Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Krisis Sosial-Ekonomi Indonesia, HILMI: Nabi Teladan untuk Kesejahteraan Umat

Sabtu, 13 September 2025 | 06:25 WIB Last Updated 2025-09-12T23:32:40Z

TintaSiyasi.id -- Menyoroti tragedi kemanusiaan di Kabupaten Bandung dan Sukabumi pada awal September 2025, Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) melalui opini intelektual yang dikeluarkan pada 11 September 2025 menawarkan teladan Nabi Muhammad saw. sebagai kerangka solusi integratif untuk mewujudkan kesejahteraan multidimensional.

 

“Tragedi kemanusiaan di Kabupaten Bandung dan Sukabumi pada awal September 2025, maka teladan Nabi Muhammad saw. bisa sebagai sebagai kerangka solusi integratif untuk mewujudkan kesejahteraan multidimensional umat,” rilisnya kepada TintaSiyasi.ID, Jumat (12/09/2025).

 

HILMI menegaskan bahwa Islam, melalui teladan Nabi Muhammad saw. menawarkan solusi terhadap krisis kesejahteraan yang melibatkan aspek ekonomi, sosial, dan spiritual.

 

Landasan normatif dalam Islam secara tegas melarang bunuh diri. “Surah An-Nisa ayat 29 dan hadis Nabi telah memperingatkan pelakunya,” kata HILMI.

 

“Nabi juga mengajarkan optimisme rezeki dan kewajiban bekerja keras, bahkan menyebut memikul kayu bakar lebih mulia daripada meminta-minta,” tutur HILMI.

 

HILMI menyatakan bahwa kondisi saat ini mengungkap rapuhnya jaring pengaman sosial di Indonesia.

 

“Kasus seorang ibu di Kabupaten Bandung yang meracuni anak-anaknya lalu mengakhiri hidup karena depresi ekonomi dan sosial, setelah sang suami terjerat judi daring dan utang. Di Sukabumi, seorang anak meninggal dunia dengan tubuh dipenuhi cacing akibat masalah administratif yang menghambat akses keluarganya ke layanan kesehatan,” sebut HILMI.

 

Kedua kasus itu, imbuh HILMI, mencerminkan krisis sosial-ekonomi Indonesia yang ditandai oleh kemiskinan, lemahnya perlindungan negara, dan runtuhnya solidaritas keluarga.

 

Tantangan Kesejahteraan Nasional

 

“Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan tingkat kemiskinan nasional Indonesia mencapai 9,36 persen atau sekitar 25,22 juta jiwa. Ketimpangan distribusi pendapatan juga masih tinggi dengan Gini ratio 0,388. Selain itu, persoalan kesehatan mental kian menonjol,” beber HILMI.

 

HILMI mengatakan, Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Bareskrim Polri mencatat kasus bunuh diri melonjak dari 887 pada 2022 menjadi 1.288 pada 2023, dan mencapai 600 kasus hingga Mei 2025.

 

“Indonesian Association for Suicide Prevention (INASP, 2024) bahkan memperkirakan angka riil bisa tiga kali lipat akibat underreporting,” tandasnya.

 

Solidaritas Sosial dan Peran Negara

 

“Aspek krusial lainnya adalah solidaritas sosial. Nabi Muhammad saw. menekankan pentingnya berbagi, bahkan sekecil apa pun, dan menyatakan bahwa, ‘Tidak beriman kepadaku orang yang tidur kenyang sementara tetangganya kelaparan.’,” beber HILMI.

 

Dalam konteks struktural, HILMI menyatakan jika Nabi juga menegaskan peran pemimpin sebagai pengurus rakyat yang akan dimintai pertanggungjawaban, serta menolak pejabat yang menutup diri dari rakyat.

 

“Ini menunjukkan negara adalah instrumen kesejahteraan rakyat,” lugas HILMI.

 

Potensi Zakat dan Reformasi Kebijakan

 

HILMI menyoroti bahwa kemiskinan struktural dan ketimpangan masih dominan, dengan 25,22 juta orang hidup di bawah garis kemiskinan dan sebagian besar bekerja di sektor informal.

 

“Ironisnya, potensi zakat nasional mencapai Rp327 triliun per tahun, namun yang berhasil dihimpun Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) pada 2023 hanya sekitar Rp 24 triliun,” beber HILMI.

“Data lintas negara menunjukkan bahwa bunuh diri tidak semata karena kemiskinan; faktor non-ekonomi seperti hilangnya tujuan hidup, kesepian, fragmentasi sosial, dan melemahnya spiritualitas turut berperan,” imbuh HILMI.

 

Langkah Integratif

 

Untuk menghidupkan teladan Nabi, HILMI menggarisbawahi tiga pelajaran relevan bagi Indonesia:


  1. Keluarga sebagai basis kesejahteraan: Kepala keluarga wajib bekerja dan negara harus memastikan akses dasar.
  2. Solidaritas sosial berbasis zakat: Potensi zakat sebesar Rp 327 triliun dapat mengurangi kesenjangan jika dikelola secara profesional, ditambah dengan sedekah dan wakaf.
  3. Negara sebagai pelindung rakyat: Negara harus menjadi instrumen kesejahteraan melalui reformasi kebijakan publik, pengelolaan SDA untuk kepentingan umum, akses pendidikan dan kesehatan yang merata, pemberantasan korupsi dan maksiat, serta APBN yang berpihak kepada rakyat miskin.

 

“Bunuh diri adalah fenomena multidimensional. Ekonomi adalah faktor penting, tetapi hilangnya makna hidup, lemahnya solidaritas sosial, dan ketidakadilan struktural juga menjadi penyebab utama,” papar HILMI.

 

“Dengan menguatkan iman dan takwa, menumbuhkan etos kerja, menghidupkan solidaritas sosial, dan menempatkan negara sebagai pengurus rakyat, Indonesia dan dunia Islam dapat membangun sistem kesejahteraan yang material, spiritual, dan sosial,” pungkas HILMI.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update