Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Lonely In The Crowd, Produk Gagal Industri Kapitalisme

Rabu, 01 Oktober 2025 | 10:28 WIB Last Updated 2025-10-01T03:28:40Z

TintaSiyasi.id -- Media sosial bukanlah hal baru di era sekarang ini. Global Digital Reports dari Data Reportal bahkan melaporkan ada 5,25 miliar orang yang aktif di media sosial. Uniknya, perasaan terhubung ini tidak menghilangkan perasaan sepi. Linimasa yang dipenuhi video hiburan dan kisah personal masih membuat banyak pengguna merasa terasing dari dunia nyata.

Fenomena ini menarik perhatian mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Mereka kemudian melakukan riset berjudul "Loneliness in the Crowd: Eksplorasi Literasi Media Digital pada Fenomena Kesepian di TikTok melalui Konfigurasi Kajian Hiperrealitas Audiovisual".

Fifin Anggela Prista, ketua tim riset, menjelaskan Menurut teori hiperrealitas, representasi digital kerap dianggap lebih 'nyata' daripada realitas itu sendiri, sehingga emosi yang dibentuk media dapat memengaruhi kesehatan mental dan hubungan sosial seseorang,". (Detikedu, 18 September 2025)

Lonely in the crowd merupakan salah satu penyakit psikologis yang menggambarkan perasaan kesepian atau isolasi meskipun berada ditengah-tengah kerumunan orang. Padahal tingkat sepi paling mengerikan adalah sepi dalam keramaian. Pada dasarnya Media sosial diciptakan untuk mempertemukan dan menghubungkan antara manusia, namun justru media sosial menciptakan ilusi koneksi.

Fenomena masyarakat di era digital saat ini banyak yang merasa kesepian di tengah hiruk-pikuk bermedia sosial bukan tanpa alasan karena media sosial cenderung menghasilkan hubungan yang cepat yang menjadikan kurangnya interaksi tatap muka yang mendalam akhirnya merubah gaya hidup yang lebih individualistik. Namun Gen Z disebut generasi yang paling merasa kesepian, insecure bahkan mengalami kesehatan mental, semua ini tentu bukan sekedar persoalan kurangnya literasi digital dan manajemen penggunaan gawai.

Faktanya justru industri kapitalis yang telah membuat arus di sosial media menimbulkan dampak buruk, membuat seseorang kurang memiliki motivasi untuk berinteraksi dengan orang lain dan cenderung menarik diri dari lingkungan sosial karena lebih nyaman sendirian sehingga masyarakat sulit bergaul di dunia nyata. Bahkan, di tengah keluarga pun pola hubungan diantara anggota keluarga terasa jauh.

Sungguh sikap asosial dan perasaan kesepian akan berdampak buruk dan sangat merugikan umat karena menghilangkan sifat manusia sebagai makhluk sosial yang saling berinteraksi secara langsung. Terlebih bagi generasi muda yang mempunyai potensi besar untuk menghasilkan karya-karya produktif, namun akibat fenomena lovely in the crowd generasi muda justru akan menjadi generasi yang lemah tak berdaya, akibatnya rasa kepedulian terhadap persoalan umat akan hilang, mereka tidak akan mampu melihat problematika yang dihadapi umat, mereka hanya terjebak pada masalah-masalah pribadi yang tak kunjung ada solusi.

Masyarakat harus menyadari bahwa pengaruh media sosial yang tidak dikelola dengan bijak akan menjadikan banyak orang makin asosial dan merasa kesepian di tengah keramaian, sungguh fenomena ini akan merugikan umat, terlebih generasi muda karena kesepian yang berkepanjangan dapat meningkatkan risiko depresi, stres, dan kecemasan. Dalam kondisi seperti ini peradaban Islam tidak akan pernah terwujud.

Sudah saatnya kembali ke sistem Islam secara Kaffah, karena Islam adalah pondasi dan identitas utama bagi umat Islam, dengan sistem Islam masyarakat tidak terus menerus terjebak dalam sistem sekuler liberal, yang jelas akan menjauhkan umat dari kebangkitan hakiki. Masyarakat harus segera memutus mata rantai sistem jahiliah ini yang terbukti menjerumuskan manusia ke jurang kesengsaraan.

Hanya sistem Islam yang mampu menyelesaikan segala persoalan umat, karena dalam Islam negara atau Khilafah memiliki peran yang sangat penting dalam mengendalikan penggunaan dunia digitalisasi. Khilafah akan mengendalikan serta memanfaatkan dunia digital guna mendorong masyarakat khususnya generasi muda agar tetap produktif dan berkontribusi sehingga mampu dalam menyelesaikan tantangan kedepannya termasuk mampu memecahkan seluruh problematika yang dihadapi umat.

Wallahu a’lam bishshawab. []


Oleh: Nur Afrida
Aktivis Muslimah

Opini

×
Berita Terbaru Update