TintaSiyasi.id -- Aktivis Muslimah Iffah Ainur Rochmah menilai kesepakatan Mesir dengan Israel terkait impor gas senilai 35 miliar dolar atau lebih dari 500 triliun rupiah adalah pengkhianatan terhadap Allah dan Rasulnya dan juga umat Islam.
“Semua penjualan yang dilakukan oleh Mesir maupun Uni Emirat Arab kepada Israel, apakah itu bernama ekspor atau lainnya, semuanya dalam pandangan Islam adalah penghianatan terhadap Allah dan rasul-Nya, dan juga pengkhianatan terhadap saudara-saudaranya,” ujar Iffah dalam kanal YouTube Muslimah Media Hub: Kerjasama Mesir-Zionis, Pengkhianatan terhadap Umat, Ahad (14/9/2025).
Dia mengungkapkan, kesepakatan impor gas Mesir dari Israel bukan yang pertama, Mesir memiliki kebutuhan energi yang cukup besar karena ladang-ladang gas mereka makin menurun, sementara kebutuhan energi meningkat.
"Kesepakatan tahun ini disebut sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Israel, mencakup pengeboran dan eksplorasi ladang gas lepas pantai milik Israel hingga 2040. Selain itu, pelabuhan-pelabuhan Mesir menjadi pangkalan utama bagi banyak kapal kargo yang mengangkut bahan kebutuhan ke Israel selama perang Gaza," paparnya.
Ia mengungkap sebuah data maritim menunjukkan jalur laut khusus bolak-balik antara pelabuhan Mesir dan Israel, dan sepanjang perang 2023–2024, perdagangan antara Kairo dan Tel Aviv mencapai 1,1 miliar dolar. Hal tersebut menjadikan Mesir negara kedua terbesar setelah Uni Emirat Arab yang mengekspor produk ke entitas Zionis.
“Di saat saudara-saudara kita di Palestina kelaparan dan hancur karena serangan Israel, justru negara-negara tetangga seperti Mesir dan Emirat Arab mengekspor kebutuhan yang membantu penjajah,” tegas Iffah.
Total produk yang diekspor Mesir ke entitas Zionis lanjutnya, mencapai 924 jenis, berupa bahan bangunan, konstruksi, dan bahan makanan. Nilai ekspor meningkat hingga 3.000 persen selama agresi.
"Kerjasama ekspor-impor ini tidak bisa dianggap sekadar aktivitas perdagangan biasa karena jelas melibatkan ideologi dan keberpihakan," pungkasnya.[] Nabila Zidane