Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Rasa Syukur dan Berpikir Positif: Terapi Ampuh untuk Kegalauan Hati

Rabu, 01 Oktober 2025 | 05:39 WIB Last Updated 2025-09-30T22:39:34Z


TintaSiyasi.id -- Pendahuluan

Hidup tidak pernah lepas dari masalah, ujian, dan rasa gelisah. Ada kalanya hati dipenuhi keresahan: cemas akan masa depan, menyesali masa lalu, atau merasa tertekan dengan keadaan saat ini. Namun, Islam memberikan obat yang indah bagi hati yang galau, yakni syukur dan berpikir positif (husnuzan). Dua hal ini bukan hanya amalan lisan dan pikiran, tetapi juga terapi ruhani yang dapat menyehatkan jiwa.

Syukur sebagai Cahaya Penentram Hati

Syukur berarti menyadari, mengakui, dan memuji nikmat Allah dalam setiap keadaan. Hati yang bersyukur tidak sibuk menghitung kekurangan, tetapi sibuk menikmati karunia yang sudah ada.

Al-Qur’an menegaskan:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu kufur, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

(QS. Ibrahim: 7)

Syukur mampu merubah kegalauan menjadi ketenangan, sebab hati menyadari bahwa nikmat Allah jauh lebih banyak dibandingkan masalah yang dihadapi.

Cara praktis bersyukur:

1. Ucapkan Alhamdulillah setiap selesai aktivitas.

2. Catat tiga nikmat setiap malam sebelum tidur.

3. Bantu orang lain sebagai bentuk syukur atas kelapangan yang dimiliki.

Berpikir Positif (Husnuzan) sebagai Penyejuk Jiwa

Kegalauan sering muncul karena pikiran dipenuhi prasangka buruk: takut gagal, takut ditinggalkan, atau merasa tidak mampu. Padahal, berpikir positif kepada Allah dan kehidupan akan membuka ruang ketenangan.

Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis qudsi:

“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.” (HR. Bukhari & Muslim).

Artinya, jika kita berprasangka baik kepada Allah, maka Dia akan memberikan jalan kebaikan.

Cara praktis berpikir positif:

1. Ganti kalimat negatif menjadi afirmasi positif: “Aku tidak bisa” → “Dengan izin Allah, aku bisa belajar.”

2. Fokus pada solusi, bukan hanya masalah. 

3. Yakini bahwa setiap ujian adalah jalan menuju kemuliaan.

Kombinasi Syukur dan Pikiran Positif: Terapi Hati yang Sempurna

Jika syukur menenangkan hati, maka berpikir positif menguatkan langkah. Keduanya adalah pasangan yang saling melengkapi. Dengan syukur, kita mampu menerima keadaan; dengan berpikir positif, kita mampu melangkah maju.

 Contoh nyata:

 Saat kehilangan pekerjaan, syukur: masih diberi kesehatan, keluarga, dan peluang baru. Pikiran positif: Allah sedang menyiapkan rezeki yang lebih baik. 

Saat diuji sakit, syukur: Allah memberi kesempatan menghapus dosa. Pikiran positif: setiap sakit ada hikmah dan doa yang mustajab.

Kesimpulan

Kegalauan hati bukan untuk diratapi, tetapi untuk diobati. Terapi terbaik bukan sekadar hiburan duniawi, melainkan syukur yang tulus dan pikiran positif yang penuh harapan. Dengan keduanya, hati yang semula resah akan menjadi lapang, jiwa yang semula gelisah akan menjadi tenang, dan hidup terasa lebih indah dijalani.

Mari biasakan bersyukur dalam setiap keadaan, dan tanamkan prasangka baik dalam setiap langkah. Sebab, hati yang penuh syukur dan pikiran yang positif adalah kunci kebahagiaan sejati.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo. Tour Leader  Chatour Travel)

Opini

×
Berita Terbaru Update