Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Rangkaian Cinta yang Mengantarkan ke Surga

Selasa, 09 September 2025 | 01:17 WIB Last Updated 2025-09-08T23:15:16Z

TintaSiyasi.id -- Cinta Allah – Cinta Rasulullah – Cinta Al-Qur’an – Cinta Syariat

Pendahuluan

Malam ini berkesempatan ngisi Maulid Nabi Muhammad SAW di Kampung halamannya Prof Mahfud MD di Pademawu Pamekasan Madura. Inilah poin-poin materi yang saya sampaikan dihadapan sekitar 500 orang jamaah pengajian Maulid.

Dalam kehidupan, manusia selalu mencari cinta. Ada yang mencari cinta pada sesama manusia, pada harta, jabatan, bahkan pada dunia yang fana. Namun, ada satu cinta yang tidak akan pernah mengecewakan, yaitu cinta kepada Allah SWT. Dari cinta kepada Allah akan lahir cabang-cabang cinta yang lain: cinta kepada Rasulullah SAW, cinta kepada Al-Qur’an, dan cinta kepada syariat Islam. Rangkaian cinta inilah yang menjadi tali pengikat iman dan penuntun menuju surga.

1. Cinta kepada Allah: Fondasi Segala Cinta

Allah adalah Pencipta, Pengatur, dan Pemilik seluruh alam semesta. Dialah yang memberi kehidupan, rezeki, kesehatan, dan segala nikmat yang kita rasakan. Maka, mencintai Allah adalah kewajiban sekaligus kebutuhan hati.

Namun, cinta kepada Allah tidak cukup diucapkan dengan lisan, tetapi harus dibuktikan dengan ketaatan. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menjadikan tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)

Cinta kepada Allah menjadi pondasi. Jika fondasi ini kokoh, maka cinta lainnya akan ikut kokoh.

2. Cinta kepada Rasulullah: Jalan Mengikuti Allah

Tidak ada jalan mencintai Allah kecuali melalui mengikuti Rasulullah SAW. Allah menegaskan:

> “Katakanlah: Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali Imran: 31)

Cinta Rasul bukan sekadar shalawat di lisan, tetapi juga meneladani akhlaknya, menjalankan sunnahnya, dan membela kehormatannya. Rasulullah adalah wujud kasih sayang Allah kepada manusia:

“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

Barangsiapa mencintai Rasulullah, maka dia akan dibangkitkan bersama beliau di akhirat. Sebagaimana sabda Nabi SAW:

“Seseorang akan dikumpulkan bersama siapa yang ia cintai.” (HR. Bukhari & Muslim)

3. Cinta kepada Al-Qur’an: Cinta kepada Petunjuk Hidup

Rasulullah SAW membawa amanah terbesar: Al-Qur’an. Maka, cinta kepada beliau otomatis menumbuhkan cinta kepada Al-Qur’an.

Cinta Al-Qur’an tampak pada tiga hal:

1. Membaca dengan tartil dan khusyuk.

2. Mentadabburi isinya, memahami pesan-pesannya.

3. Mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sayyidah Aisyah RA ketika ditanya tentang akhlak Nabi menjawab:

Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.” (HR. Muslim)

Artinya, mencintai Al-Qur’an berarti meneladani Rasulullah yang menjadi perwujudan nyata isi Al-Qur’an.

4. Cinta kepada Syariat: Wujud Nyata Penghambaan

Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, melainkan kitab petunjuk yang harus dijalankan. Dari sinilah lahir syariat Islam: aturan halal-haram, ibadah, muamalah, akhlak, dan seluruh sistem kehidupan.

Maka, cinta Al-Qur’an harus terwujud dalam kecintaan pada syariat. Orang yang benar-benar cinta Al-Qur’an akan senang melaksanakan shalat, zakat, puasa, haji, menjaga lisan, menegakkan keadilan, menolong sesama, dan menjauhi yang haram.

Allah SWT berfirman:

“Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) berada di atas suatu syariat dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiyah: 18)

Mencintai syariat berarti rela diatur oleh Allah, bukan oleh hawa nafsu.

5. Refleksi: Mata Rantai Cinta yang Sempurna

Jika kita renungkan, maka rantai cinta itu jelas:

Cinta Allah → mengantarkan kepada cinta Rasulullah.

Cinta Rasulullah → mengantarkan kepada cinta Al-Qur’an.

Cinta Al-Qur’an → mengantarkan kepada cinta syariat.

Cinta syariat → mengantarkan kepada ridha Allah.

Inilah lingkaran cinta yang sempurna. Bila salah satu terputus, maka cintanya belum sempurna.

Kisah Inspiratif: Cinta Sahabat kepada Rasulullah

Suatu ketika seorang sahabat bernama Anas bin Malik RA berkata:

“Tidak ada sesuatu yang membuat kami lebih gembira setelah masuk Islam daripada sabda Nabi: ‘Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.’ Maka aku mencintai Nabi, Abu Bakar, dan Umar, dan aku berharap akan bersama mereka, meskipun aku tidak beramal sebagaimana mereka.” (HR. Bukhari)

Kisah ini mengajarkan bahwa cinta yang benar akan menghubungkan hati seorang hamba dengan kekasihnya, dan Allah akan mengumpulkan mereka bersama di akhirat.

Penutup dan Doa

Cinta adalah energi ruhani terbesar dalam hidup seorang mukmin. Cinta kepada Allah, Rasulullah, Al-Qur’an, dan syariat bukan hanya menghiasi hati, tetapi juga menggerakkan amal. Cinta inilah yang membuat hidup bermakna, ibadah terasa nikmat, dan perjuangan terasa ringan.

Doa:
“Ya Allah, karuniakan kepada kami cinta-Mu, cinta kepada Rasul-Mu, cinta kepada kitab-Mu, dan cinta kepada syariat-Mu. Jadikanlah cinta itu cahaya yang menerangi langkah kami, penenang hati kami, dan penyelamat kami di hari perjumpaan dengan-Mu. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.”

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update