Ustaz Ismail mengingatkan bahwa Maulid
Nabi Muhammad saw. menjadi momen penting mengingat Rasulullah saw. sebagai
teladan dalam penerapan syariat Islam kafah.
“Dikisahkan ada seorang anak Arabian
yang bertanya kepada Baginda Rasulullah saw. yang bertanya, ‘Kapan Hari Kiamat
itu terjadi?’ Kemudian Nabi balik bertanya kepada anak tersebut, ‘Apa yang
telah Engkau persiapkan untuk menyongsong Hari Kiamat itu?’ Kemudian ia
menjawab, ‘Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.’ Mendengar itu Nabi kemudian
mengatakan, ‘Engkau akan bersama dengan orang yang Engkau cintai.’,” papar UIY
mengisahkan.
Menurutnya, hadis tersebut penting
untuk memastikan cinta kepada Nabi. “Apakah kita termasuk orang yang memang
betul-betul cinta kepada Nabi," ungkapnya dalam rubrik yang bertajuk Maulid
Nabi, Cinta Rasul kok Masih Sekuler?' tersebut, Jumat (05/09/2025).
Tanda Cinta
UIY memaparkan dua tanda-tanda atau
bukti dari cinta kepada Nabi. “Pertama, tanda paling sederhana; kedua,
tanda yang paling utama,” sebutnya.
"Tanda yang paling sederhana
dari cinta kepada Nabi adalah kegemaran kita untuk menyampaikan selawat.
Karena, selawat merupakan perintah Allah. Dengan selawat umat akan mendapatkan
ampunan, rahmat dan keberkahan, juga sepuluh kali kebaikan," jelasnya
"Tanda yang kedua adalah itibak
(mengikuti) Nabi. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Ali-Imran ayat
31, yakni mengikuti Nabi dalam perintah dan larangannya," ucapnya.
UIY menerangkan bahwa itibak Rasul
harus tercermin pada dua perkara penting. ‘Pertama, pada cara berpikir; kedua,
berperilaku,” ulasnya.
"Seorang Muslim yang mengaku
cinta kepada Nabi dan dia itibak kepada Nabi, mestinya cara berpikirnya
mengikuti ajaran Nabi," terangnya.
Menurutnya, cara berpikir sangatlah
penting, karena cara berpikir itu akan menentukan perilaku nantinya.
Kemudian yang kedua, lanjutnya, perilaku
yang digambarkan dalam aktivitas ibadah dan muamalah yang harus itibak kepada Nabi.
"Jadi kita ini salat, karena
Nabi salat, meminta kita atau mengajak kita salat. Begitu juga puasa, zakat,
haji, menutup aurat, berpakaian secara syar’i. Kemudian berpikir secara
khusus, kita itu menjaga makanan minuman halal selalu,” bebernya.
“Nah, kalau ada orang, dia Muslim tetapi
tidak salat, tidak mau membayar zakat dan sebagainya, tidak ibadah, dia itibak
kepada siapa? Makanan minumnya dia tak terjaga, halal dimakan, haram dimakan,
dia itibak kepada siapa?” imbuhnya.
Begitu juga dalam muamalah, UIY
menyatakan bahwa Nabi itu dalam keseluruhan hidupnya bermuamalah, berekonomi,
berpolitik, dan lain-lainnya, itu selalu dalam kerangka Islam.
UIY menjelaskan jika ada yang menolak
ajaran Nabi, lalu dia itibak kepada Montesquieu, Jean-Jacques Rousseau, dan lain
sebagainya, maka jangan menyalahkan siapa-siapa ketika nanti di akhirat bersama
mereka yang dicintai dan tidak bersama Nabi.
"Jadi itibak kepada Rasulullah
itu haruslah totalitas," pungkasnya.[] Aini
