TintaSiyasi.id -- Situasi di Jalur Gaza semakin memburuk terlebih setelah sinyal internet dan jaringan telekomunikasi kembali terputus total pada 18 September 2025. Pemadaman akses internet ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan strategi militer Israel untuk mempercepat migrasi warga Gaza dengan membuka jalur transportasi sementara melalui Jalan Salah Al-Din. Langkah tersebut diumumkan setelah serangan darat besar-besaran pada Selasa (16/9), ketika tank dan kendaraan lapis baja dikirim masuk ke wilayah tersebut. (Tribunnews.com 19 September 2025)
Pemadaman listrik semacam itu, yang melumpuhkan rumah sakit, tim pertahanan sipil, dan operasi bantuan kemanusiaan, telah menjadi ciri khas perang Israel di Gaza. Saluran internet dan telepon diputus di seluruh wilayah Gaza, sebagai tanda bahwa operasi darat kemungkinan akan meningkat. Kelompok-kelompok hak asasi manusia memperingatkan bahwa hal itu bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari kebijakan yang disengaja untuk membungkam wilayah kantong tersebut dan menghalangi pengawasan dari luar. (Tempo.com 18 September 2025)
Sekalipun negara-negara di dunia mengecam dan mengembargo, Israel tetap bergeming. Belgia menerapkan larangan impor dari Israel. Spanyol mengubah embargo senjata de facto yang berlaku saat ini menjadi undang-undang, dan melarang kapal dan pesawat yang membawa senjata ke Israel untuk berlabuh di pelabuhan Spanyol atau memasuki wilayah udaranya. Norwegia akan melakukan divestasi dari perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Israel. Uni Eropa, berencana memberi sanksi kepada menteri sayap kanan dan menangguhkan sebagian elemen perdagangan dari perjanjian dengan Israel. Di Hollywood, surat penyeruan boikot terhadap perusahaan, festival, dan penyiaran Israel, telah ditandatangani oleh lebih dari 4.000 orang dalam sepekan. Demikian juga di bidang olahraga, bahkan, sekjen PBB mengingatkan Dunia tak boleh terintimidasi oleh Israel.
Sungguh kejahatan Zionis Israel semakin diluar akal sehat manusia, setelah warga Palestina mengalami krisis pangan, bahan bakar, air, dan listrik akibat Israel, kini mereka dibungkam dengan memutus internet dan jalur komunikasi bersamaan dengan serangan udara yang terus meningkat. Padahal sejatinya pemadaman itu bertujuan untuk melumpuhkan koordinasi, menghentikan penyebaran berita, menghambat bantuan, dan secara efektif mengisolasi penduduk Gaza.
Sekalipun kecaman datang dari berbagai penjuru dunia, namun Israel tetap bergeming karena Israel telah menetapkan strategi politik dan militer untuk menguasai Gaza dan menetapkan tujuan akhirnya yaitu membangun negara Israel Raya dengan menjadikan Palestina sebagai pusat kekuasaannya.
Untuk mewujudkan tujuan akhirnya, Israel didukung penuh oleh negara no 1 dunia yaitu Amerika Serikat, tempat di mana para kapitalis dunia yang terafiliasi kepada Gerakan zionis, bermukim. Trump menyatakan dukungan tak terbatas kepada Israel bukan sekadar kebijakan pro-Israel biasa namun Ini sebagai strategi untuk memperluas hegemoni AS–Israel melalui pembentukan realitas geopolitik baru yaitu pemusnahan Palestina, normalisasi dengan negara Arab, dan aneksasi diam-diam atas wilayah Tepi Barat hingga terbentuknya Greater Israel.
Fakta ini membuktikan bahwa tindakan boikot tidak akan mampu membebaskan Palestina sebab boikot sering kali bersifat simbolis (lipstik politik) tanpa dampak nyata, karena kepentingan ekonomi akan mengesampingkan prinsip, dan kerjasama tersembunyi dengan entitas tertentu akan terus berlanjut selama menguntungkan secara finansial.
Kejahatan perang Israel yang makin menggila juga tidak akan berhenti hanya dengan kecaman karena itu sebuah keniscayaan. Saat ini yang harus dilakukan untuk membebaskan Palestina adalah persatuan umat dengan cara mengerahkan kekuatan tentara kaum muslim yang membela kehormatan agamanya dan melindungi saudaranya. Sungguh kehadiran Tentara Islam yang di komandoi oleh seorang Khalifah sangat dinantikan karena solusi Palestina tidak lain adalah jihad dan Khilafah.
Allah SWT telah menjelaskan dalam TQS Al-Maidah ayat 82: "Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik"
Hanya Daulah Khilafah Islamiyah satu-satunya yang akan mampu melumpuhkan Israel dan membebaskan Gaza, Palestina dan seluruh manusia dari makar jahat kaum zionis Israel. Agar institusi Khilafah dapat segera terwujud, umat harus bergerak, serta melakukan penyadaran dan pemahaman kepada umat dalam mewujudkan tegaknya Khilafah sebagai pemimpin global dan satu-satunya yang mampu memberi solusi atas problem umat manusia serta menuntaskan dan membebaskan Palestina.
Wallahu a’lam bishshawab. []
Oleh: Sunani
Aktivis Muslimah