Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kanaah dalam Pandangan Ulama Tasawuf Klasik (Syekh al-Malibari, Imam al-Ghazali, dan Sayyid Abu Bakar Syatha)

Kamis, 11 September 2025 | 08:03 WIB Last Updated 2025-09-11T01:03:39Z
TintaSiyasi.id -- Pendahuluan

Kanaah adalah mutiara yang paling berharga dalam kehidupan ruhani seorang muslim. Ia bukan sekadar sikap merasa cukup dengan rezeki yang Allah berikan, melainkan juga bentuk kepasrahan, ridha, dan keyakinan penuh bahwa Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki.

Para ulama tasawuf klasik menjadikan Kanaah sebagai salah satu pilar kesucian hati. Tanpa Kanaah, hati akan diperbudak oleh ambisi, tamak, dan cinta dunia. Sebaliknya, dengan Kanaah, hati akan tenang, bersih, dan mulia.

1. Kanaah Menurut Syekh Zainuddin al-Malibari

Syekh Zainuddin al-Malibari (w. 987 H), ulama besar asal Malabar (India Selatan) yang terkenal dengan kitab Fathul Mu‘in dan Irsyadul ‘Ibad, menekankan bahwa Kanaah adalah “harta yang tidak akan pernah habis.”

Beliau menjelaskan beberapa kunci Kanaah:

1. Meyakini takdir rezeki dari Allah

Tidak ada yang bisa merebut rezeki orang lain. Keyakinan ini melahirkan ketenangan jiwa.

2. Melihat yang lebih sedikit

Agar hati tidak serakah, seorang mukmin dianjurkan melihat orang yang lebih miskin darinya.

3. Menjauhi tamak

Menurut al-Malibari, tamak adalah kefakiran sejati, karena orang yang tamak tidak pernah puas.

4. Mengisi hati dengan sabar dan syukur

Dua pilar inilah yang menjadikan Kanaah tegak kokoh dalam kehidupan seorang mukmin.

2. Kanaah Menurut Imam al-Ghazali

Imam al-Ghazali (w. 505 H), Hujjatul Islam dan penulis Ihya’ Ulumuddin, mengulas Kanaah secara mendalam. Beliau memandang Kanaah sebagai buah dari tawakal dan salah satu maqam dalam perjalanan spiritual menuju Allah.

Menurut al-Ghazali, Kanaah memiliki lima tingkatan:

1. Ridha dengan sekadar penopang hidup

Menerima rezeki sekadar untuk menutup kebutuhan dasar.

2. Ridha dengan yang sedikit meski ada kesempatan mendapatkan lebih

Ia menahan diri dari berlebih-lebihan.

3. Tidak berharap lebih dari yang ada

Hatinya merasa cukup, tidak menunggu tambahan.

4. Tidak senang berlimpah, tidak sedih bila berkurang

Ia tidak terikat dengan banyak atau sedikit.

5. Memandang sama antara kaya dan miskin

Inilah tingkatan tertinggi Kanaah; dunia sama sekali tidak menguasai hati.

Imam al-Ghazali menegaskan:

“Hakikat Kanaah adalah berhentinya ambisi terhadap dunia dan kembalinya hati untuk merasa cukup dengan Allah.”

3. Kanaah Menurut Sayyid Abu Bakar Syatha

Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi (w. 1310 H), penulis Kifayatul Atqiya dan I’anatuth Thalibin, menekankan Kanaah sebagai penjaga kehormatan diri.

Beliau menasihatkan:

"Hiduplah dengan penuh Kanaah (penerimaan), tak perlu berharap dan meminta-minta, engkau akan menjadi sosok yang terpuji dan meraih pangkat tinggi."

Menurut beliau, orang yang Kanaah:

• Tidak merendahkan diri dengan meminta-minta.

• Mulia karena tawakalnya kepada Allah.

• Tenang hatinya, meski hidup sederhana.

Beliau juga menukil hadis Nabi SAW:

“Siapa yang kanaah, dia akan mulia. Sebaliknya, siapa yang tamak, ia pasti hina.”

(HR. al-Baihaqi)

4. Kisah Para Salaf tentang Kanaah

• Abu Hurairah RA hidup dengan sangat sederhana. Beliau sering berpuasa karena tidak ada makanan, namun tetap bersyukur dan tidak pernah mengeluh.

• Imam Ahmad bin Hanbal lebih memilih makan roti kering daripada bergantung pada pemberian penguasa. Beliau menjaga kehormatan diri dengan Kanaah.

• Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang zuhud, pernah menolak makan makanan lezat, dengan berkata: “Bagaimana aku bisa menikmati makanan ini, sementara masih ada rakyatku yang kelaparan?”

Mereka menjadi bukti nyata bahwa Kanaah melahirkan wibawa, ketenangan, dan kemuliaan.

5. Refleksi Kehidupan Modern

Di era modern, manusia sering diperbudak oleh gaya hidup

konsumtif. Media sosial memamerkan kemewahan, memicu iri, dan menumbuhkan tamak. Kanaah adalah tameng untuk melawan penyakit hati itu.

• Kanaah tidak menghalangi kita bekerja keras, tetapi menahan kita dari keserakahan.

• Kanaah tidak menghalangi kita kaya, tetapi menjaga agar kekayaan tidak menguasai hati.

• Kanaah membebaskan kita dari perbudakan dunia, mengantarkan pada kebebasan ruhani.

Penutup

Kanaah adalah permata yang diwariskan para ulama tasawuf klasik untuk kita.

• Syekh al-Malibari mengajarkan Kanaah sebagai harta yang tak pernah habis.

• Imam al-Ghazali mengajarkan Kanaah sebagai maqam ruhani dan buah tawakal.

• Sayyid Abu Bakar Syatha menekankan Kanaah sebagai penjaga kehormatan dan jalan menuju kemuliaan.

Maka, marilah kita hiasi hati dengan Kanaah, agar hidup tenang, jiwa lapang, dan kita termasuk orang yang benar-benar kaya.

Doa

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ القَانِعِينَ، وَارْزُقْنَا قُلُوبًا رَاضِيَةً، وَنُفُوسًا مُطْمَئِنَّةً، وَبَاعِدْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الطَّمَعِ وَحُبِّ الدُّنْيَا كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ.

"Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang Kanaah, anugerahkan hati yang ridha, jiwa yang tenang, dan jauhkanlah kami dari tamak serta cinta dunia sebagaimana Engkau jauhkan timur dan barat."

Dr. Nasrul Syarif, M.Si.  (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update