“Target Israel di Gaza bukan hanya sekadar menjajah,
tetapi sudah sampai menghancurkan dengan cara pembersihan etnis (ethnically
cleansing) tanah Palestina secara keseluruhan,” ujarnya dalam video yang
dirilis oleh Al-Jazeera English, Selasa (09/09/2025).
Tingkatan kerusakan yang kini tengah terjadi di Gaza
cukup memberikan petunjuk dan kesimpulan bahwa target Zionis adalah benar-benar
untuk menghancurkan bukan sekadar menjajah, dan antara keduanya memiliki
perbedaan yang jelas.
Jika targetnya hanya untuk menjajah, maka perlakuan
yang ditunjukkan adalah merawat wilayah jajahan baik penduduk maupun
pemukimannya. Akan tetapi fakta yang terjadi di Gaza, Zionis menginginkan kota
tanpa penduduk dan menghancurkannya secara total.
“Mereka (Zionis) sama sekali tidak memiliki moral atau
tanggung jawab resmi untuk menjaga pemukiman ini. Dan itulah rumus sempurna
untuk sebuah agenda genosida,” tuturnya.
Baru-baru ini, Israel telah menghancurkan Menara
Pemukiman di Kota Gaza, dan telah meratakan seluruh bangunan terdekat di
sekitarnya.
Penampakan itu adalah strategi yang sama ketika
militer Israel menghacurkan Rafah, yang
merupakan kota terbesar ketiga di Gaza.
“Di area tempat
Israel mengontrol, mereka memastikan bahwa area-area itu menjadi tempat
yang tidak dapat ditinggali dan tidak ada warga Palestina yang kembali ke sana.
Kita telah menyaksikan ini, di kota terluas ketiga di Gaza, yaitu Rafah,”
lanjut Tamer.
Rafah adalah kota yang padat penduduk, makmur, dan
perbatasan yang paling dekat dengan Mesir. “Kini sudah tidak ada lagi,” jelasnya.
Lanjut, ia menuturkan bahwa Zionis sedang melakukan
langkah yang sama atau setidaknya dari arahan petunjuk tertulis yang sama
ketika melenyapkan Gaza Utara, dan Israel telah mengumumkan bahwa saat ini operasi militernya yaitu daerah Timur Gaza telah lenyap. “Semua
lingkungan bersejarah juga telah diratakan,” lugasnya.
Tujuan dari negara Israel selanjutnya adalah mendorong warga Palestina
untuk dipindah ke zona konsentrasi,
yaitu menuju ke luar dipindahkan ke luar negeri. Meskpun rencana itu sebenarnya
telah dikecam sebagai catatan untuk kejahatan melawan kemanusiaan.
Tamer menyatakan seharusnya Komunitas Internasional
merasa sangat khawatir untuk pemindahan lanjutan warga Palestina yang jumlahnya
banyak dan tidak punya rumah, akan dikirim melalui laut atau memaksa mereka ke
Mesir.
Jika itu terjadi, maka Israel telah meraih tujuan
utamanya, yaitu membersihan jalanan Gaza, dan telah banyak aksi-aksi seruan
global melawan Israel untuk mencegah akibat tersebut agar tidak terjadi.
Oleh karena itu, setidaknya menurut Tamer, ada dua
pesan yang bisa diambil dari kebrutalan Israel.
“Pesan yang dikirim Israel dalam hal ini menurut
pandangan saya, pertama, Israel memiliki kesempatan emas untuk
melancarkan proyeknya. Karena saat ini mereka tinggal menyingkirkan sisa-sisa
warga Palestina yang tertinggal di wilayah pendirian proyek Israel sebagai
proyek kolonial (penjajahan),” bebernya.
Kedua, tidak peduli sebagai negara yang berada di komunitas
internasional, Israel merasa diakui sebagai suatu negara yang punya legal
standing, dan status yang unik.
Sehingga Israel selalu meyakini mereka akan kebal,
terlindung di atas hukum internasional, dan tidak peduli dengan kecaman dunia,
selama dunia tidak mampu mengambil tindakan nyata untuk melawan.
“ Setidaknya akankah keajaiban terjadi. Saya katakan
sebuah keajaiban itu adalah adanya kebangkitan nyata internasional. Sehingga
akan bisa menyaksikan adanya negara-negara mengambil sikap, kebangkitan global,
memboikot negara Israel, sanksi Israel, sehingga Israel merasakan sakit atas
perbuatan mereka di Gaza. Israel butuh untuk diisolasi dan dimarjinalkan,”
pungkasnya.[] M. Siregar
