“Tragedi kemanusiaan di Kabupaten
Bandung dan Sukabumi pada awal September 2025, maka teladan Nabi Muhammad saw. bisa
sebagai sebagai kerangka solusi integratif untuk mewujudkan kesejahteraan
multidimensional umat,” rilisnya kepada TintaSiyasi.ID, Jumat
(12/09/2025).
HILMI menegaskan bahwa Islam, melalui
teladan Nabi Muhammad saw. menawarkan solusi terhadap krisis kesejahteraan yang
melibatkan aspek ekonomi, sosial, dan spiritual.
Landasan normatif dalam Islam secara
tegas melarang bunuh diri. “Surah An-Nisa ayat 29 dan hadis Nabi telah memperingatkan
pelakunya,” kata HILMI.
“Nabi juga mengajarkan optimisme
rezeki dan kewajiban bekerja keras, bahkan menyebut memikul kayu bakar lebih
mulia daripada meminta-minta,” tutur HILMI.
HILMI menyatakan bahwa kondisi saat
ini mengungkap rapuhnya jaring pengaman sosial di Indonesia.
“Kasus seorang ibu di Kabupaten
Bandung yang meracuni anak-anaknya lalu mengakhiri hidup karena depresi ekonomi
dan sosial, setelah sang suami terjerat judi daring dan utang. Di Sukabumi,
seorang anak meninggal dunia dengan tubuh dipenuhi cacing akibat masalah
administratif yang menghambat akses keluarganya ke layanan kesehatan,” sebut HILMI.
Kedua kasus itu, imbuh HILMI, mencerminkan
krisis sosial-ekonomi Indonesia yang ditandai oleh kemiskinan, lemahnya
perlindungan negara, dan runtuhnya solidaritas keluarga.
Tantangan Kesejahteraan Nasional
“Data Badan Pusat Statistik (BPS)
tahun 2024 menunjukkan tingkat kemiskinan nasional Indonesia mencapai 9,36
persen atau sekitar 25,22 juta jiwa. Ketimpangan distribusi pendapatan juga
masih tinggi dengan Gini ratio 0,388. Selain itu, persoalan kesehatan
mental kian menonjol,” beber HILMI.
HILMI mengatakan, Pusat Informasi
Kriminal Nasional (Pusiknas) Bareskrim Polri mencatat kasus bunuh diri melonjak
dari 887 pada 2022 menjadi 1.288 pada 2023, dan mencapai 600 kasus hingga Mei
2025.
“Indonesian Association for Suicide
Prevention (INASP, 2024) bahkan memperkirakan angka riil bisa tiga kali lipat
akibat underreporting,” tandasnya.
Solidaritas Sosial dan Peran Negara
“Aspek krusial lainnya adalah solidaritas
sosial. Nabi Muhammad saw. menekankan pentingnya berbagi, bahkan sekecil apa
pun, dan menyatakan bahwa, ‘Tidak beriman kepadaku orang yang tidur kenyang
sementara tetangganya kelaparan.’,” beber HILMI.
Dalam konteks struktural, HILMI menyatakan
jika Nabi juga menegaskan peran pemimpin sebagai pengurus rakyat yang akan
dimintai pertanggungjawaban, serta menolak pejabat yang menutup diri dari
rakyat.
“Ini menunjukkan negara adalah
instrumen kesejahteraan rakyat,” lugas HILMI.
Potensi Zakat dan Reformasi Kebijakan
HILMI menyoroti bahwa kemiskinan
struktural dan ketimpangan masih dominan, dengan 25,22 juta orang hidup di
bawah garis kemiskinan dan sebagian besar bekerja di sektor informal.
“Ironisnya, potensi zakat nasional
mencapai Rp327 triliun per tahun, namun yang berhasil dihimpun Badan Amil Zakat
Nasional (BAZNAS) pada 2023 hanya sekitar Rp 24 triliun,” beber HILMI.
“Data lintas negara menunjukkan bahwa
bunuh diri tidak semata karena kemiskinan; faktor non-ekonomi seperti hilangnya
tujuan hidup, kesepian, fragmentasi sosial, dan melemahnya spiritualitas turut
berperan,” imbuh HILMI.
Langkah Integratif
Untuk menghidupkan teladan Nabi,
HILMI menggarisbawahi tiga pelajaran relevan bagi Indonesia:
- Keluarga sebagai basis kesejahteraan: Kepala
keluarga wajib bekerja dan negara harus memastikan akses dasar.
- Solidaritas sosial berbasis zakat: Potensi zakat
sebesar Rp 327 triliun dapat mengurangi kesenjangan jika dikelola secara
profesional, ditambah dengan sedekah dan wakaf.
- Negara sebagai pelindung rakyat: Negara harus
menjadi instrumen kesejahteraan melalui reformasi kebijakan publik,
pengelolaan SDA untuk kepentingan umum, akses pendidikan dan kesehatan
yang merata, pemberantasan korupsi dan maksiat, serta APBN yang berpihak
kepada rakyat miskin.
“Bunuh diri adalah fenomena
multidimensional. Ekonomi adalah faktor penting, tetapi hilangnya makna hidup,
lemahnya solidaritas sosial, dan ketidakadilan struktural juga menjadi penyebab
utama,” papar HILMI.
“Dengan menguatkan iman dan takwa,
menumbuhkan etos kerja, menghidupkan solidaritas sosial, dan menempatkan negara
sebagai pengurus rakyat, Indonesia dan dunia Islam dapat membangun sistem
kesejahteraan yang material, spiritual, dan sosial,” pungkas HILMI.[] Rere
