Tintasiyasi.ID -- Pendahuluan
Hidup ini bagaikan ladang luas. Setiap manusia adalah petani yang setiap hari menabur benih melalui ucapan, pikiran, dan perbuatan. Ada yang menabur benih kebaikan, ada pula yang menabur benih keburukan. Waktu adalah musim tanam, dan kelak di akhirat setiap orang akan memanen hasil dari apa yang ditanamnya.
Dalam tradisi Jawa ada pepatah bijak, “Sing sapa nandur bakal ngundhuh” — siapa yang menanam, dia pula yang akan memetik hasilnya. Pepatah ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an yang menegaskan bahwa setiap amal perbuatan manusia, sekecil apapun, akan mendapatkan balasan yang setimpal.
Dan yang paling menenangkan hati adalah keyakinan bahwa “Gusti Allah ora sare”. Allah tidak pernah tidur, tidak pernah lalai, dan tidak pernah lengah. Dia Maha Melihat segala perbuatan, Maha Mendengar segala bisikan hati, dan Maha Mengetahui setiap rahasia.
Hukum Kehidupan: Menabur dan Menuai
Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an:
“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya). Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya).”
(QS. Az-Zalzalah: 7-8)
Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak berjalan tanpa makna. Segala sesuatu tercatat. Bahkan niat baik yang belum terwujud bisa bernilai pahala, dan niat buruk yang ditinggalkan karena takut kepada Allah akan dicatat sebagai amal shalih.
Maka, jika kita menabur benih kejujuran, keikhlasan, dan amal shalih, hasilnya adalah keberkahan hidup. Sebaliknya, jika menabur benih kebohongan, kedzaliman, dan maksiat, maka hasilnya adalah kesengsaraan.
Gusti Allah Ora Sare: Allah Tidak Pernah Lalai
Banyak orang merasa bebas melakukan keburukan karena mengira tidak ada yang memperhatikan. Padahal Allah sudah mengingatkan:
“Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.”
(QS. Ibrahim: 42)
Ayat ini mengingatkan bahwa meski kezaliman seolah dibiarkan di dunia, tetapi Allah tidak pernah tidur. Dia memberi kesempatan agar pelaku kezaliman bertobat. Namun bila tetap keras kepala, balasan pasti datang di dunia maupun di akhirat.
Kisah Inspiratif: Umar bin Abdul Aziz dan Keadilan yang Hidup
Sejarah Islam menyimpan teladan indah tentang pemimpin yang sadar benar bahwa Allah tidak pernah tidur, yaitu Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Dikisahkan, suatu malam ia sedang menulis surat untuk urusan negara dengan lampu minyak dari kas negara. Ketika anaknya datang membicarakan urusan keluarga, Umar segera memadamkan lampu itu dan menyalakan lampu milik pribadinya.
Anaknya heran dan bertanya, “Mengapa ayah memadamkan lampu tadi?” Umar menjawab, “Lampu itu minyaknya berasal dari baitul mal (harta negara), tidak pantas digunakan untuk urusan pribadi.”
Inilah bukti bahwa keyakinan “Allah Maha Melihat” membuat Umar bin Abdul Aziz berhati-hati dalam perkara kecil sekalipun. Ia sadar bahwa sekecil apapun amal akan diperhitungkan.
Refleksi Kehidupan Kita
Di zaman modern ini, banyak orang yang tergoda menabur benih keburukan: korupsi, fitnah, hoaks, atau menzalimi orang lain demi kepentingan pribadi. Mereka merasa aman karena tidak ada manusia yang tahu. Tetapi lupa bahwa Allah tidak pernah tidur.
Sebaliknya, sering kali orang yang menabur kebaikan tidak langsung melihat hasilnya. Ia bersedekah, membantu sesama, menjaga lisan, dan berbuat jujur — tapi balasannya tidak segera terlihat. Jangan berkecil hati. Ingatlah, panen tidak selalu datang di hari yang sama dengan musim tanam. Terkadang butuh waktu.
Menjadi Penabur Kebaikan
Agar hidup ini berbuah manis, mari kita menjadi penabur kebaikan setiap hari:
1. Menabur dengan lisan: berkata yang benar, menghibur yang sedih, memberi nasihat dengan lembut.
2. Menabur dengan hati: ikhlas, husnuzhan, mendoakan kebaikan orang lain.
3. Menabur dengan amal nyata: sedekah, menolong yang lemah, menunaikan amanah.
4. Menabur dengan ilmu: mengajarkan kebaikan, menulis yang bermanfaat, dan membimbing generasi.
Semua taburan ini akan kembali kepada kita dalam bentuk ketenangan batin, keberkahan hidup, dan pahala abadi di akhirat.
Doa Penutup
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَزْرَعُونَ الْخَيْرَ فَيَحْصُدُونَ الرِّضْوَانَ وَالْجَنَّةَ.
“Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang mendengar nasehat lalu mengikuti yang terbaik darinya. Jadikan kami penabur kebaikan yang kelak memanen keridhaan-Mu dan surga-Mu.”
Kesimpulan:
Hidup ini adalah ladang. Jangan sia-siakan kesempatan untuk menabur kebaikan. Sebab Gusti Allah ora sare — Allah tidak pernah tidur. Dia Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Maha Mengetahui. Mari kita jaga hati, lisan, dan perbuatan agar setiap yang kita tanam menjadi investasi abadi menuju akhirat.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)