Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Hidup dengan Kanaah: Jalan Menuju Kemuliaan Sejati

Kamis, 11 September 2025 | 08:00 WIB Last Updated 2025-09-11T01:00:33Z


TintaSiyasi.id -- Hakikat Kanaah

Kanaah adalah sikap menerima dengan lapang dada apa yang Allah anugerahkan, tanpa merasa kurang atau iri terhadap orang lain. Sikap ini bukan berarti malas atau berhenti berusaha, melainkan menyatukan dua hal: usaha maksimal dan ridha terhadap hasil yang Allah tetapkan.

Sayid Abu Bakar Syatha dalam Kifayatul Atqiya menasihatkan:

"Hiduplah dengan penuh kanaah (penerimaan), tak perlu berharap dan meminta-minta, engkau akan menjadi sosok yang terpuji dan meraih pangkat tinggi."

Rasulullah SAW pun bersabda:

"Siapa yang kanaah, dia akan mulia. Sebaliknya, siapa yang tamak, ia pasti hina."

(HR. al-Baihaqi)

Dengan kanaah, seorang mukmin akan merasa cukup, bahagia, dan mulia di hadapan Allah maupun manusia.

Kanaah dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an berulang kali menekankan pentingnya sikap merasa cukup dan menjauhkan diri dari tamak:

1. QS. Al-Baqarah: 286

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

Ayat ini mengajarkan bahwa rezeki yang kita terima telah diukur sesuai dengan kemampuan kita untuk menjalaninya.

2. QS. Al-Hadid: 23

“(Kami jelaskan) supaya kamu tidak berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

Ayat ini mengajarkan keseimbangan hati: tidak terlalu kecewa jika tidak mendapat sesuatu, dan tidak terlalu sombong jika diberi kelebihan.

3. QS. At-Talaq: 3

“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).”

Tawakal dan kanaah berjalan beriringan; keduanya melahirkan keyakinan bahwa kecukupan hanya datang dari Allah.

Kisah Sahabat Nabi tentang Kanaah

1. Abu Bakar ash-Shiddiq RA

Khalifah pertama ini adalah seorang pedagang sukses. Namun, setelah menjadi khalifah, beliau mengambil gaji yang sangat sederhana. Bahkan pada saat wafat, beliau berpesan agar seluruh harta dan fasilitas yang dipakai untuk kepentingan khalifah dikembalikan ke Baitul Mal. Kanaah membuat beliau menjadi sosok yang mulia di mata Allah dan manusia.

2. Umar bin Khattab RA

Sebagai khalifah, Umar memiliki kekuasaan besar. Namun kehidupannya sangat sederhana. Beliau tidur hanya beralaskan pelepah kurma, bajunya bertambal, dan sering menolak kemewahan. Ketika ditawari makanan enak, beliau berkata:

"Apakah semua orang di negeri ini sudah kenyang hingga aku harus makan makanan lezat?"

Sikap kanaah membuat Umar dicintai rakyatnya.

3. Utsman bin Affan RA

Utsman dikenal sebagai sahabat yang kaya raya, namun ia tetap rendah hati dan kanaah. Kekayaannya bukan untuk kesenangan pribadi, melainkan untuk perjuangan Islam. Ketika terjadi paceklik, beliau menyedekahkan 1.000 unta beserta muatannya kepada umat Islam. Inilah kanaah yang tidak menjadikan kekayaan sebagai tujuan, melainkan sarana untuk meraih ridha Allah.

4. Ali bin Abi Thalib RA

Ali adalah khalifah yang hidup penuh kezuhudan. Pakaian beliau sederhana, makanan beliau sangat sederhana pula. Meski seorang pemimpin, beliau menolak kemewahan. Beliau pernah berkata:

"Kekayaan yang sebenarnya adalah hati yang kanaah."

Kanaah dan Kehidupan Modern

Di era modern, godaan hidup semakin besar. Media sosial memamerkan kemewahan yang sering kali membuat manusia merasa kurang. Banyak orang terjebak dalam “lomba duniawi” yang melelahkan jiwa.

Kanaah adalah kunci agar kita tidak diperbudak dunia. Dengan kanaah:

• Kita tetap bekerja keras, tetapi tidak gila harta.

• Kita bisa menikmati sedikit, tanpa iri pada yang banyak.

• Kita menjaga harga diri, tanpa merendahkan martabat dengan meminta-minta.

Kanaah adalah kekayaan batin, yang lebih berharga daripada kekayaan materi.

Doa Penutup

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ القَانِعِينَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي مَا رَزَقْتَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الشَّاكِرِينَ، وَنَجِّنَا مِنَ الطَّمَعِ وَحُبِّ الدُّنْيَا.

"Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang kanaah, berkahilah rezeki yang Engkau berikan kepada kami, jadikan kami hamba-Mu yang pandai bersyukur, dan lindungilah kami dari sifat tamak dan cinta dunia."

Dr. Nasrul Syarif, M.Si.  (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo)


Opini

×
Berita Terbaru Update