Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Menghidupkan Koneksi Sosial Islami untuk Lawan Lonely in Crowd

Selasa, 30 September 2025 | 15:31 WIB Last Updated 2025-09-30T08:31:35Z

TintaSiyasi.id -- Hilangnya kebiasaan ngobrol tatap muka sekarang banyak disebabkan oleh dominasi media sosial dan teknologi. Orang lebih sering texting atau scroll medsos daripada ngobrol langsung, akibatnya kedekatan emosional dan empati menurun. Bahkan saat nongkrong bareng, banyak yang cuma fokus ke ponsel, bukan saling komunikasi. Fenomena ini disebut lonely in the crowd, yang bikin interaksi sosial jadi dangkal dan bikin kesepian malah makin terasa.  

Manusia modern yang larut dalam media sosial menghabiskan banyak waktu scrolling tanpa tujuan jelas. Merasa gelisah jika tidak bisa akses medsos dan terobsesi dengan jumlah followers, hal menyebablan kurang peka dengan lingkungan karena terlalu fokus gadget.

Penggunana ponsel berlebihan memberikan dampak resiko secara spikologi dan kesehatan. Secara psikologi, penggunaan medsos yang berlebihan menyebabkan kecemasan, depresi, stres, bahkan menurunkan harga diri karena perbandingan sosial dan FOMO (takut ketinggalan). Dari sisi kesehatan, hal ini bisa memicu peradangan kronis, gangguan tidur, risiko penyakit jantung, dan masalah fisik seperti sakit kepala dan nyeri punggung. 
 
Handphone jadi alat pengontrol gaya hidup yang memicu individualisme dan konsumtisme. Media sosial dan aplikasi dirancang agar kita terus terpaku, mengurangi interaksi sosial langsung, sampai muncul rasa kesepian meski ramai online. Jadi, ponsel jadi "alat penjajahan" kapitalis yang mengubah cara kita hidup jadi lebih pasif dan terkungkung digital.

Sementara di sisi lain Islam mengajari manusia menjadi produktif. Islam sebagai cara pandang sekaligus panduan kehidupan manusia akan menjadikan masyarakat mampu memanfaatkan waktu dan potensi yang diberikan Allah untuk kebaikan diri, keluarga, dan masyarakat luas, menghasilkan karya yang bermanfaat dalam aktifitas amar makruf nahi mungkar.

Allah SWT mengabarkan bahwa manusia dalam keadaan merugi jika mereka tidak berbalut dalam aktifitas ketaatan yang akan menjadikan mereka beruntung Allah telah berfirman dalam surah Al-Asr ayat 1-3:

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, serta saling menasihati untuk (menetapi) kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al-Asr: 1-3)

Manusia yang memahami hakekat penciptaan tidak akan melakukan suatu aktifitas yang sia-sia seperti scrooling sebab mereka paham bahwa setiap aktivitas akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat kelak. Waktu adalah nikmat yang terbesar bagi hidup ini dan tidak semua orang mampu merasakan nikmat keberkhaan waktu meskipun ia seorang yang kaya raya.

Akvitas individu dan sosial akan dijalankan sesuai tuntunan syariat. Semua dilandaskan bukan seberapa banyak kita meraih keuntungan materi atau manfaatnya namun pada orientasi mencari ridha Allah. Kita diciptakan sebagai makhluk sosial yang pasti membutuhkan satu sama lain. Interaksi sosial yang aktif dan produktif ini akan memberikan kesehatan jiwa, mental, dan fisik itu sendiri.

Dengan banyak berinterkasi secara nyata akan memberikan jalinan kasih sayang, memperpanjang umur dan meluaskan rezeki. Interaksi yang sehat akan dibentuk melalui ruang lingkup terkecil yaitu keluarga. Dimana keluarga akan memberikan peran utama mereka didalam keluarganya. Interaksi yang terjadi adalah interaksi yang dinamis dan sehat. 

Di sudut pandang yang lain Islam juga mendorong interaksi sosial berkualitas bukan cuma keramaian, tapi hubungan yang bermakna dan empati antar individu. Mengajak masyarakat aktif dalam kegiatan majelis ta’lim dan kajian agar terbetuk masyarakat yang paham akan tujuan hidup yang sebenarnya. Membentuk komunitas yang hangat dan suportif dengan mencintai ilmu. Ilmu adalah pondasi utama meraih sukses dunia dan akhirat. 

Negara sebagai bagian terbesar akan memetakan lingkungan sosial yang sehat dengan pemanfaatan sumber daya manusia sesuai bidangnya masing-masing. Membuka lapangan kerja yang merata agar tidak ada lagi yang menjadi pengangguran yang hanya mengahabiskan waktunya pada aktifitas yang sia-sia. Negara juga akan membentuk media sosail yang memberikan dampak positif dengan menyebarkan kebaikan dan informasi yang bermanfaat, sehingga harapannya media sosial ini sejalan dengan nilai agama. []


Putri Rahmi DE, SST
Aktivis Muslimah

Opini

×
Berita Terbaru Update