"Dia (visi) akan menggerakkan
arah perjuangan, yang akan menjadi prime mover atau penggerak
utama," ucapnya di kanal YouTube UIY Official; Maulid Nabi, Lahirnya
Peradaban Agung Dunia, Sabtu (14/09/2025).
Lanjutnya, UIY menjelaskan perjuangan
sahabat dahulu tidak pernah lepas dari sebuah visi besar, yakni sebuah hadis Nabi
yang memastikan Konstantinopel akan ditaklukan. “Hal ini pulalah yang kemudian
dirasakan juga oleh Muhammad Al-Fatih ketika menaklukan Konstantinopel,”
ujarnya mengisahkan.
"Dia (Muhammad Al-Fatih) ingin
seperti yang disebut Nabi menjadi sebaik-baiknya panglima, yaitu yang
menaklukan Konstantinopel. Coba kalau Nabi tidak mengucapkan itu, orang tidak
akan mengerti bahwa itu memang harus ditaklukan dan bisa ditaklukan,"
jelasnya.
"Dan visi besar itu akhirnya
mengurai persoalan-persoalan kecil. Ada ahli mengatakan begini, ‘Anda tidak berpikir
perkara-perkara besar pasti Anda itu akan terkungkung oleh pikiran-pikiran
kecil, dan itu betul.’ Dan umat ini keadaannya seperti itu," ungkapnya.
Alhasil, ia menyayangkan kondisi umat
Islam saat ini semakin besar, namun di sisi lain tidak memiliki visi yang
besar. “Berbeda dengan kondisi di zaman Rasulullah saw. yang memiliki umat yang
kecil jumlahnya namun memiliki visi yang sangat besar,” tandasnya.
"Nabi mengatakan menjelang Perang
Khandaq, itu pasti akan ditaklukan Konstantinopel. Konstantinopel itu ibu kota
Romawi Timur. Sebuah kota yang terbukti lebih dari 1.100 tahun bisa bertahan
dari lawan yang berdatangan. Artinya ini bukan sesuatu kota yang kaleng-kaleng
atau ecek-ecek," terangnya.
UIY melanjutkan, terlebih Rasulullah
saw. mengatakan janji tersebut justru ketika umat dalam keadaan yang sebenarnya
relatif lemah. “Perang Khandaq merupakan perang di mana seluruh lawan-lawan
kaum Muslim itu bersekutu, lantaran merasa tidak bisa menang melawan umat Islam,”
papar UIY.
"Artinya umat Islam pada saat
itu menghadapi lawan yang tangguh tertekan secara militer, politik, dan
psikologis. Tetapi lihatlah, Nabi meskipun melihat kondisi seperti itu tetap
meletakkan visi besar, bahkan sangat besar,” ujarnya.
“Terlihat Nabi meletakkan visi yang
luar biasa. Bagaimana respons sahabat? Tak ada satu pun sahabat yang kita baca
sejarah bilang, 'Mimpi nih ye.'," ulasnya.
Pria kelahiran Yogyakarta itu
menegaskan sikap sahabat merupakan tauhid dan Nabi membina sahabat dengan
tauhid yang kokoh. “Namun, saat ini tauhid yang kokoh itu menjadi masalah yang
akhirnya seorang Ali bin Abi Thalib ra. berkata, 'Kita ini percaya kepada
sesuatu yang belum tentu, sementara kita ragu kepada sesuatu yang sudah pasti.',”
bebernya.
"Apa itu? Pertolongan Allah! Kalau
Allah menolong kalian, tidak ada yang bisa mengalahkan. Pertanyaannya, yakin
tidak? Beranikah kita memantaskan diri untuk ditolong Allah?” paparnya.
“Bagaimana kita mau ditolong Allah,
berani aja tidak. Berpikir tentang perjuangan, berpikir tentang visi penaklukan
juga tidak, bagaimana mau ditolong?" tandasnya.[] Taufan
