TintaSiyasi.id -- Fenomena baru melanda dunia kerja: job hugging. Jika dulu orang muda identik dengan job hopping—pindah-pindah kerja untuk mencari pengalaman dan kenaikan gaji—kini justru banyak yang memilih “memeluk” pekerjaannya. Mereka bertahan meski sudah kehilangan minat dan motivasi.
Detik melaporkan, “Fenomena ini makin marak di tengah situasi pasar kerja yang penuh ketidakpastian. Para pekerja merasa lebih aman bertahan di tempat lama daripada harus ambil risiko pindah kerja” (detikFinance, 20/9/2025). CNBC bahkan mencatat, tingkat pekerja yang keluar dari pekerjaannya hanya 2% dalam beberapa bulan terakhir—terendah sejak 2016.
Guru Besar UGM menyebut, job hugging terjadi karena ketidakpastian pasar kerja. Banyak lulusan perguruan tinggi akhirnya terjebak, demi keamanan finansial dan stabilitas. Mereka lebih memilih bekerja asal ada, daripada menganggur sebagai intelektual tanpa pemasukan.
Kapitalisme Penyebab Utama
Fenomena job hugging bukan sekadar soal preferensi pribadi, melainkan buah pahit dari sistem kapitalisme global. Sistem ini telah gagal menjamin lapangan pekerjaan bagi rakyat. Negara tidak hadir sebagai penanggung jawab utama, justru melegalkan sumber daya hanya untuk segelintir kapitalis.
Pasar kerja pun bergantung pada mekanisme swasta. Perusahaan menjadi pusat harapan, padahal mereka sendiri sedang lesu: kinerja tidak optimal, perekrutan melambat, bahkan ancaman PHK terus meningkat. Praktik ekonomi non-riil dan ribawi memperparah keadaan, sebab aliran kapital tidak banyak menggerakkan sektor riil yang bisa menyerap tenaga kerja.
Ironisnya, kurikulum perguruan tinggi justru diarahkan untuk menyesuaikan diri dengan dunia kerja yang dibentuk kapitalisme. Namun, liberalisasi perdagangan jasa membuat negara lepas tangan dalam memastikan rakyat mendapatkan pekerjaan yang layak. Akhirnya, generasi muda dipaksa realistis: bertahan dalam pekerjaan yang membosankan demi sekadar bertahan hidup.
Dampak Buruk bagi Generasi Muda
Job hugging menumbuhkan generasi yang pasif, tidak berani mengambil risiko, dan kehilangan gairah berkreasi. Mereka sibuk menjaga keamanan finansial, tapi hatinya merana. CNN Indonesia menulis, “Banyak karyawan memilih bertahan demi cari aman, tapi hati merana” (17/9/2025).
Jika dibiarkan, kondisi ini akan melahirkan generasi yang tidak produktif dan tidak peduli pada urusan umat. Padahal, generasi muda adalah aset terbesar bangsa. Alih-alih menjadi motor perubahan, mereka justru terjebak dalam rutinitas yang membosankan—hanya karena sistem kapitalisme tidak memberi jaminan kehidupan yang layak.
Islam Menawarkan Solusi
Dalam Islam, negara bertanggung jawab penuh mengurus rakyat, termasuk menyediakan lapangan kerja. Muqaddimah Dustur pasal 153 menegaskan, penguasa wajib memenuhi kebutuhan dasar setiap individu rakyat, baik pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, hingga pekerjaan.
Khilafah memiliki mekanisme nyata dalam menyediakan lapangan kerja:
Pertama. Mengelola sumber daya alam untuk kepentingan rakyat, bukan diserahkan pada swasta atau asing.
Kedua. Mendorong industrialisasi sehingga membuka banyak lapangan kerja.
Ketiga. Ihya’ al-mawat: memberikan tanah mati agar dihidupkan menjadi produktif.
Keempat. Memberikan bantuan modal dan keterampilan kepada warga yang membutuhkan.
Lebih dari sekadar aspek teknis, Islam membingkai pekerjaan dengan ruh keimanan. Bekerja bukan hanya mencari nafkah, tapi juga ibadah. Dengan standar halal-haram, setiap individu terdorong untuk berkontribusi maksimal bagi masyarakat. Negara pun mengurus rakyat dengan niat ibadah, bukan sekadar menjalankan administrasi.
Penutup
Fenomena job hugging adalah cermin kegagalan kapitalisme global. Generasi muda yang seharusnya menjadi pilar peradaban kini terjebak dalam rasa takut kehilangan pekerjaan, meski hatinya kering dari makna.
Islam datang dengan solusi yang menyeluruh. Dalam naungan Khilafah, negara bukan hanya penyedia kerja, tapi penjamin kehidupan rakyat. Pendidikan dan pekerjaan dipandu dengan iman, sehingga melahirkan generasi yang produktif, penuh makna, dan peduli pada umat.
Saatnya meninggalkan kapitalisme yang telah gagal, dan kembali pada sistem Islam yang menjamin kesejahteraan dan kehormatan manusia. []
Oleh: Prayudisti SP
(Aktivis Muslimah)