Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Krisis Lapangan Kerja Global Membidik Anak Muda, Kapitalisme Gagal Mewujudkan Kesejahteraan

Kamis, 11 September 2025 | 17:44 WIB Last Updated 2025-09-11T10:44:52Z

Tintasiyasi.id.com -- Angka pengangguran sudah tidak bisa lagi dibendung, karena jumlahnya mengalami kenaikan teramat signifikan. Bahkan krisis lapangan kerja sudah merambah dunia Internasional, termasuk negara besar, seperti: Inggris, Perancis, Amerika Serikat, dan Cina.

Saking pesatnya angka pengangguran, bahkan muncul fenomena pura-pura bekerja. Lebih dari itu juga terdapat yang bekerja tanpa digaji, semata demi dianggap mempunyai pekerjaan. Miris!

Pengangguran membidik generasi muda Indonesia begitu ganas. Meskipun, angka pengangguran turun secara nasional. Parahnya, separuh dari pengangguran adalah anak muda.

Tersedianya lapangan pekerjaan yang berjumlah 19 juta hanyalah janji sesaat. Pemanis mulut calon pemimpin agar dipilih rakyat, saat rakyat berharap lebih, tentu hanya luka mendalam yang didapatkan.

Kapitalisme Suburkan Pengangguran

Krisis tenaga kerja global menunjukkan bahwa sistem ekonomi yang mendominasi dunia, yaitu Kapitalisme, gagal menyediakan lapangan pekerjaan. 

Dipretili dari luar saja tampak, bahwasanya angka pengangguran tinggi disebabkan konsentrasi kekayaan dunia. Indonesia, ketimpangan kekayaan amat terpampang jelas di depan mata.

Dikutip dari data Celios, kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia setara dengan kekayaan 50 juta orang Indonesia. Bukankah angka tersebut teramat fantastis? Akan tetapi, kenapa negara masih berlepas tangan dari tugasnya menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyat?

Betul, pemerintah telah berupaya untuk mengentaskan pengangguran, dengan mengadakan jobfair. Nahasnya, hal demikian tidak menjadi solusi, karena dunia industri mengalami badai PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Diperparah, sekolah tertentu dan jurusan tertentu yang minim menyediakan lapangan pekerjaan, karena dikuasai asing.

Tampak bahwa, upaya apapun yang dikerahkan pemerintah untuk memberantas pengangguran menjadi dia-sia. Selama sistem kapitalisme masih mendominasi dunia, termasuk Indonesia, maka pengangguran senantiasa menjadi masalah yang tidak akan terselesaikan.

Konstruksi Islam

Penguasa dalam Islam berperan sebagai raa'in yaitu mengurusi kepentingan rakyat agar hidup sejahtera, termasuk menyediakan lapangan pekerjaan. Negara memfasilitasi rakyat agar memiliki pekerjaan dengan: pendidikan, bantuan modal, industrialisasi, pemberian tanah, dll.

Keimanan yang menghujam dalam hati seorang pemimpin mendorong khalifah untuk memberikan upaya terbaik bagi rakyatnya. Karena, khalifah paham betul, bahwa setiap kepemimpinannya tidak ada satupun yang luput dari pengawasan Allah.

Berikutnya, penerapan sistem pemerintahan Islam dalam skala pemerintahan, termasuk dalam wilayah ekonomi itu nyata. Karenanya, tidak akan ditemui jurang kesenjangan antara si kaya dan si miskin menganga kian lebar.

Sistem ekonomi yang bertumpu pada Sistem Islam menjadikan kekayaan dunia terdistribusi secara adil. Tidak akan ditemui kekayaan bertumpu pada segelintir pihak. Kemudian, membiarkan pihak tersebut bereuforia dengan kekayaannya.

Sementara, banyak jiwa tidak memiliki pekerjaan.
Sumber Daya Alam (SDA) dikelola dengan apik dan hasan. Penguasa betul-betul melakukan pengelolaan SDA untuk diberikan hasilnya kepada rakyat. Pemantauan yang jeli atas keadaan rakyat menjadikan tidak ada satupun yang merasakan pengangguran.

Teladan dalam Mengurus Rakyat
Sepatutnya penguasa hari ini melakukan refleksi terhadap kepemimpinan Khalifah Umar bin Khatab. Amirul Mukminin, bergerilya malam hari untuk memastikan tidak ada satupun rakyat yang merasa kelaparan, apalagi tidak mempunyai pekerjaan.

Adapun, saat didapati sebuah rumah yang penuh tangisan anak kecil, Umar singgah dan menanyakan keadaan Ibu yang sibuk memasak dengan raut sedih. Ketika diketahui alasan Ibu tersebut, Umar merasa teramat gagal menjadi pemimpin.

Tidak cukup sampai di sana, Umar berjalan dengan tergesa-gesa menuju tempat penyimpanan makanan. Kemudian, memikul sekarung gandum di atas pundaknya dan kembali berjalan dengan sigap.

Saat mu’awin menawarkan bantuan untuk memikul gandum, jawaban Umar begitu luar biasa, “Apa engkau mau menanggung dosa atas kepemimpinanku?” setelah melontarkan perkataan tersebut Umar melanjutkan perjalanan.

Sesampainya di rumah Ibu tersebut, Umar langsung turun tangan untuk memasak gandum, lalu menyuapkan ke anak-anak Ibu yang menangis. Meskipun Umar mendapatkan umpatan dari si Ibu yang terus mencela pemimpin, karena membiarkan rakyat kelaparan.

Berikutnya, sistem pendidikan yang berpatokan kepada syariat Islam mampu membentuk SDM (Sumber Daya Manusia) berkualitas. Mempunyai keteguhan iman, menguasai berbagi disiplin ilmu dengan keahlian dibidangnya yang mumpuni.

Hasilnya, tidak hanya menghasilkan pemuda yang siap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Lebih dari itu, anak muda terpaut hatinya untuk menjadikan pekerjaan dunia berorientasi akhirat.

Sejatinya, hanya Melalui sistem pendidikan Islam, negara menyiapkan SDM berkualitas, tidak hanya siap kerja, tetapi memiliki keahlian di bidangnya. Wallahu’alam bishshowwab.[]

Oleh: Siska Ramadhani, S. Hum
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update