Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Lonely ini Crowd: Paradoks Kehidupan Sosial di Era Sekuler Liberal

Rabu, 01 Oktober 2025 | 05:20 WIB Last Updated 2025-09-30T22:20:35Z

TintaSiyasi.id -- Kehidupan sosial masyarakat saat ini terpengaruhi media sosial dalam berkomunikasi. Seseorang bisa aktif berselancar di media sosial namun belum bisa berinteraksi sosial di tengah masyarakat. Ungkapan di dunia maya terlihat sangat elegan, hal tersebut berbanding terbalik di kehidupan nyata. 

Banyak fenomena yang terjadi di kehidupan remaja berawal dari media sosial. Mencurahkan isi hati secara terbuka bukan lagi masalah privasi namun sudah menjadi kebutuhan bahkan pengakuan untuk dapat diterima masyarakat luas. Kebebasan mengungkapkan perasaan dengan tindakan dan tuturan dalam mengekspresikan realita yang terjadi, ataupun yang sedang dihadapi berdampak pada mental seseorang. Gen Z saat ini butuh validasi dari masyarakat untuk mendukung apa yang sudah mereka lakukan dalam media sosial.

Dari penelitian yang dilakukan mahasiswa ilmu komunikasi pada Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dengan judul “Loneliness in the Crowd: Eksplorasi Literasi Media Digital pada Fenomena Kesepian di TikTok melalui Konfigurasi Kajian Hiperrealitas Audiovisual”. Dari penelitian tersebut dapat diungkapkan bahwa terdapat kaitanya antara rasa kesepian bagi pengguna media sosial yang dapat mempengaruhi kesehatan mental (detik.com, 18/09/2025). 

Penelitian tersebut realita yang terjadi, linimasa yang bermuatan hiburan namun tidak mampu memberikan rasa nyaman dan damai (kesepian di tengah keramaian). Media sosial sudah menjadi platform untuk berbagi perasaan dan pikiran agar dapat pembenaran khalayak ramai. Teori hiperrealitas, menyatakan bahwa representasi digital akan dianggap lebih nyata daripada realitas yang sebenarnya, sehingga emosi yang dibentuk dapat memengaruhi kesehatan mental dan hubungan sosial.

Kesepian karena menganggap dirinya tidak dibutuhkan orang lain, akhirnya media sosial yang menjadi teman dikala sendiri di tengah. Hiruk-pikuk berselancar di media sosial menyebabkan Gen Z apatis pada lingkungan. Mereka merasa mempunyai beban hidup yang berat, merasa kesepian, insecure bahkan mengalami kesehatan mental. Hal ini, bukan hanya persoalan kurangnya literasi digital dan manajemen penggunaan gawai, namun mindset yang belum dapat memahaminya secara bijak mengenai fungsi dan tujuan bermedsos.

Industri kapitalis menimbulkan dampak buruk sehingga masyarakat menjadi tidak peduli satu dengan yang lainnya dalam interkasi sosial. Pergaulan di dunia nyata sangat sulit untuk dilakukan karena sikap asosial. Pola kehidupan dalam keluarga menjadi hal yang utama, untuk saling berbagi cerita ataupun diskusi sesama anggota keluarga lainnya. Peran keluarga sangat penting mengatasi remaja yang sudah terpapar gawai yang berlebihan. Selain keluarga, lingkungan pun harusnya membantu dalam memberikan kesadaran terhadap remaja saat ini.

Sekuler liberal sistem yang sangat merugikan umat, tatanan sosial menjadi persoalan kesehatan mental yang mengakibatkan ketimpangan sosial dan krisis nilai dalam kehidupan. Perasaan kesepian dan sikap asosial sehinggga banyak remaja yang goyah dan rapuh dalam menghadapi tekanan kehidupan.

Seharusnya generasi muda mempunyai potensi yang sangat besar untuk menghasilkan karya-karya produktif. Namun, hal tersebut tidak didukung dengan sistem saat ini. Masyarakat masih terjebak dalam rutinitas individu, kepedulian terhadap persoalan umat masih terabaikan.

Perlunya memberikan kesadaran pada umat bahwa pengaruh media sosial jika tidak dikelola dengan baik akan menjadikan banyak orang masin asosiasi dan merasa kesepian walaupun dalam suasana yang ramai. Tentunya ini sangat merugikan umat terutama untuk generasi emas saat ini. Islam sebagai sistem kehidupan yang sempurna sudah mengajarkan kepada kita bagaimana menjalankan hidup dalam rangka ibadah kepada Allah Swt. 

Peran negara dalam Islam adalah junnah (pelindung) bagi urusan rakyat. Negaralah yang bertanggung jawab membentuk masyarakat terutama generasi muda yang akan membawa peradaban Islam, agar tidak menjadi korban sistem sekuler liberal. Generasi yang tangguh berahlak mulia yang dapat menciptakan lingkungan yang sehat dan interaksi sosial yang mampu melahirkan generasi yang tangguh. []


Oleh: Ariyana
(Dosen dan Pengamat Kebijakan Publik)

Opini

×
Berita Terbaru Update