Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Generasi Terjebak Kapitalisme: Islam Peta Jalan Menuju Integritas

Kamis, 11 September 2025 | 17:52 WIB Last Updated 2025-09-11T10:52:44Z

Tintasiyasi.id.com -- Bayangkan generasi penerus bangsa terjebak dalam lingkaran gelap tawuran dan narkoba, bukan dibangku sekolah mengejar ilmu. Di Tanah Datar, Sumatera Barat, polisi mengamankan 19 remaja yang hendak tawuran pada pukul 00.30 WIB, dengan tiga diantaranya positif mengonsumsi narkoba (kabasumbar.net,25/08/2025).

Realitas kelam ini bukan sekadar ulah remaja, melainkan cerminan generasi yang terjerat sistem kapitalisme yang memupuk ketimpangan, konsumerisme, dan krisis akhlak.

Lantas, mampukah Islam dengan tatanan syariatnya, menjadi peta jalan untuk menyelamatkan generasi dari jurang kemaksiatan?
Pemuda, generasi yang diharapkan akan menjadi pemimpin peradaban kedepannya, kini terhimpit ancaman lingkungan yang mendorong perilaku anarkis hingga kriminal.

Alih-alih menempa ilmu, banyak remaja terjerat tawuran yang merenggut nyawa dan harapan. Fenomena ini telah melampaui batas kenakalan remaja, bertransformasi menjadi kriminalitas yang terjalin erat dengan penyalahgunaan narkoba. 

Realitas kelam ini menjadi tantangan berat bagi pemerintah, instutitusi pendidikan, masyarakat dan keluarga dalam membentuk generasi berintegritas. Diperlukan langkah tegas dan terarah untuk menangani akar masalah ini. 

Lingkungan yang terbentuk tak lepas dari sistem kehidupan yang membentuk generasi muda saat ini. Kapitalisme, yang kini membayangi generasi muda. Sistem dengan asas dasar manfaat dan sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan). 

Kapitalisasi menciptakan kesenjangan pada ekonomi sehingga para pelajar merasakan tekanan untuk mengejar status sosial agar diterima di lingkungan sekolah. Narkoba, dalam beberapa kasus menjadi pelarian dari stress akibat tekanan ini bahkan sarana untuk mendapatkan uang cepat melalui peredaran, terutama di kalangan pelajar yang terdesak secara finansial.

Konsumerisme dan gaya hidup hedonistik merupakan pola hidup yang lahir dari rahim sistem kapitalisme. Generasi muda terpapah gaya hidup yang glamor yang mengasosiasikan kebahagian dengan kepemilikan barang atau pengalaman ekstrem. Penyebaran gaya hidup ini, tidak luput dari mudahnya akses internet. Dari gaya hidup bebas, informasi narkoba bahkan cara mendapatkannya melalui dark web.

Lemahnya regulasi dan penegakan hukum juga menjadi alasan kriminalitas ini masih menjamur ditengah-tengah masyarakat dan terutama terhadap para generasi muda. Upaya yang telah digaungkan belum menyentuh akar masalah.

Penyuluhan dan kampanye anti narkoba atau pun anti-tawuran seringkali hanya bersifat seremonial, sehingga belum mencapai perubahan mendasar.
Menilik sistem pendidikan kapitalisme menghasilkan generasi yang sulit mewujudkan perbuatan berintegritas seperti diharapkan. 

Prioritas pendidikan tidak berfokus pada pembentukan kepribadian Islam, melainkan pada nilai-nilai materialistis yang menyimpang dari ajaran sang Khaliq. Akibatnya, pola pikir dan sikap generasi muda terbentuk tanpa landasan Al-Quran dan As-Sunnah, sehingga mereka tidak memahami bahwa Islam mengatur seluruh aspek kahidupan secara paripurna.

Dengan demikian generasi berkepribadian Islam dan berintegritas akan dapat terwujud tatkala pengaturan kehidupan diambil berdasarkan aturan yang telah diberikan sang Khaliq.

Sistem kehidupan Islam akan bersifat preventif (pencegahan) dan kuratif(penyembuhan). Islam akan memberikan solusi yang komprehensif. Dalam setiap pilar kehidupan bermasyarakat yakni negara, masyarakat dan individu akan merealisasikan kehidupan yang didasari syariat Islam.

Negara dengan berbasis aqidah Islam menjamin pendidikan. Menggabungkan ilmu terapan dan teknologi dengan kurikulum yang melahirkan generasi berakhlak mulia.

Sejarah Islam, dari Ibnu Sina hingga Al-Khawarizmi, membuktikan lahirnya pemikir cemerlang yang tidak hanya ahli, tetapi juga memiliki syaksiyah Islam (kepribadian Islam) yakni pola pikir (aqliyah) dan sikap (nafsiyah) berlandasakan aqidah, menjadikan mereka pelita peradaban.

Dengan demikian generasi tidak akan berfokus mengejar dunia atau materi saja namun dalam didikan yang didapatkan akan menjadikannya semakin tunduk dan taat kepada Allah.

Negara Islam akan menjaga akidah umat dengan demikian potensi pelanggaran hukum syara’ maupun perilaku tercela dapat dicegah saat setiap indididu telah ditanamkan kesadaran aqidah Islam pada dirinya.

Pilar yang tidak kalah penting adalah masyarakat. Masyarakat yang hadir adalah masyarakat Islam, mengetahui bahwa dakwah wajib hadir ditengah-tengah masyarakat. Masyarakat tidak boleh bersikap permisif atau apatis terhadap perbuatan yang mendekati kemaksiatan. 

Menciptakan lingkungan yang menegakkan syariat, menjadi benteng sosial bagi generasi muda. Melalui sinergi negara, masyarakat dan individu berbasis aqidah, kita dapat melahirkan generasi yang berintegritas, memimpin bangsa dengan akhlak mulia, bukan terjerumus dalam kemaksiatan. Mari songsong peradaban Islam yang menyelamatkan umat dari kegelapan kapitalisme. Wallahu’alam bishshawwab.[]

Oleh: Rola Rias Kania 
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update