TintaSiyasi.id -- Pendahuluan
Wahai para penguasa dan pejabat negeri, sadarlah! Jabatan yang kalian emban bukanlah kemuliaan untuk disombongkan, bukan pula kesempatan untuk memperkaya diri, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Rakyat telah menitipkan harapan pada kalian, tetapi mengapa amanah itu sering dikhianati dengan korupsi, manipulasi, dan penyelewengan?
Korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum negara, tetapi sebuah pengkhianatan moral, sosial, dan spiritual. Korupsi melukai hati rakyat, menghancurkan keadilan, menghambat pembangunan, dan menjadi sebab utama kemiskinan yang menjerat umat.
Korupsi dalam Pandangan Islam
Islam sangat tegas melarang segala bentuk kecurangan dan pengambilan hak orang lain. Rasulullah SAW bersabda:
"Setiap daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram, maka neraka lebih pantas baginya." (HR. Tirmidzi)
Korupsi adalah bentuk nyata memakan harta haram. Harta itu bukan sekadar hasil tipu daya, tetapi sejatinya racun yang mengalir dalam darah keluarga, anak-anak, dan keturunan. Betapa banyak rumah tangga yang rusak, generasi yang hancur, hanya karena orang tuanya memberi makan dari rezeki yang kotor.
Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil...”
(QS. Al-Baqarah: 188)
Korupsi adalah batil yang nyata, batil yang menghilangkan berkah, dan batil yang mendatangkan laknat.
Korupsi sebagai Beban Rakyat
Korupsi bukan sekadar mengurangi uang negara, tetapi juga:
Membebani rakyat kecil dengan pajak tinggi, harga kebutuhan pokok melambung, dan fasilitas publik yang terbengkalai.
Menghancurkan kepercayaan rakyat kepada pemimpin, sehingga hilang rasa cinta terhadap negeri.
Menghambat keadilan sosial, karena yang kaya semakin kaya, sementara yang miskin semakin terhimpit.
Rakyat sudah menderita dengan beban hidup yang berat, lalu ditambah lagi dengan penguasa yang rakus. Bukankah ini pengkhianatan terhadap janji jabatan dan sumpah di hadapan Allah?
Pelajaran dari Pemimpin yang Amanah
Mari kita bercermin pada teladan para khalifah yang adil. Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah dari Bani Umayyah, dikenal sangat amanah dan zuhud. Ketika ia menjadi khalifah, rakyat merasakan keadilan hingga hampir tidak ditemukan orang miskin yang berhak menerima zakat.
Umar bin Abdul Aziz menolak menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan keluarganya. Bahkan lampu minyak di ruang kerjanya dimatikan ketika ia hendak membicarakan urusan pribadi, karena itu dianggap amanah umat, bukan miliknya.
Bayangkan—pemimpin seperti itu membawa rahmat bagi rakyatnya. Seandainya pejabat kita meneladani beliau, niscaya Indonesia akan makmur dan sejahtera.
Refleksi untuk Umat
Wahai rakyat, janganlah diam ketika melihat korupsi merajalela. Kita tidak boleh pasrah pada kezaliman. Amar ma’ruf nahi munkar adalah kewajiban kita bersama. Tetapi ingat, melawan korupsi bukan dengan anarkisme yang justru merusak, melainkan dengan cara yang hikmah, doa, dakwah, dan kesadaran kolektif.
Wahai pejabat dan penguasa, sadarlah! Jabatan hanya sementara. Kekuasaan hanyalah titipan. Harta yang kalian tumpuk tidak akan dibawa mati. Pada hari kiamat, semua akan ditanya: dari mana harta itu diperoleh, dan untuk apa ia digunakan?
Penutup: Seruan Taubat dan Harapan
Mari kita akhiri dengan doa:
Ya Allah, sadarkanlah para pemimpin negeri ini. Bersihkan hati mereka dari keserakahan, jadikan mereka pemimpin yang amanah, jujur, dan adil. Ya Allah, lindungilah rakyat kecil dari kezaliman, lapangkanlah rezeki mereka, dan turunkanlah keberkahan-Mu atas negeri kami.
Korupsi bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga dosa besar yang akan menjerat pelakunya di dunia dan akhirat. Maka, bertaubatlah wahai para penguasa dan pejabat yang korup, sebelum semuanya terlambat. Jadilah pemimpin yang meringankan beban rakyat, bukan menambah derita mereka.
Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)