TintaSiyasi.id -- Pendahuluan. Dalam khazanah tasawuf, ucapan para salafus shalih sering kali menjadi lentera penerang jalan ruhani. Di antara mutiara hikmah yang dalam adalah nasihat Sahl ibn Abdullah at-Tustari RA (w. 283 H), seorang wali besar dan sufi agung, yang dikutip oleh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitabnya yang masyhur al-Ḥikam. Beliau berkata:
“Ada tiga hal yang menjadi kewenangan Allah atas hamba: menugaskan mereka, menetapkan ajal mereka, dan mengurus mereka. Dan ada tiga hal yang menjadi kewajiban hamba kepada Allah, yaitu mengikuti Nabi-Nya, bertawakal kepada-Nya, serta bersabar menetapinya hingga mati.”
Ungkapan singkat ini sesungguhnya merupakan peta ruhani bagi setiap Muslim. Ia menegaskan batas antara apa yang menjadi hak Allah dan apa yang menjadi kewajiban hamba, sehingga manusia tidak tergelincir pada sikap sombong ingin menguasai apa yang bukan bagiannya, atau lalai menunaikan kewajiban yang menjadi tugas sucinya.
Bagian Pertama: Tiga Hal yang Menjadi Kewenangan Allah
1. Menugaskan Hamba dengan Perintah dan Larangan
Allah Swt. menciptakan manusia untuk satu tujuan utama, yaitu ibadah. (QS. Adz-Dzariyat: 56).
Segala syariat, kewajiban, dan larangan merupakan amanah dari Allah. Tugas manusia hanyalah tunduk dan taat. Dalam hal ini, kita tidak berhak menawar, apalagi mengganti aturan-Nya.
Namun, betapa sering manusia merasa berat, lalu mencari alasan untuk menolak beban syariat. Padahal, setiap perintah Allah sesungguhnya adalah rahmat, dan setiap larangan adalah perlindungan. Menyadari ini, seorang hamba akan menerima dengan penuh syukur setiap amanah yang diberikan Allah.
2. Menetapkan Ajal
Hidup dan mati adalah rahasia Allah. “Tiap-tiap umat memiliki batas waktu. Maka, apabila telah datang ajalnya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya.” (QS. Al-A‘raf: 34).
Kesadaran ini menumbuhkan rasa rendah hati. Tidak ada yang perlu dibanggakan dalam umur panjang, dan tidak ada yang perlu ditakuti dalam ajal yang cepat. Yang terpenting adalah bagaimana mengisi kehidupan dengan amal yang diridhai-Nya.
3. Mengurus Kehidupan Hamba
Allah-lah yang menjamin rezeki setiap makhluk. “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud: 6).
Ketika seorang hamba benar-benar memahami hal ini, ia akan bebas dari kegelisahan berlebihan tentang dunia. Ia tetap berusaha, tetapi hatinya tidak bergantung pada hasil. Ia yakin, pengurusan Allah jauh lebih sempurna daripada perhitungan akal manusia.
Bagian Kedua: Tiga Kewajiban Hamba kepada Allah
1. Mengikuti Nabi-Nya Saw.
Ittiba‘ (mengikuti) Rasulullah Saw. adalah tanda cinta kepada Allah. “Katakanlah (Muhammad): Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.” (QS. Ali Imran: 31).
Mengikuti Nabi bukan sekadar meniru gerakan lahiriah, tetapi menyerap akhlaknya, mencontoh kesabaran, kasih sayang, keberanian, dan ibadahnya. Tanpa ittiba‘, amal seorang hamba bisa menjadi sia-sia.
2. Bertawakal kepada Allah
Tawakal adalah menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah setelah berusaha. Inilah yang membedakan Muslim dengan orang yang hanya mengandalkan diri. Rasulullah Saw. bersabda: “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung yang diberi rezeki: ia pergi pagi hari dengan perut kosong dan kembali sore hari dengan perut kenyang.” (HR. Tirmidzi).
Tawakal bukan pasrah buta, tetapi ikhtiar penuh lalu berserah hati.
3. Bersabar Hingga Mati
Kesabaran adalah kunci istiqamah. Hidup ini penuh ujian, dan seorang mukmin tidak akan pernah lepas darinya sampai ajal menjemput. Karena itu, sabar bukan pilihan sementara, tetapi jalan panjang sampai mati.
Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah, kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga, serta bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200).
Bagian Kedua: Tiga Kewajiban Hamba kepada Allah (dilengkapi dengan kisah salaf)
1. Mengikuti Nabi-Nya Saw.
Para sahabat adalah teladan paling nyata dalam ittiba‘ kepada Rasulullah Saw.
Kisah Abdullah bin Umar R.A
Ibnu Umar dikenal sebagai sahabat yang sangat hati-hati dalam meneladani Rasulullah Saw. Disebutkan bahwa ia bahkan pernah berhenti dan menundukkan kepala di suatu tempat hanya karena ia tahu Rasulullah Saw. pernah duduk di tempat itu. Baginya, mengikuti Rasul bukan hanya soal ibadah besar, tetapi sampai hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari.
Pelajaran: ittiba‘ yang tulus akan membawa cinta Allah. Bahkan detail terkecil bisa bernilai ibadah jika diniatkan untuk meneladani Rasulullah Saw.
2. Bertawakal kepada Allah
Kisah Imam Ahmad bin Hanbal
Dalam perjalanan ke Syam, Imam Ahmad pernah singgah di sebuah masjid. Karena malam semakin larut, beliau tidur di sana, tetapi penjaga masjid melarangnya. Beliau diusir hingga ke jalan. Saat itu, seorang tukang roti yang melihat keadaan Imam Ahmad mengundangnya menginap di rumahnya.
Di rumah itu, Imam Ahmad melihat tukang roti tersebut selalu berzikir sambil bekerja. Beliau bertanya: “Apa yang engkau rasakan dari banyak berzikir ini?”
Tukang roti menjawab: “Tidaklah aku berdoa dengan doa apa pun, kecuali Allah mengabulkannya, kecuali satu.”
Imam Ahmad penasaran: “Apa itu?”
Ia menjawab: “Aku memohon agar bisa bertemu dengan Imam Ahmad bin Hanbal.”
Imam Ahmad pun menangis: “Akulah Ahmad bin Hanbal. Allah telah mengabulkan doamu, dan aku sampai di rumahmu bukan karena kehendakku, melainkan karena Allah yang menggerakkannya.”
Pelajaran: tawakal bukan berarti tanpa usaha. Namun, ketika hati bersandar penuh pada Allah, Dia mengatur segalanya dengan cara yang menakjubkan.
3. Bersabar Hingga Mati
Kisah Imam Malik bin Anas
Imam Malik dikenal sangat sabar menghadapi cobaan. Beliau pernah dipukul dan disiksa oleh penguasa Madinah hingga pundaknya terkilir, karena fatwanya tidak sejalan dengan kebijakan penguasa saat itu. Namun, beliau tetap tabah dan tidak berhenti mengajarkan ilmu.
Meski tubuhnya sakit, beliau tetap mengajar sambil duduk di rumah, dan murid-murid datang dari berbagai penjuru untuk menimba ilmu. Dari kesabaran inilah lahir kitab al-Muwaththa’, salah satu kitab hadis dan fikih paling berpengaruh dalam sejarah Islam.
Pelajaran: sabar bukan berarti diam tanpa perjuangan, tetapi keteguhan hati untuk terus menapaki jalan kebenaran meskipun penuh ujian.
Refleksi Ruhani dengan Kisah Salaf
Dari kisah-kisah ini kita belajar bahwa:
• Ittiba‘ Nabi Saw. menuntut cinta yang diwujudkan dalam detail kehidupan, seperti Ibnu Umar.
• Tawakal sejati melahirkan keajaiban doa yang mustajab, seperti tukang roti dalam kisah Imam Ahmad.
• Sabar yang istiqamah melahirkan karya besar dan cahaya ilmu, seperti Imam Malik.
Semua ini adalah pengejawantahan dari tiga kewajiban hamba kepada Allah, yaitu mengikuti Rasul, bertawakal, dan bersabar hingga akhir hayat.
Bekal Ruhani untuk Umat
Apabila kita menunaikan kewajiban ini dengan ikhlas, maka Allah akan menunaikan kewenangan-Nya dengan penuh rahmat, yaitu menugaskan kita sesuai kemampuan, menetapkan ajal dengan penuh hikmah, dan mengurus segala urusan hidup kita.
Inilah keseimbangan hidup seorang mukmin: menyibukkan diri dengan tugas hamba, dan menenangkan hati dengan ketetapan Allah.
Semoga dengan mengambil pelajaran dari hikmah Sahl at-Tustari RA dan teladan para ulama salaf, kita mampu berjalan menuju Allah dengan hati yang tenang (qalbun salim), hingga saat dipanggil menghadap-Nya, kita wafat dalam keadaan sabar, tawakal, dan penuh cinta kepada Rasulullah Saw.
Refleksi Ruhani: Menyibukkan Diri dengan Kewajiban, Tenang dengan Ketetapan Allah
Hikmah ini mengajarkan keseimbangan. Seorang hamba tidak perlu sibuk mengkhawatirkan rezeki, ajal, atau urusan besar kehidupan karena itu wilayah Allah. Sebaliknya, ia harus fokus pada kewajiban: mengikuti Rasul, bertawakal, dan bersabar.
Kesalahan banyak manusia adalah terbalik: mereka sibuk dengan apa yang menjadi kewenangan Allah (rezeki, umur, hasil). Namun, lalai pada kewajibannya sendiri (ibadah, sabar, tawakal). Padahal, ketenangan jiwa akan hadir ketika seseorang menempatkan dirinya sesuai porsi. Serahkan hak Allah kepada Allah, tunaikan tugasmu sebagai hamba.
Penutup: Jalan Menuju Qalbun Salim
Jika seorang hamba menunaikan tiga kewajiban ini dengan istiqamah, maka ia akan kembali kepada Allah dalam keadaan qalbun salim (hati yang selamat). Ia tidak digelisahkan oleh dunia, tidak dirusak oleh hawa nafsu, dan tidak dipermainkan oleh harapan palsu.
Maka, marilah kita renungkan kembali:
• Apakah kita sibuk mengejar apa yang sudah menjadi urusan Allah?
• Apakah kita sudah sungguh-sungguh menunaikan kewajiban yang menjadi tugas kita?
Sahl at-Tustari mengingatkan bahwa jalan seorang salik adalah: taat pada perintah, yakin pada ketetapan, sabar dalam perjalanan, dan setia mengikuti Rasulullah Saw. hingga akhir hayat. Inilah kunci keselamatan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo