengan gelombang boikot, karena Israel telah menetapkan tujuan akhirnya mereka yaitu membangun Negara Israel Raya dengan menjadikan Palestina sebagai pusat kekuasaannya.

Untuk mewujudkan tujuan akhirnya, Israel didukung penuh oleh negara no 1 dunia yaitu Amerika Serikat, tempat di mana para kapitalis dunia yang terafiliasi kepada gerakan zionis.

Dalam sistem kapitalisme, boikot hanya lipstik politik, Kerja sama dengan Yahudi tetap berjalan secara rahasia selama masih menguntungkan bagi mereka.

Tentara Islam Sangat Dinanti

Keyakinan atas pertolongan Allah SWT ini harus dibarengi dengan upaya strategis berupa pengiriman militer. Menghadapi Zion*s tidak bisa sekadar dengan gencatan senjata,apalagi perdamaian. Juga mustahil dengan sikap politik yang berpusat di AS dan ideologi kapitalismenya. Ketegasan negeri-negeri Muslim untuk mengirimkan militer sejatinya akan dapat terwujud sempurna di bawah satu komando kepemimpinan Islam di tangan khalifah, yakni di dalam naungan sistem Islam (khilafah).

Kejahatan perang Israel tak akan berhenti hanya dengan kecaman saja butuh aksi nyata untuk pembebasan Gaza. Kekuatan militer adalah salah satu sumber utama kekuatan sebuah negara karena militer adalah kekuatan yang secara fisik akan melindungi, mempertahankan, serta membantu penyebarluasan berbagai pemikiran yang diemban oleh negara ke seluruh penjuru dunia. Pemboikotan saja tidak akan menghasilkan kebebasan bagi Gaza.Hanya Khilafah 'ala minhajinubuwah yang akan mampu melumpuhkan Israel dan membebaskan Gaza, Palestina dan seluruh manusia dari makar jahat kaum zionis Israel.

Kehadiran tentara Islam di bawah komando khalifah sangat dinantikan. Khalifah masuk ke dalam kewajiban jihad yang hukumnya fardu, baik ada khalifah bagi kaum Muslim maupun tidak ada khalifah, termasuk saat melawan Zion*s di tanah Palestina. Umat harus bangkit dan bersatu untuk mengembalikan khilafah sebagai perisai umat dan membebaskan Palestina dari cengkeraman Israel. Allah jelaskan dalam QS Al-Maidah ayat 82 yang artinya, "Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik". Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Fitri Susilowati
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update