TintaSiyasi.id -- Fenomena job hugging—yaitu kecenderungan bertahan di pekerjaan yang tidak lagi sehat secara mental atau finansial—semakin nyata di kalangan anak muda. Banyak dari mereka merasa "harus bertahan", bukan karena cinta terhadap pekerjaan, tetapi karena takut kehilangan stabilitas hidup yang kian rapuh.
Potret Kaum Muda di Dunia Kerja
Laporan Global Employment Trends for Youth 2024 dari ILO mencatat bahwa meski tingkat pengangguran pemuda secara global menurun ke 13%, angka NEET (Not in Employment, Education or Training) tetap tinggi di angka 20%. Di negara berkembang, mayoritas pemuda bekerja di sektor informal—tanpa kepastian, tanpa jaminan sosial.
Transisi dari pendidikan ke dunia kerja semakin panjang. Ketidakpastian ekonomi, lemahnya perlindungan tenaga kerja, hingga ancaman PHK massal membuat banyak anak muda enggan berpindah kerja, meski tidak bahagia.
Alih-alih tempat aktualisasi diri, pekerjaan kini menjadi tempat bertahan hidup. Identitas sosial pun sering kali lekat dengan pekerjaan. Maka, kehilangan pekerjaan berarti kehilangan harga diri.
Kapitalisme Global dan Sistem yang Menekan
Kapitalisme mendorong fleksibilitas pasar kerja—namun sering kali mengorbankan kesejahteraan individu. Anak muda dituntut adaptif, multitalenta, dan selalu “siap kerja”, bahkan saat burnout. Tidak ada ruang aman untuk jeda, istirahat, atau refleksi.
Dalam sistem seperti ini, job hugging bukan lahir dari rasa cinta, tapi dari rasa takut. Bertahan menjadi pilihan paling masuk akal di tengah ketidakpastian yang dibuat oleh sistem. Bagaimana dengan Indonesia?
Fenomena ini juga mulai terasa di Indonesia. Survei dan diskusi di media sosial menunjukkan bahwa banyak anak muda Indonesia, terutama Gen Z dan milenial, memilih bertahan di pekerjaan yang membuat mereka stres, takut gagal, atau kehilangan penghasilan. Keberadaan teknologi AI, persaingan kerja yang tinggi, hingga inflasi memperparah kecemasan ini.
Islam Menawarkan Jalan Tengah: Aman dan Berani
Islam hadir tidak hanya sebagai solusi spiritual, tapi juga sistemik—menata ulang hubungan antara manusia, kerja, dan kesejahteraan.
Beberapa prinsip kunci:
Pertama, tauhid dan niat yang lurus. Bekerja dalam Islam adalah bagian dari ibadah. Rezeki datang dari Allah, bukan dari perusahaan atau atasan.
Kedua, etika kerja islami. Islam mendorong kejujuran, amanah, dan keadilan. Tidak ada ruang untuk eksploitasi dalam sistem kerja Islam.
Ketiga, pekerjaan sebagai kemaslahatan sosial. Pekerjaan bukan semata-mata demi laba, tapi kontribusi terhadap masyarakat dan kesejahteraan umum.
Keempat, tawakkal dan keberanian berubah. Islam tidak melarang mengambil risiko untuk hal yang lebih baik, selama ada ikhtiar dan tawakkal.
Kelima, negara sebagai pelindung, bukan penekan. Dalam sistem Islam, negara wajib menjamin keadilan kerja, membuka lapangan kerja, dan melindungi warganya dari ketimpangan.
Keenam, ekonomi islam sebagai solusi sistemik. Islam menolak riba, eksploitasi, dan akumulasi kekayaan oleh segelintir orang. Distribusi kekayaan diatur agar tidak timpang dan merugikan rakyat pekerja.
Menjadi Pekerja yang Merdeka
Anak muda hari ini bukan malas atau tidak setia. Mereka adalah generasi yang tumbuh di tengah sistem yang menuntut banyak tapi memberi sedikit. Islam menawarkan jalan yang memanusiakan manusia—memulihkan pekerjaan sebagai jalan ibadah, bukan jebakan mental.
Saatnya membebaskan diri dari ketakutan sistemik dan membangun tatanan kerja yang lebih adil dan bermakna.
Wallahu a’lam bishshawab. []
Oleh: Imma Kurniati
(Pejuang Dakwah)