TintaSiyasi.id -- Manusia itu makhluk sosial. Mustahil hidup sendiri, dan mustahil hidup tanpa aturan. Bahkan kalau sekadar makan pun ada aturannya, jangan kebanyakan, jangan makan yang haram, dan jangan asal comot makanan basi. Kalau sekecil itu saja butuh aturan, apalagi soal kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Pertanyaannya sederhana tapi tajam, kalau manusia tidak mau diatur dengan syariat Allah, lalu mau diatur dengan apa?
Allah Swt. sudah menegaskan dalam Al-Qur’an, “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS. Al-Maidah: 50).
Artinya, setiap aturan selain syariat Allah hakikatnya adalah hukum jahiliyah. Mau itu demokrasi, kapitalisme, komunisme, atau yang lainnya semua hanyalah produk manusia yang penuh keterbatasan.
Sekularisme: Aturan Manusia yang Penuh Tipu Daya
Sekularisme alias pemisahan agama dari kehidupan muncul di Eropa pasca abad pertengahan. Agama dikurung di gereja, sementara urusan dunia diatur oleh manusia. Dari sinilah lahir demokrasi dan kapitalisme. Sekilas terdengar manis, rakyat bebas memilih, pasar bebas berkembang, dan manusia bebas berpendapat. Tapi kenyataannya?
Ekonomi kapitalis melahirkan kesenjangan akut. Menurut laporan Oxfam, 1% orang terkaya menguasai lebih dari separuh kekayaan dunia. Sementara miliaran orang lain hidup di bawah garis kemiskinan.
Politik demokrasi lebih mirip ajang dagang sapi. Rakyat disuguhi janji manis saat pemilu, tapi setelah itu kepentingan oligarki yang lebih dominan. Uang, lobi, dan kepentingan korporasi mengalahkan suara nurani.
Budaya liberal membuka pintu kerusakan moral. Zina dilegalkan, narkoba dilegalkan, bahkan penyimpangan orientasi seksual dipromosikan.
Sekularisme tampak manis di permukaan, tapi racun di dalam. Kebebasan yang dijanjikan ternyata melahirkan penindasan baru, yang kaya makin berkuasa, yang miskin makin sengsara.
Komunisme: Janji Palsu yang Mengikat.
Di sisi lain, komunisme muncul sebagai antitesis kapitalisme. Dengan jargon “Sama rasa, sama rata”, komunisme ingin menghapus kepemilikan pribadi. Tapi justru di sinilah masalahnya.
Manusia secara fitrah butuh memiliki. Islam pun mengakui kepemilikan individu, selama halal. Tapi komunisme memaksa semua orang untuk tunduk pada negara. Akhirnya? Rakyat hidup miskin dan ketakutan, sementara elit partai menikmati kekuasaan.
Sejarah membuktikan, Uni Soviet runtuh, Tiongkok harus membuka diri pada pasar, Kuba terpuruk. Komunisme gagal memberi kesejahteraan. Malah, berjuta-juta orang mati akibat kebijakan tangan besi rezim komunis.
Syariat: Aturan dari Sang Pencipta
Berbeda dengan sekularisme dan komunisme, Islam hadir dengan aturan yang bersumber dari Sang Pencipta. Aturan Allah tidak lahir dari hawa nafsu manusia, tapi dari wahyu yang pasti benar.
Allah berfirman, “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (TQS. Adz-Dzariyat: 56).
Ibadah di sini bukan hanya ritual, tapi ketaatan total. Politik, ekonomi, sosial, pendidikan, semua harus diatur sesuai syariat.
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, agama tanpa syariat sama saja seperti tubuh tanpa ruh. Islam tanpa penerapan aturan hanya jadi nama kosong tanpa makna.
Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, ulama besar abad ke-20 dan pendiri Hizbut Tahrir, menegaskan dalam Nizham al-Islam, “Akar masalah umat Islam hari ini adalah diterapkannya sistem sekuler, bukan Islam. Karena itu, solusi hakiki hanyalah dengan kembali pada syariat secara total.”
Dalam kitab Ad-Daulah al-Islamiyah, beliau juga menulis, “Keadilan sejati hanya bisa terwujud melalui penerapan syariat Allah secara menyeluruh dalam naungan khilafah.”
Dengan kata lain, syariat bukan sekadar urusan privat. Ia harus diterapkan sebagai sistem hidup, mengatur negara dan masyarakat.
Bukti Sejarah Keemasan Syariat
Mari bandingkan dengan fakta sejarah.
Masa Umar bin Khaththab, rakyat begitu sejahtera hingga sulit menemukan orang yang mau menerima zakat.
Masa Harun al-Rasyid, negara begitu kaya sampai-sampai sulit mendistribusikan zakat karena semua orang sudah berkecukupan.
Masa Andalusia, Islam jadi mercusuar ilmu pengetahuan. Sementara Eropa tenggelam dalam kegelapan, dunia Islam memimpin dalam sains, kedokteran, dan teknologi.
Itu bukti bahwa ketika syariat ditegakkan, bukan hanya Muslim yang merasakan keadilan, tapi juga non-Muslim yang hidup di bawah naungan khilafah.
Menolak Syariat Berarti Menolak Tujuan Hidup
Kalau manusia menolak syariat, berarti ia menolak tujuan hidupnya sendiri. Allah sudah menetapkan tujuan manusia diciptakan untuk beribadah. Menolak aturan Allah sama saja menolak perintah Sang Pencipta.
Maka, apa lagi yang mau dipilih? Sekulerisme sudah terbukti gagal. Komunisme juga terbukti gagal. Tinggal satu pilihan yang pasti benar, yaitu syariat Allah.
Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa berpaling dari sunnahku, maka ia bukan dari golonganku.” (HR. Bukhari-Muslim).
Jika kita berpaling dari syariat dalam urusan kehidupan, hakikatnya kita sedang berpaling dari sunnah Nabi.
Oleh karena itu, hidup tanpa aturan itu mustahil. Jadi, tinggal pilihannya, aturan manusia atau aturan Allah? Sekulerisme dan komunisme sudah terbukti gagal, melahirkan kesenjangan, penderitaan, dan kehancuran. Sedangkan aturan Allah sudah terbukti menghadirkan keadilan dan kesejahteraan selama berabad-abad dalam naungan Khilafah Islamiyah.
Kalau tidak mau diatur dengan syariat, artinya memilih untuk hidup dalam kezaliman. Padahal Allah sudah menyiapkan aturan terbaik, agar manusia hidup sesuai tujuan penciptaannya, yaitu meraih ridha Allah dan kebahagiaan hakiki dunia akhirat.
Menolak syariat bukan hanya soal menolak aturan, tapi menolak identitas, menolak tujuan hidup, dan menolak keadilan. Maka, mari kembali diatur dengan syariat Allah. Karena kalau bukan syariat, pasti jahiliah. []
Nabila Zidane
Jurnalis