Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Mulutmu Harimaumu: Keselamatan Manusia Tergantung Bagaimana Menjaga Lisannya

Selasa, 09 September 2025 | 01:17 WIB Last Updated 2025-09-08T23:12:38Z

TintaSiyasi.id -- Pendahuluan

Ada pepatah lama yang berbunyi: “Mulutmu harimau-mu.” Ungkapan ini sederhana, namun sarat makna. Ia mengajarkan kepada kita bahwa lisan adalah salah satu anugerah Allah SWT yang paling berharga sekaligus paling berbahaya. Dengan lisan, manusia bisa meraih kemuliaan; tapi dengan lisan pula manusia bisa terjerumus ke dalam kehinaan.

Dalam Islam, menjaga lisan bukan sekadar etika sosial, melainkan bagian penting dari iman. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengisyaratkan bahwa iman seseorang tercermin dari cara ia mengelola lisannya.

Lisan: Sumber Kebaikan dan Kebinasaan

Lisan adalah cermin hati. Jika hati bersih, ucapan yang keluar akan penuh kelembutan, hikmah, dan kebaikan. Sebaliknya, jika hati kotor, maka lisan akan menjadi sumber fitnah, kebohongan, dan permusuhan.

Rasulullah ﷺ bersabda ketika ditanya tentang hal yang paling banyak menjerumuskan manusia ke neraka:

“Mulut dan kemaluan.”
(HR. Tirmidzi)

Betapa banyak persaudaraan hancur karena satu kata. Betapa banyak darah tertumpah karena ucapan yang tak terkendali. Bahkan, betapa banyak orang shalih yang amalnya gugur hanya karena lisan yang tidak dijaga.

Pentingnya Menjaga Lisan

Al-Qur’an menegaskan bahwa setiap ucapan manusia selalu tercatat:

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu hadir.”
(QS. Qaf: 18)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa ucapan yang kita anggap ringan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Perkataan bukan sekadar bunyi, melainkan catatan amal.

Ibnul Qayyim pernah menulis: “Tidak ada anggota tubuh yang lebih berbahaya bagi manusia selain lisannya. Betapa banyak orang yang terjerumus ke neraka hanya karena perkataan mereka.”

Macam-Macam Dosa Lisan

1. Ghibah (Menggunjing): membicarakan aib orang lain yang jika ia dengar pasti tidak suka.

2. Namimah (Adu Domba): menyebarkan cerita untuk merusak hubungan.

3. Dusta: meski dianggap ringan, bisa menghancurkan kepercayaan dan membawa dosa besar.

4. Sumpah Palsu: menodai nama Allah untuk kepentingan dunia.

5. Ucapan Sakit Hati: merendahkan, menghina, atau mencela.

Setiap kata memiliki konsekuensi, baik di dunia maupun di akhirat.

Kisah Inspiratif Ulama dan Salaf

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah memegang lidahnya sendiri sambil berkata: “Inilah yang membuatku banyak menyesal.”

Begitu juga Imam Asy-Syafi’i rahimahullah pernah berpesan:
"Jika engkau ingin berbicara, pikirkanlah. Jika engkau yakin ada kebaikan, bicaralah. Jika engkau ragu, diamlah."

Kehati-hatian mereka menunjukkan betapa beratnya hisab ucapan di sisi Allah.

Lisan sebagai Jalan Surga

Lisan bukan hanya sumber bahaya, tetapi juga sarana menuju surga.

Dengan lisan kita bisa berdzikir, membaca Al-Qur’an, dan bershalawat kepada Nabi ﷺ.

Dengan lisan kita bisa menebar salam, memberi nasihat, dan menyampaikan ilmu.

Dengan lisan kita bisa memotivasi orang lain dan menyelamatkan jiwa dari keputusasaan.

Satu ucapan yang baik bisa menjadi sebab seseorang masuk surga. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang diridhai Allah, tanpa ia sadari, maka Allah meninggikan derajatnya dengan kalimat itu. Dan seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang dimurkai Allah, tanpa ia sadari, maka ia terjerumus ke dalam neraka karenanya.”
(HR. Bukhari)

Tips Praktis Menjaga Lisan

1. Banyak berdzikir agar lisan terbiasa dengan kebaikan.

2. Berpikir sebelum bicara: tanyakan, apakah ini bermanfaat? Jika tidak, diam lebih baik.

3. Kurangi debat kusir yang hanya memperkeruh keadaan.

4. Latih diri untuk diam ketika marah.

5. Gunakan lisan untuk doa, ilmu, dan salam.

Refleksi Kehidupan

Di era digital sekarang, menjaga lisan tidak hanya berarti menjaga ucapan, tetapi juga menjaga jari dan tulisan. Status, komentar, atau pesan di media sosial adalah bagian dari “lisan digital” yang juga akan dipertanggungjawabkan.

Satu komentar bisa membangun semangat orang lain, tapi bisa juga menghancurkan hidupnya. Karena itu, prinsip “Qul khairan aw li-yasmut” (katakan yang baik atau diam) relevan dalam setiap zaman.

Penutup

“Mulutmu harimau-mu.” Jika kau biarkan, ia akan menerkammu. Tapi jika kau kendalikan, ia akan menjadi pelindung dan penyelamatmu.

Lisan adalah amanah. Keselamatan manusia sangat bergantung pada bagaimana ia menjaga ucapannya. Gunakan lisan untuk menyebar kebaikan, bukan keburukan. Sebab di akhirat kelak, tidak ada satu pun kata yang luput dari perhitungan Allah SWT.

Semoga Allah menolong kita untuk selalu menjaga lisan, sehingga ia menjadi jalan menuju rahmat-Nya dan bukan menjadi penyebab kemurkaan-Nya.

Renungan:
Berapa banyak kata yang telah kita ucapkan hari ini? Apakah lebih banyak yang membawa manfaat, ataukah lebih banyak yang membawa pada perbuatan dosa.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update