TintaSiyasi.id -- Kapitalisme sekuler-liberal telah menunjukkan wajah aslinya yang penuh kerusakan, ketidakadilan, dan kebuntuan solusi. Ideologi ini menempatkan materi sebagai standar kebahagiaan, sembari mengabaikan aspek spiritual yang menjadi kebutuhan dasar manusia. Alhasil, kehidupan sosial dipenuhi penyakit kronis yang tak pernah terselesaikan.
Sekularisme Liberal dan Hilangnya Nurani
Sekularisme liberal mengusung paham bahwa agama cukup disimpan di ruang pribadi, sementara urusan publik harus steril dari nilai-nilai ketuhanan. Padahal, dari sinilah lahir berbagai kerusakan. Nilai persaudaraan, tolong-menolong, dan amanah terkikis, digantikan egoisme, kebohongan, dan rasa saling curiga.
Contoh paling gamblang adalah sikap Amerika Serikat, simbol kapitalisme global. Alih-alih berempati pada penderitaan rakyat Gaza, negeri ini justru menjadi pemasok utama senjata dan dana bagi Zion*s. Seolah nyawa manusia di Palestina tak ada harganya. Rasa kemanusiaan terkubur, diganti kalkulasi untung-rugi politik.
Demokrasi: Janji Manis yang Beracun
Politik demokrasi yang diagung-agungkan Barat juga tak lebih dari panggung sandiwara. Samuel Huntington dalam The Third Wave menjelaskan bagaimana demokratisasi diekspor ke berbagai negara demi menjaga dominasi Barat. Namun realitasnya, demokrasi lebih sering menjadi alat hegemoni modal ketimbang alat rakyat.
Laporan The Guardian (6 Juni 2012) berjudul British Democracy in Terminal Decline menyingkap rapuhnya demokrasi. Ada tiga gejala, dominasi korporasi atas keputusan publik, politisi yang sibuk mengeruk keuntungan pribadi, serta apatisme rakyat karena jenuh dengan janji palsu. Fenomena ini bukan monopoli Inggris, tetapi berlaku hampir di seluruh dunia.
Standar ganda pun terang-benderang. Ingat pembatalan kemenangan FIS di Aljazair (1992) hanya karena dianggap mengancam ideologi Barat? Atau kudeta Jenderal as-Sisi di Mesir (2013) yang menyingkirkan Presiden Mursi yang sah? Barat justru mendukung penuh. Jadi, demokrasi bukanlah kedaulatan rakyat, melainkan kedaulatan pemodal.
Praktiknya juga busuk. Pemilu identik dengan politik uang, suap, dan kolusi. Elite politik makin kaya, rakyat makin sengsara. Demokrasi ternyata hanya pintu mewah bagi segelintir orang untuk merampas hak mayoritas.
Islam Adalah Rahmat yang Hilang dari Dunia
Kapitalisme gagal menghadirkan keadilan. Islam justru hadir sebagai rahmat bagi semesta alam. Allah Swt. berfirman, “Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (TQS. Al-Anbiya: 107).
Sejarah membuktikan, Rasulullah Saw. berhasil mendirikan Daulah Islam di Madinah pada tahun 622 M. Dari sanalah visi peradaban Islam terwujud. Dengan khilafah, rahmat Islam menyebar hingga ke berbagai penjuru dunia.
Sejarawan Barat, Will Durant, dalam The Story of Civilization mengakui peradaban Islam sebagai penjamin keamanan, kesejahteraan, dan ilmu pengetahuan. Selama lima abad, Asia Barat menjadi pusat peradaban dunia. Ekonomi maju pesat tanpa pajak mencekik.
Pada masa Abdurrahman III, pendapatan negara menembus lebih dari 12 juta dinar emas. Kesehatan pun dijamin, rumah sakit dibangun untuk melayani rakyat secara gratis, seperti Bimaristan Nuruddin di Damaskus yang bertahan tiga abad.
Bahkan, Barack Obama (4 Juni 2009) mengakui, Islam telah menyalakan lentera ilmu selama berabad-abad hingga melahirkan renaisans di Eropa. Fakta ini menampar tuduhan bahwa Islam adalah agama keterbelakangan.
Semua capaian luar biasa itu tak lepas dari keberadaan Khilafah Islam. Daulah ini menjadikan akidah sebagai ideologi dan syariat sebagai hukum. Tanpa khilafah, mustahil Islam menebar rahmat dalam skala global.
Para ulama sepakat atas kewajiban mendirikan khilafah. Dr. Mahmud al-Khalidi menegaskan, “Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslimin untuk menerapkan syariat dan mengemban dakwah.” (Al-Khalidi, Qawâ’id Nizhâm al-Hukm fî al-Islâm, hlm. 226).
Allah Swt. berfirman, “Terapkanlah hukum di tengah mereka dengan apa yang Allah turunkan dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka.” (TQS. Al-Maidah: 49).
Imam Al-Qurthubi menegaskan kewajiban mengangkat seorang khalifah sebagai konsensus umat. Imam Al-Mawardi dari mazhab Syafii menambahkan, kewajiban ini berdasar ijmak sahabat. Bahkan ulama Nusantara, K.H. Sulaiman Rasjid, menyatakan menegakkan khilafah adalah fardu kifayah bagi kaum Muslim.
Dunia Butuh Arah Baru Yaitu Sistem Islam
Kapitalisme yang rusak sudah berada di ambang kehancuran. Dunia butuh arah baru. Islam dengan khilafah adalah satu-satunya sistem yang terbukti adil dan solutif.
Sejak runtuhnya khilafah (1924), umat Islam terombang-ambing dalam arus kapitalisme. Kini saatnya mereka bangkit.
Tentu jalan ini penuh tantangan. Akan ada hinaan, tuduhan, bahkan tekanan. Namun dakwah untuk menegakkan khilafah adalah kewajiban syar’i. Nabi Saw. telah bersabda,
“Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian... Lalu akan ada kembali Khilafah yang mengikuti minhaj kenabian.” (HR Ahmad, Abu Dawud ath-Thayalisi, dan Al-Bazzar)
Hadis ini adalah janji, dan janji Allah serta Rasul-Nya pasti benar. Kapitalisme menuju kehancuran. Khilafah akan kembali, membawa rahmat bagi dunia yang haus keadilan.
Bayangkan, sob, jika dunia terus dipaksa hidup dalam kapitalisme. Rakyat jelata semakin sulit makan, keadilan makin mahal harganya, perang terus dipelihara demi industri senjata, dan krisis kemanusiaan tak pernah berakhir. Apa yang tersisa dari rasa kemanusiaan jika semua diukur dengan untung-rugi?
Sebaliknya, jika dunia kembali pada Islam kaffah dengan sistem khilafah, maka rahmat akan kembali menyelimuti. Keadilan ditegakkan tanpa tebang pilih, kekayaan alam dikelola untuk kesejahteraan rakyat, dan nyawa manusia dijaga dengan penuh hormat. Inilah peradaban yang pernah ada, dan insyaAllah akan kembali. Karena janji Allah itu pasti, dan Islam adalah solusi hakiki bagi dunia yang terluka. []
Nabila Zidane
Jurnalis