TintaSiyasi.id -- Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) masih menemukan berbagai problem hingga saat ini. Penyebaran pelaksanaan program ini belum merata, namun sudah menghabiskan dana yang tidak sedikit dan menimbulkan problem serius. Ratusan siswa di Sleman dan Bengkulu alami keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di waktu yang nyaris bersamaan, yakni Agustus 2025. Di Kabupaten Sleman, DIY, kasus keracunan menimpa 135 siswa dan dua guru. Sementara, di Kabupaten Lebong, Bengkulu, keracunan menimpa 427 siswa, termasuk guru. (liputan6.com, 2/9/2025)
Tidak hanya itu, puluhan pelajar di Pondok Pesantren Al Islah, Lampung Timur, diduga mengalami keracunan usai menyantap makanan dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Insiden tersebut membuat 23 santri tingkat SMP hingga SMA harus mendapat perawatan medis. (liputan6.com, 30/8/2025)
Masih banyak lagi kasus-kasus serupa yang terjadi di beberapa wilayah lain akibat keracunan makanan bergizi gratis yang diberikan. Program MBG ini adalah salah satu program yang dijalankan sebagai wujud dari janji presiden saat kampanye. Dengan adanya program MBG ini diharapkan dapat menyelesaikan persoalan malnutrisi dan stunting yang banyak terjadi. Tidak sedikit yang menyambut baik program ini dan tidak sedikit juga yang pesimis terhadap program ini. Alih-alih menyelesaikan persoalan malnutrisi, program ini justru menambah persoalan baru yang seharusnya tidak terjadi. Terbukti dengan ditemukannya kasus keracunan di wilayah yang berbeda.
Program MBG lahir dari paradigma kapitalisme yang terkesan mentah dan terburu-buru. Hal ini terbukti dari minimnya pengawasan standar kesehatan dan kebersihan terhadap makanan yang diedarkan kepada para pelajar. Belum lagi makanan yang banyak tersisa sebab para siswa tidak suka atau tidak sesuai selera. Akibatnya banyak makanan terbuang. Program MBG ini gagal dalam menyelesaikan persoalan gizi buruk atau malnutrisi sebab akar persoalannya terletak pada gagalnya negara mewujudkan kesejahteraan dalam sistem kapitalisme ini. Kapitalisme menciptakan kesenjangan sosial yang jauh di tengah masyarakat. Kemiskinan semakin bertambah, sulitnya mencari lapangan pekerjaan hingga menyebabkan pemenuhan kebutuhan masyarakat terancam.
Solusi yang lahir dalam paradigma kapitalisme adalah solusi tambal sulam yang tidak akan menyelesaikan persoalan. Hal ini dikarenakan kapitalisme adalah sistem hidup yang rusak sehingga menimbulkan kerusakan pada tatanan kehidupan masyarakat dalam berbagai aspek termasuk kemiskinan. Proyek MBG ini juga tak jarang dijadikan sebagai proyek untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya. Terlihat dari kualitas dan kuantitas makanan yang disajikan kepada para siswa.
Jika kita ingin menyelesaikan problem malnutrisi dan stunting, maka kita harus melihat pada akar persoalan ini terjadi. Islam sebagai agama sekaligus pedoman hidup juga sangat memperhatikan kesehatan masyarakat. Sebab, kesehatan adalah hal penting dan merupakan tanggung jawab negara. Penerapan Islam kaffah dalam Daulah Khilafah akan mewujudkan kesejahteraan dalam berbagai aspek kehidupan. Untuk menuntaskan persoalan malnutrisi dan stunting maka kita harus menuntaskan dari akar persoalannya yaitu tidak terwujudnya kesejahteraan di masyarakat sehingga masyarakat tidak bisa menjamin terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan, dan papan secara baik.
Khilafah akan membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya dengan mengembalikan harta-harta kepemilikan umum untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Segala jenis sumber daya alam tentunya membutuhkan banyak sumber daya manusia, maka negara akan membuka industri yang akan menyerap lapangan pekerjaan. Hal ini tentunya akan mengurangi pengangguran yang saat ini banyak terjadi.
Selain itu, negara Khilafah mempunyai tanggung jawab penuh terhadap pemenuhan kebutuhan rakyatnya secara individu per individu baik sandang, pangan maupun papan secara layak. Bagi rakyat yang tidak mampu memenuhinya sebab janda, tua renta, lemah fisik dan mental, serta tidak memiliki wali, maka tanggung jawab nafkahnya akan beralih pada negara. Negara Khilafah juga akan menyediakan fasilitas kesehatan gratis.
Khilafah akan mampu menuntaskan kemiskinan dari pos-pos pemasukan di Baitul Mal. Khilafah Islam telah memiliki mekanisme yang rinci dalam mewujudkan kesejahteraan dan telah terbukti pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz tidak ditemukan orang miskin sehingga tidak ada yang layak menerima zakat.
Inilah bukti nyata bahwa hanya Islam yang mampu mewujudkan kesejahteraan, menuntaskan problem malnutrisi dan stunting, bukan dengan cara praktis seperti MBG dalam kapitalisme.
Wallahu a'lam bish-shawab
Penulis: Pipit Ayu
Aktivis Muslimah