TintaSiyasi.id -- Istilah job hugging ramai dibicarakan terutama dikalangan muda. Job hugging dikenal dengan istilah bertahan di dalam pekerjaan meskipun dengan terpaksa dan tidak ada rasa bahagia. Bertahan ditempat kerja bukan semata-mata karena prestasi, namun demi mengamankan diri sebab sangat sulit mencari peluang kerja. (cnnindonesia.com, 19/9/2025)
Guru Besar UGM menyebut munculnya fenomena job hugging (kecenderungan untuk tetap bertahan dalam satu pekerjaan yang tengah dijalani, meskipun sudah tidak memiliki minat dan motivasi dalam pekerjaan tersebut) karena faktor ketidakpastian pasar kerja. Lulusan perguruan tinggi terjebak dalam job hugging demi keamanan finansial dan stabilitas. Walhasil, lebih baik asal kerja dari pada menjadi pengangguran intelektual.
Kondisi inilah yang tengah dirasakan oleh para pekerja khususnya kaum muda di negeri ini. Banyak nya jumlah PHK, tingginya angka pengangguran dan sulitnya lapangan pekerjaan, semua ini menambah sederet alasan yang membuat kaum muda semakin betah bertahan dalam pekerjaan meskipun sudah tidak bahagia dalam pekerjaannya.
Sistem kapitalisme global yang diterapkan termasuk di Indonesia telah gagal menjamin lapangan pekerjaan untuk rakyat. Rakyat harus pontang panting mencari kesana kemari lowongan pekerjaan. Tidak hanya yang lulus dari sekolah tetapi juga yang lulus dari perguruan tinggi. Semua nya merasakan sulit mencari pekerjaan demi memenuhi kebutuhan. Negara tidak merasa punya tanggungjawab untuk menyediakan lapangan pekerjaan sekalipun ini adalah tanggung jawab negara kepada rakyatnya. Padahal dengan bekerja, rakyat bisa mendapatkan gaji untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Namun, yang terjadi dalam sistem kapitalisme ini bahwa pihak swasta mengambil alih kewajiban negara dalam menyediakan lapangan kerja. Pihak swasta yang banyak menguasai sektor industri baik hulu maupun hilir. Negara juga melegalkan sumber daya alam sebagai kekayaan negara ini dikuasai oleh pihak swasta dan segelintir kapitalis. Padahal seharusnya negara yang menguasai, mengelola dan mendistribusikan sumber daya alam ini untuk kesejahteraan rakyat. Bukan menyerahkannya kepada pihak swasta. Walhasil, negara tidak memiliki solusi apapun jika terjadi lonjakan PHK.
Meskipun kurikulum perguruan tinggi dalam sistem Kapitalisme ini disiapkan untuk terjun di dunia kerja, tetapi prinsip liberalisasi perdagangan (termasuk perdagangan jasa) menjadikan negara lepas tangan dalam memastikan warganya mendapat pekerjaan, untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka.
Dalam Islam, negara adalah penanggung jawab utama mengurus rakyat, termasuk menyediakan lapangan kerja bagi rakyat nya. Negara dalam Islam (khilafah) telah memiliki kebijakan yang jitu dalam menyediakan lapangan kerja bagi rakyat yaitu dengan mengelola sumber daya alam yang melimpah ruah, sehingga dapat membuka industri dan menyerap banyak lapangan pekerja, ihyaul mawat (menghidupkan tanah mati) salah satu nya dengan memberikan tanah produktif bagi mereka yang punya keahlian bertani tetapi tidak memiliki lahan, memberikan bantuan modal, sarana dan keterampilan bagi warga yang membutuhkan. Semua itu merupakan tanggung jawab negara.
Dalam Islam, pendidikan dan pekerjaan selalu dibingkai dengan ruh dan keimanan bukan semata-mata dorongan maslahat dan manfaat, sehingga rakyat melakukannya dengan dorongan ibadah, terikat dengan standar halal dan haram. Bekerja dengan niat mencari nafkah dan belajar dengan dorongan mencari ilmu. Semua dilakukan karena mencari ridha Allah SWT semata. Sungguh berbanding terbalik dengan Kapitalisme. Begitu juga negara ketika melayani urusan rakyatnya juga dengan dorongan ibadah. Sehingga tidak ada nilai apapun yang hendak diraih kecuali menjalankan nya dengan amanah dan mendapat pahala di sisi Allah SWT.
Begitu indah Islam dengan kesempurnaan aturannya mampu mewujudkan negara yang menerapkan Syariat Allah SWT dengan sempurna yaitu Daulah Khilafah Islam. Maka, sudah saat nya kita menjadikan Kjilafah sebagai satu-satunya solusi yang harus kita ambil untuk menyelesaikan segala permasalahan di negeri ini.
Wallahu a'lam bishshawab. []
Oleh: Pipit Ayu
Aktivis Muslimah