TintaSiyasi.id -- Asap mengepul di atas permukiman warga akibat serangan Zionis Israel yang terus memborbardir Gaza, Palestina, pada Sabtu, 27 September 2025. Serangan dan tembakan Israel menewaskan sebanyak 38 orang Gaza. Serangan udara di Gaza Tengah dan juga Utara, menargetkan rumah-rumah warga pada dini hari. Termasuk menewaskan sembilan orang dari keluarga yang sama di sebuah rumah di Kamp pengungsi Nuseirat. Serangan terbaru ini terjadi hanya beberapa jam setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dalam pidato menantang di Sidang Umum PBB pada Jumat kemarin, menegaskan bahwa negaranya 'harus menuntaskan pekerjaan' melawan Hamas di Gaza. Tekanan internasional terhadap Israel untuk mengakhiri perang semakin meningkat, seiring bertambahnya daftar negara yang baru-baru ini mengakui negara Palestina. Namun pemimpin Israel tetap bersikeras melanjutkan perang. Israel terus melanjutkan operasi darat besar lainnya di Kota Gaza yang semakin memperparah krisis kelaparan. Lebih dari 300.000 orang telah mengungsi. Namun 700.000 warga masih bertahan karena tidak mampu meninggalkan kota tersebut. (Metrotvnews.com, 28 September 2025)
Akses koordinasi, kedaruratan, bantuan serta berita sengaja dibungkam untuk melumpuhkan Gaza. Diketahui, bersamaan dengan kondisi tersebut, unit lapisan baja, infanteri dan artileri dikerahkan untuk mengepung dan mendorong warga sipil untuk mengosongkan wilayah Gaza. Upaya pengosongan wilayah tersebut, dilakukan dengan membuka jalur evakuasi Salah al-Din. Dengan adanya jalur evakuasi, Israel berupaya menunjukkan seolah mereka memberikan jalan yang aman bagi warga Gaza. Padahal nyatanya, kondisi di jalur evakuasi tidak menjamin keselamatan dan kehidupan yang layak bagi warga Gaza.
Beberapa negara di dunia telah mengecam dan mengembargo Israel, namun Israel tetap tidak bergeming dan terus melanjutkan upayanya untuk menguasai Palestina. Belgia telah menangguhkan izin ekspor amunisi ke Israel. Spanyol telah menetapkan bahwa negara itu tidak akan memasok senjata apa pun ke Israel, dan akan melarang kapal-kapal yang membawa senjata ke Israel untuk berlabuh di pelabuhan - pelabuhan Spanyol atau memasuki wilayah udaranya. Kanada menangguhkan 30 izin penjualan senjata ke Israel dan membatalkan kontrak dengan perusahaan AS yang menjual amunisi buatan Kanada kepada militer Israel. Di Hollywood, surat penyeruan boikot pada perusahaan, festival, dan penyiaran Israel, telah ditanda tangani oleh lebih dari 4.000 orang dalam sepekan. Pada kenyataannya, gelombang boikot internasional yang terjadi, tidak mengubah kondisi di Gaza sampai saat ini. Israel tetap melancarkan serangannya, dan melanjutkan tujuannya untuk membangun Negara Israel Raya dengan menjadikan Palestina sebagai pusat kekuasaannya.
Selama sistem kapitalisme yang masih diterapkan, kejahatan perang Israel akan terus berlanjut, tidak akan berhenti hanya dengan kecaman. Kerja sama dengan Yahudi tetap berjalan secara rahasia selama masih menguntungkan.
Jika hanya pemboikotan saja yang dilakukan, tidak akan berhasil untuk membebaskan Palestina. Yang dibutuhkan saat ini adalah kehadiran tentara Islam di bawah komando khalifah. Penguasa negeri muslim dan umat harus bersatu untuk mengembalikan khilafah yang akan menjadi perisai umat dan membebaskan Palestina. Karena hanya khilafah ‘ala minhajin nubuwah yang mampu membebaskan Palestina dan negeri – negeri Muslim lainnya yang masih dijajah. []
Annisa Evendi
Aktivis Dakwah