Tintasiyasi.id.com -- Serangan brutal Zion*s pada 9 September 2025 ke Kota Doha mengguncang dunia. Untuk pertama kalinya, ibu kota Qatar jadi sasaran rudal. Gedung yang dipakai pejabat Hamas untuk membahas proposal gencatan senjata ala Amerika luluh lantak.
Lima anggota Hamas syahid, seorang pengawal Qatar ikut wafat, sementara tokoh penting negosiasi selamat. Aksi itu membuat pemerintah Qatar naik pitam. Perdana Menteri Syekh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani menyebutnya sebagai “Terorisme negara” dan menuding Netanyahu menjerumuskan kawasan ke dalam kekacauan.
Namun, yang paling mengejutkan bukan hanya serangan ke Doha. Zion*s di hari-hari itu juga menggempur Gaza, Lebanon, Suriah, Tunisia, hingga Yaman. Lima front sekaligus. Angka korban pun terus menanjak, yaitu 150 jiwa di Gaza pada September ini saja, dengan lebih dari 64.905 syahid sejak Oktober 2023 (tempo.co, 10/9/2025).
Serangan ini memperlihatkan Zion*s makin “Mabuk kuasa”. Mereka berambisi menghabisi Gaza demi obsesi eksistensi “ Negara hoaks” mereka. Bahkan negara-negara Teluk yang sedang menengahi damai pun tidak luput jadi sasaran.
Lebanon kembali dihajar meski ada perjanjian gencatan 2024. Suriah dihantam dengan dalih melawan terorisme. Yaman diserang gara-gara Houthi melawan. Tunisia diincar karena dukungan pada armada sipil pembuka blokade Gaza. Semua wilayah Arab-Islam yang berani sedikit saja melawan langsung digempur.
Zion*s jelas tahu bahwa umat Islam hari ini lemah. Para pemimpin hanya bisa berteriak di podium, tapi tak mampu menurunkan tentara mereka untuk menolong Gaza. Itulah sebabnya Zion*s bertindak sesukanya.
Drama Panggung KTT Doha
Menanggapi agresi tersebut, Qatar menggelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Darurat Arab-Islam pada 15 September 2025. Hasilnya? Seperti deja vu. Isinya hanya daftar normatif, mengutuk, mengecam, mempertimbangkan pemutusan hubungan, menggalang opini internasional, menekan sekutu Israel, memperkuat kerja sama pertahanan, memberi mandat kepada mediator, dan minta penghentian perang.
Pidato heroik pun berseliweran. PM Qatar menyeru internasional berhenti pakai standar ganda. PM Malaysia, Anwar Ibrahim, bilang kecaman tidak cukup, perlu langkah konkret. Bagus sih. Tapi tetap saja semua itu hanya berhenti di mikrofon.
Kenyataannya, negara-negara Arab-Islam tidak berani menepati kata-kata mereka. Sebagian sudah masuk perangkap normalisasi (Abraham Accords), sebagian lain takut kehilangan kursi empuk jika menentang tuan mereka Amerika. Akhirnya, KTT hanya jadi panggung retorika.
Bunuh Diri Politik
Apa yang terjadi di Doha memperlihatkan betapa rendahnya posisi politik negeri-negeri Muslim. Mereka terjebak dalam ilusi diplomasi ala Barat. Mereka lupa bahwa musuh sejati umat ini tidak akan berhenti hanya karena surat kecaman.
Padahal Allah Swt sudah mengingatkan dalam Al-Qur'an surah At-Taubah ayat 38–39,
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa ketika dikatakan kepada kamu, ‘Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah,’ kamu merasa berat dan cenderung pada kehidupan dunia? Apakah kamu lebih menyenangi kehidupan dunia daripada akhirat? Padahal, kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat, niscaya Allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih serta menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan merugikan-Nya sedikit pun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Ayat ini seakan menampar umat Islam hari ini. Kita diseru untuk berjihad, tapi justru sibuk cari aman, sibuk jaga kursi, sibuk negosiasi solusi dua negara. Padahal solusi itu hanyalah jebakan.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menegaskan dalam Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah mengatakan, tidak ada jalan untuk mengusir penjajah kecuali dengan jihad di bawah kepemimpinan politik Islam yang satu. Beliau mengingatkan, nasionalisme dan negara bangsa hanyalah alat untuk memecah belah umat. Selama kita masih berpikir dengan frame itu, Palestina tidak akan pernah bebas.
Artinya, solusi ala PBB, ala AS, atau ala normalisasi, semuanya fatamorgana. Yang dibutuhkan adalah perubahan mendasar, yaitu mengembalikan kekuatan politik umat dalam bentuk Daulah Khilafah.
Solusi Hakiki: Jihad dan Khilafah
Umat Islam tidak boleh lagi terjebak pada sandiwara diplomasi. Sejarah membuktikan, Palestina hanya bisa dibebaskan dengan jihad. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu membebaskannya pada abad ke-7 bukan dengan konferensi, tapi dengan pasukan. Shalahuddin al-Ayyubi mengusir tentara salib bukan dengan lobi internasional, tapi dengan pedang.
Hari ini pun solusinya sama. Bukan sekadar bantuan kemanusiaan atau kecaman moral, melainkan mobilisasi kekuatan militer umat Islam di bawah satu komando, yaitu khalifah.
Khilafah akan melakukan beberapa langkah:
Pertama, nenyatukan seluruh potensi umat yang tercerai-berai.
Kedua, menghentikan normalisasi dan membuka jalan jihad.
Ketiga, mengusir Zion*s dan menghancurkan pangkalan militer Barat di negeri-negeri Muslim.
Keempat, membebaskan Palestina dan negeri Islam lainnya dari penjajahan.
Oleh karena itu, KTT Doha hanya jadi drama panggung yang menegaskan kelemahan pemimpin Muslim hari ini. Palestina tidak akan bebas dengan retorika. Zion*s hanya bisa dihentikan dengan jihad di bawah panji khilafah.
Maka pertanyaan untuk kita adalah, apa yang sudah kita lakukan untuk mewujudkan khilafah? Apakah kita hanya ikut larut dalam kecaman, atau sudah benar-benar berjuang dalam dakwah ideologis agar sistem Islam kembali tegak?
Karena kelak, Allah Swt akan bertanya pada kita, sebagaimana dalam Al-Qur'an surah At-Taubah tadi, saat seruan jihad itu datang, apakah kita berangkat atau justru duduk manis di kursi nyaman?
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)