Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

UIY: Pentingnya Visi Besar untuk Menggerakkan Arah Perjuangan

Rabu, 17 September 2025 | 07:59 WIB Last Updated 2025-09-17T01:06:03Z

TintaSiyasi.id -- Cendekiawan Muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) menilai visi besar sangat dibutuhkan dalam menopang arah dakwah kaum Muslim untuk menggerakkan arah perjuangan.

 

"Dia (visi) akan menggerakkan arah perjuangan, yang akan menjadi prime mover atau penggerak utama," ucapnya di kanal YouTube UIY Official; Maulid Nabi, Lahirnya Peradaban Agung Dunia, Sabtu (14/09/2025).

 

Lanjutnya, UIY menjelaskan perjuangan sahabat dahulu tidak pernah lepas dari sebuah visi besar, yakni sebuah hadis Nabi yang memastikan Konstantinopel akan ditaklukan. “Hal ini pulalah yang kemudian dirasakan juga oleh Muhammad Al-Fatih ketika menaklukan Konstantinopel,” ujarnya mengisahkan.

 

"Dia (Muhammad Al-Fatih) ingin seperti yang disebut Nabi menjadi sebaik-baiknya panglima, yaitu yang menaklukan Konstantinopel. Coba kalau Nabi tidak mengucapkan itu, orang tidak akan mengerti bahwa itu memang harus ditaklukan dan bisa ditaklukan," jelasnya.

 

"Dan visi besar itu akhirnya mengurai persoalan-persoalan kecil. Ada ahli mengatakan begini, ‘Anda tidak berpikir perkara-perkara besar pasti Anda itu akan terkungkung oleh pikiran-pikiran kecil, dan itu betul.’ Dan umat ini keadaannya seperti itu," ungkapnya.

 

Alhasil, ia menyayangkan kondisi umat Islam saat ini semakin besar, namun di sisi lain tidak memiliki visi yang besar. “Berbeda dengan kondisi di zaman Rasulullah saw. yang memiliki umat yang kecil jumlahnya namun memiliki visi yang sangat besar,” tandasnya.

 

"Nabi mengatakan menjelang Perang Khandaq, itu pasti akan ditaklukan Konstantinopel. Konstantinopel itu ibu kota Romawi Timur. Sebuah kota yang terbukti lebih dari 1.100 tahun bisa bertahan dari lawan yang berdatangan. Artinya ini bukan sesuatu kota yang kaleng-kaleng atau ecek-ecek," terangnya.

 

UIY melanjutkan, terlebih Rasulullah saw. mengatakan janji tersebut justru ketika umat dalam keadaan yang sebenarnya relatif lemah. “Perang Khandaq merupakan perang di mana seluruh lawan-lawan kaum Muslim itu bersekutu, lantaran merasa tidak bisa menang melawan umat Islam,” papar UIY.

 

"Artinya umat Islam pada saat itu menghadapi lawan yang tangguh tertekan secara militer, politik, dan psikologis. Tetapi lihatlah, Nabi meskipun melihat kondisi seperti itu tetap meletakkan visi besar, bahkan sangat besar,” ujarnya.

 

“Terlihat Nabi meletakkan visi yang luar biasa. Bagaimana respons sahabat? Tak ada satu pun sahabat yang kita baca sejarah bilang, 'Mimpi nih ye.'," ulasnya.

 

Pria kelahiran Yogyakarta itu menegaskan sikap sahabat merupakan tauhid dan Nabi membina sahabat dengan tauhid yang kokoh. “Namun, saat ini tauhid yang kokoh itu menjadi masalah yang akhirnya seorang Ali bin Abi Thalib ra. berkata, 'Kita ini percaya kepada sesuatu yang belum tentu, sementara kita ragu kepada sesuatu yang sudah pasti.',” bebernya.

 

"Apa itu? Pertolongan Allah! Kalau Allah menolong kalian, tidak ada yang bisa mengalahkan. Pertanyaannya, yakin tidak? Beranikah kita memantaskan diri untuk ditolong Allah?” paparnya.

 

“Bagaimana kita mau ditolong Allah, berani aja tidak. Berpikir tentang perjuangan, berpikir tentang visi penaklukan juga tidak, bagaimana mau ditolong?" tandasnya.[] Taufan

Opini

×
Berita Terbaru Update