TintaSiyasi.id -- Pendahuluan
Bangsa yang besar tidak runtuh karena miskin sumber daya, melainkan karena miskin akhlak. Negeri yang luas tidak hancur karena lemah ekonominya, melainkan karena hilangnya kejujuran dan amanah. Karena itu, introspeksi diri—baik bagi penguasa maupun rakyat—adalah kebutuhan mendesak.
Lebih-lebih bagi para pejabat yang diberi amanah, janganlah abai dan lebai. Jabatan adalah ujian, bukan kemewahan. Kekuasaan adalah titipan, bukan hak milik pribadi. Harta negara bukan untuk memperkaya diri, melainkan untuk menyejahterakan rakyat.
Namun rakyat pun tidak boleh hanya menuding ke atas tanpa memperbaiki diri. Negeri akan makmur jika penguasa adil dan rakyat jujur. Allah SWT menegaskan:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).
Kritik sebagai Amar Makruf Nahi Mungkar
Dalam Islam, mengingatkan penguasa ketika menyimpang adalah bagian dari amar ma’ruf nahi munkar. Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim).
Maka, kritik terhadap rezim adalah fardhu kifayah: kewajiban sosial yang jika sudah ada sebagian umat melakukannya, gugurlah kewajiban dari yang lain. Namun kritik ini harus dijalankan dengan adab, bukan dengan emosi. Ia harus menyadarkan, bukan memecah-belah.
Rambu-rambu Kritik: Anarkisme Haram
Allah SWT berfirman:
“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. An-Nahl: 125).
Ayat ini memberi pedoman bahwa kritik harus berlandaskan hikmah, bukan kebencian. Anarkisme yang merusak, menyakiti rakyat, atau menebar fitnah adalah haram. Rasulullah SAW pun mengingatkan dalam khutbah Haji Wada’:
“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah suci, sebagaimana sucinya hari ini, di bulan ini, dan di negeri ini.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dengan demikian, mengoreksi penguasa boleh bahkan wajib, tetapi merusak fasilitas umum atau menyakiti sesama rakyat dengan dalih kritik adalah perbuatan yang salah.
Keteladanan Ulama Dunia Islam
Banyak ulama memberi contoh bagaimana menegur penguasa dengan adab:
Imam Abu Hanifah menolak jabatan hakim agung dari Khalifah Al-Mansur, meski akhirnya dipenjara. Sikapnya adalah kritik halus: jabatan adalah amanah, bukan kesempatan memperkaya diri.
Imam Ahmad bin Hanbal menolak tunduk pada doktrin sesat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Beliau dipenjara dan disiksa, tetapi tidak pernah mencaci penguasa.
Ibn Taimiyyah menulis nasihat kepada penguasa, menekankan bahwa negeri bisa bertahan dengan keadilan, tapi hancur karena kezaliman.
Imam Nawawi menolak permintaan Sultan Baybars yang ingin memakai harta wakaf untuk perang. Kritiknya tegas namun santun, hingga beliau diusir, tetapi dihormati sepanjang zaman.
Keteladanan Ulama Nusantara
Ulama Nusantara pun memberi teladan dalam menegur penguasa:
KH. Hasyim Asy’ari menolak perintah Jepang untuk melakukan seikerei. Beliau dipenjara, tetapi tetap tegas tanpa melakukan anarkisme.
KH. Ahmad Dahlan mengkritik masyarakat yang hanya membaca Al-Ma’un tanpa mengamalkannya. Beliau menunjukkan kritik dengan aksi nyata: mendirikan sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan.
Haji Agus Salim mengingatkan para politikus dengan kritik yang tajam namun penuh humor dan adab, hingga pesannya sampai tanpa menimbulkan kebencian.
Pelajaran bagi Kita
Dari sejarah ulama, kita belajar bahwa kritik yang benar harus:
1. Berbasis fakta, bukan fitnah.
2. Ikhlas karena Allah, bukan karena dendam politik.
3. Santun dalam penyampaian, bukan dengan emosi.
4. Mengandung solusi, bukan sekadar celaan.
Maka, kritik yang benar adalah cahaya. Kritik yang ngawur hanya menambah gelap.
Introspeksi: Jalan Menuju Perbaikan Bangsa
Introspeksi adalah kunci perbaikan. Bagi pejabat, introspeksi berarti kembali pada amanah, bekerja sungguh-sungguh, dan mengutamakan kepentingan rakyat. Bagi rakyat, introspeksi berarti hidup jujur, disiplin, dan ikut serta menjaga kebaikan negeri.
Sejarah mencatat bahwa negeri yang adil akan makmur, meski rakyatnya sederhana. Sebaliknya, negeri yang zalim akan hancur meski sumber dayanya melimpah. Maka, introspeksi adalah jalan menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur—negeri yang baik dan mendapat ampunan Tuhan.
Doa Penutup
اللَّهُمَّ اهْدِنَا وَاهْدِ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِلْحَقِّ وَالْعَدْلِ، وَاصْرِفْ عَنْهُمْ وَعَنَّا الظُّلْمَ وَالْفَسَادَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ.
Artinya:
“Ya Allah, tunjukilah kami dan para pemimpin kami jalan yang benar. Berilah mereka taufik untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Jauhkanlah dari mereka dan dari kami segala bentuk kezaliman dan kerusakan. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mau mendengar nasihat lalu mengikuti yang terbaik darinya.”
اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ بَلَدًا آمِنًا، سَخَّاءً رَخَاءً، وَبَارِكْ فِيْهِ وَفِيْ أَهْلِهِ، وَاجْعَلْهُ بَلْدَةً طَيِّبَةً وَرَبًّا غَفُوْرًا.
Artinya:
“Ya Allah, jadikanlah negeri kami negeri yang aman, sejahtera, penuh keberkahan, dan limpahan rahmat-Mu. Jadikanlah ia negeri yang baik lagi Engkau limpahkan ampunan-Mu.”
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)