Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Cendekiawan: Cinta kepada Nabi Adalah Cinta yang Istimewa

Rabu, 17 September 2025 | 08:01 WIB Last Updated 2025-09-17T01:06:06Z

TintaSiyasi.id -- Cendekiawan Muslim Ustaz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menyatakan bahwa cinta kepada Nabi adalah sesuatu yang istimewa. “Cinta kepada Nabi ini sesuatu yang sangat istimewa," ungkapnya dalam sebuah program Focus to The Point di kanal YouTube UIY Official.

 

Ustaz Ismail mengingatkan bahwa Maulid Nabi Muhammad saw. menjadi momen penting mengingat Rasulullah saw. sebagai teladan dalam penerapan syariat Islam kafah.

 

“Dikisahkan ada seorang anak Arabian yang bertanya kepada Baginda Rasulullah saw. yang bertanya, ‘Kapan Hari Kiamat itu terjadi?’ Kemudian Nabi balik bertanya kepada anak tersebut, ‘Apa yang telah Engkau persiapkan untuk menyongsong Hari Kiamat itu?’ Kemudian ia menjawab, ‘Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.’ Mendengar itu Nabi kemudian mengatakan, ‘Engkau akan bersama dengan orang yang Engkau cintai.’,” papar UIY mengisahkan.

 

Menurutnya, hadis tersebut penting untuk memastikan cinta kepada Nabi. “Apakah kita termasuk orang yang memang betul-betul cinta kepada Nabi," ungkapnya dalam rubrik yang bertajuk Maulid Nabi, Cinta Rasul kok Masih Sekuler?' tersebut, Jumat (05/09/2025).

 

Tanda Cinta

 

UIY memaparkan dua tanda-tanda atau bukti dari cinta kepada Nabi. “Pertama, tanda paling sederhana; kedua, tanda yang paling utama,” sebutnya.

 

"Tanda yang paling sederhana dari cinta kepada Nabi adalah kegemaran kita untuk menyampaikan selawat. Karena, selawat merupakan perintah Allah. Dengan selawat umat akan mendapatkan ampunan, rahmat dan keberkahan, juga sepuluh kali kebaikan," jelasnya

 

"Tanda yang kedua adalah itibak (mengikuti) Nabi. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Ali-Imran ayat 31, yakni mengikuti Nabi dalam perintah dan larangannya," ucapnya.

 

UIY menerangkan bahwa itibak Rasul harus tercermin pada dua perkara penting. ‘Pertama, pada cara berpikir; kedua, berperilaku,” ulasnya.

 

 

"Seorang Muslim yang mengaku cinta kepada Nabi dan dia itibak kepada Nabi, mestinya cara berpikirnya mengikuti ajaran Nabi," terangnya.

 

Menurutnya, cara berpikir sangatlah penting, karena cara berpikir itu akan menentukan perilaku nantinya.

 

Kemudian yang kedua, lanjutnya, perilaku yang digambarkan dalam aktivitas ibadah dan muamalah yang harus itibak kepada Nabi.

 

"Jadi kita ini salat, karena Nabi salat, meminta kita atau mengajak kita salat. Begitu juga puasa, zakat, haji, menutup aurat, berpakaian secara syar’i. Kemudian berpikir secara khusus, kita itu menjaga makanan minuman halal selalu,” bebernya.

 

“Nah, kalau ada orang, dia Muslim tetapi tidak salat, tidak mau membayar zakat dan sebagainya, tidak ibadah, dia itibak kepada siapa? Makanan minumnya dia tak terjaga, halal dimakan, haram dimakan, dia itibak kepada siapa?” imbuhnya.

 

Begitu juga dalam muamalah, UIY menyatakan bahwa Nabi itu dalam keseluruhan hidupnya bermuamalah, berekonomi, berpolitik, dan lain-lainnya, itu selalu dalam kerangka Islam.

 

UIY menjelaskan jika ada yang menolak ajaran Nabi, lalu dia itibak kepada Montesquieu, Jean-Jacques Rousseau, dan lain sebagainya, maka jangan menyalahkan siapa-siapa ketika nanti di akhirat bersama mereka yang dicintai dan tidak bersama Nabi.

 

"Jadi itibak kepada Rasulullah itu haruslah totalitas," pungkasnya.[] Aini

Opini

×
Berita Terbaru Update