TintaSiyasi.id -- Beberapa waktu lalu publik dihebohkan dengan sebuah surat wasiat dari seorang ibu yang melakukan bunuh diri sekaligus membunuh kedua anaknya. Dalam surat itu, sang ibu menyatakan tidak kuat menanggung malu dan tekanan ekonomi. Suaminya terlilit utang akibat judol dan pinjol (Detik.com, 06-09-2025).
Kasus bunuh diri yang dilakukan seorang ibu ini telah menampar kita semua. Ternyata kehidupan saat ini tidak baik-baik saja. Semua sedang berperang dengan segala ujiannya.
Kapitalisme dan Kehidupan Semu
Pasang surut kehidupan adalah hal yang alami terjadi. Namun, beberapa tahun terakhir ini keadaan semakin sulit dan pengeluaran makin meningkat. Hal ini berbanding terbalik dengan pendapatan yang kian menurun, sementara tindak kejahatan yang melonjak naik menimbulkan rasa cemas.
Di sisi lain, dalam kehidupan dunia maya, iklan pinjol dan judol sangat masif. Bagi seseorang yang sedang kalap, seolah ini adalah tawaran yang sulit ditolak. Iklan ini bagaikan racun dalam bungkus permen yang mematikan.
Berdasarkan data PPATK tahun 2025, nilai transaksi judol di Indonesia hampir menyentuh angka Rp1.000 triliun. Permainan judol telah menjadi daya tarik yang menimbulkan efek kecanduan. Begitupun dengan pinjaman online yang menjadi pilihan di tengah kesulitan keuangan keluarga, bahkan ada juga yang melakukan pinjol demi bisa bermain judol.
Faktanya, saat kekalahan terus terjadi dan pikiran semakin buntu, utang pinjol yang semakin mencekik disinyalir menjadi penyebab seseorang gelap mata, nekat melakukan aksi kejahatan, bahkan bunuh diri.
Pondasi yang rapuh mengakibatkan mental mudah runtuh. Pendidikan yang tidak memadai hanya condong pada nilai akademis tanpa memperhatikan nilai agama dan moral. Terpisahnya agama dan kehidupan menjadikan jurang lebar di antara keduanya. Tak ada tempat pulang mencari jawaban segala permasalahan hidup.
Lemahnya peran keluarga tak jarang menambah luka. Pengasuhan yang tidak didapatkan menjadikan diri mudah terombang-ambing. Kehidupan sekuler yang menguasai segala lini kehidupan membuat rakyat harus berjuang menjaga kewarasannya. Pelarian yang salah bisa menjadi efek domino. Bekerja tanpa kenal waktu untuk mengumpulkan uang demi bisa bersenang-senang. Kebahagiaan semu yang menipu.
Menjauhkan diri dari agama, keluarga, dan interaksi sosial. Tak ada rasa syukur dan iman di dalamnya. Penilaian kesuksesan dari masyarakat menjadi patokan. Pijakan yang lemah membuat kita sering menemukan orang yang mengalami gejala mental illness.
Mental illness yang dibiarkan akan membahayakan. Banyaknya kasus bunuh diri merupakan contoh pengabaian yang nyata. Bunuh diri bukanlah tindakan spontan, tetapi terlintas dalam pikiran dalam waktu yang lama dengan persiapan yang matang.
Sekulerisme meniadakan hadirnya peran negara. Negara hanya akan bereaksi jika masalah sudah menjadi opini publik. Tindakan yang dilakukan hanya meredam suara rakyat, tetapi tidak menyentuh inti masalah. Pola ini biasa terjadi di negara kapitalis.
Negara yang seharusnya membebaskan rakyatnya dari beban yang ditanggung malah ikut membebani rakyat. Beban ekonomi meruntuhkan mental.
Kesempurnaan Islam sebagai Solusi
Islam sempurna mengatur segala urusan kehidupan manusia. Setiap aspek tidak luput dari perhatian, termasuk masalah kesehatan mental. Seperti dijelaskan dalam surat Al-A’raf ayat 201:
"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah."
Maraknya kasus bunuh diri yang terjadi bisa disebabkan oleh dua hal, di antaranya:
1. Salah kaprah dalam memandang kehidupan. Kapitalisme menjadikan dunia sebagai tujuan utama, sedangkan Islam memandang dunia hanya tempat bersenda gurau. Seperti yang terkandung dalam surat Al-Hadid ayat 20:
"Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau."
2. Berlepas tangannya negara dalam meringankan beban rakyat. Beban rakyat yang terlalu berat bisa menjadi faktor utama bunuh diri. Ekonomi yang mencekik, kehidupan yang semakin individualis, dan negara yang lepas tangan tidak memberikan rasa aman dan tenang. Seperti tercantum dalam Hadis Riwayat Abu Nuaim:
"Sesungguhnya kemiskinan itu mendekatkan pada kekufuran."
Untuk menyelesaikan masalah ini, kita perlu kerja sama semua pihak. Adanya amar ma’ruf nahi munkar dan kontrol yang ketat agar terlaksananya syariat Islam. Memastikan kegiatan muamalah rakyat agar tidak melenceng.
Khalifah akan langsung melakukan pemblokiran situs dan aplikasi pinjol serta judol. Khalifah akan memastikan rasa aman dan nyaman bagi rakyatnya. Kepastian ekonomi dengan terpenuhinya kebutuhan dasar rakyat. Mudahnya mendapatkan lapangan pekerjaan dengan upah yang cukup.
Pendidikan berlandaskan akidah Islam dan memastikan semua rakyat memiliki pemahaman Islam yang sahih. Menjadikan Rasulullah saw. sebagai uswatun hasanah dalam menjalani kehidupan. Memperkuat ikatan keluarga dengan memastikan berjalannya tugas anggota keluarga sesuai perannya.
Oleh: Yeni Nur Hafifah
Aktivis Muslimah