Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tentara Islam Sangat Dinanti di Gaza

Rabu, 01 Oktober 2025 | 09:55 WIB Last Updated 2025-10-01T02:55:31Z

TintaSiyasi.id -- Agresi Zionis kian berlanjut, pemadaman listrik, internet, telekomunikasi putus total di Gaza sejak 18 September 2025. Dilansir www.ribunnews.com pelumpuhan akses internet ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan strategi nyata militer Israel yang menargetkan infrastruktur inti, termasuk jalur komunikasi utama. Dampak yang sangat besar di rasakan warga sipil, membuat keluarga terpisah tanpa kabar, lembaga kemanusiaan yang kesulitan memantau korban, dan rumah sakit terhambat berkoordinasi dalam mengevakuasi pasien. 

Mengingat pengumuman penguasaan Gaza atas Israel pada 10 Agustus, mendesak ratusan ribu warga sipil untuk migrasi dan mengosongkan Gaza. Demi mempercepat migrasi, militer Israel umumkan pembukaan jalur Salah al-Din setelah adanya serangan darat besar-besaran pada Selasa (16/9). Kenyataannya, pengumuman pembukaan jalur Salah al-Din bagai janji manis atas embel-embel kebohongan, yang ada kondisi jalur evakuasi maupun lokasi tujuan tidak menjamin keselamatan ataupun kehidupan layak. Banyak pengungsi yang tetap menghadapi kekurangan pangan, air bersih, obat-obatan, serta rentan serangan di wilayah yang diklaim sebagai zona nyaman. Hal ini hanya propaganda Israel untuk mengosongkan wilayah strategis dari populasi sipil. 

Gelombang boikot internasional terhadap Israel, hingga sampai saat ini, tidak mengubah keadaan di Gaza. Membuktikan bahwa itu hanyalah lipstik politik. Oleh karenanya Israel akan tetap bergeming dengan gelombang boikot, demi meraih tujuan akhirnya dalam protokol zionis, yaitu membangun negara Israel raya dengan menjadikan palestina sebagai pusat kekuasaannya. Pemutusan akses informasi yang ada di Gaza tidak lain bak stategi busuk untuk menutup kebiadaban mereka dengan membungkam media dan memutus jaringan komunikasi dengan harapan, dunia tidak melihat penderitan sadis rakyat gaza. Dengan ini, secara sadar mereka mengakui kebiadaban yang mereka lakukan tidak bisa dibenarkan, maka harus di sembunyikan dari publik global.

Untuk mewujudkan tujuan akhirnya, Israel didukung penuh oleh negara adidaya nomor satu di dunia, yaitu Amerika Serikat, tempat dimana para kapitalis dunia yang terafiliasi dengan gerakan zionis. Dukungan ini menjadikan konflik Gaza bukan sekedar isu kemanusiaan, melainkan bagian dari perebutan kepentingan dari ideologi global (ideologi kapitalisme). Dalam sistem kapitalisme, boikot terhadap Israel seringkali hanya sebatas lipstik politik, karena pada kenyataanya kerja sama dengan pihak Yahudi tetap berjalan, baik secara terbuka maupun secara rahasia, selama masih dianggap menguntungkan. 

Dengan demikian, kejahatan perang Israel yang makin brutal dan menggila ini, tak akan berhenti hanya dengan kecaman, perdamaian atau sebagainya. Butuh solusi yang tepat tidak cukup dengan diplomasi atau mengandalkan lembaga internasional yang sejak awal terbukti tidak berpihak. Salah satu jalan adalah dengan mengerahkan kekuatan nyata umat Islam dalam satu persatuan dibawah satu komando yakni khalifah. 

Sesungguhnya imam atau Khalifah adalah perisai (junnah), orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung. Jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah SWT. dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya, ia harus bertanggung jawab atasnya.” (HR. Muslim).

Maka peperangan melawan zionis ini hanya bisa efektif jika dipimpin oleh entitas politik mewakili seluruh umat Islam yakni Khilafah. Di mana khilafah bukan sekedar ideologi, melainkan kebutuhan mendesak untuk melindungi darah, kehormatan dan tanah kaum Muslim serta melawan penjajah dengan peperangan (jihad). Karena Gaza dan Palestina hanya akan benar-benar terbebas dari penjajahan ketika ada persatuan umat yang membentuk kekuatan militer dan dipimpin oleh komando politik yang sah yakni jihad fii sabilillah di bawah kepemimpinan seorang khalifah. 

Karenanya jihad dalam Islam menjadi sebuah kewajiban kolektif yang membutuhkan struktur strategis dan legitimasi dari pimpinan yang ditetapkan untuk seluruh umat, maka dari itu umat harus memiliki kesadaran penuh untuk mengembalikan perisai mereka yang hilang, sebab tanpa perisai ini umat Islam akan terus terpecah belah, lemah dan hanya bisa menyaksikan penderitaan saudaranya tanpa mampu memberikan perlindungan nyata.

Bercermin di sepanjang sejarah Islam, bahwa Yahudi adalah kaum yang paling keras permusahannya kepada kaum muslimin. Allah SWT menjelaskan dalam QS. Al-Maidah : 82.
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik”. 

Dengan begitu, kebebasan Gaza tidak bisa dengan pencukupan pada boikot, butuh aksi nyata perlawanan yang terstruktur dengan jihad fii sabilillah dalam gerakan politik khilafah ‘ala minhajinubuwah. []


Tsabitah Dien Nadiyah
Aktivis Muslimah

Opini

×
Berita Terbaru Update