Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Membaca Al-Qur’an: Perniagaan yang Tak Pernah Merugi

Kamis, 11 September 2025 | 08:04 WIB Last Updated 2025-09-11T01:04:06Z
TintaSiyasi.id -- Pendahuluan

Membaca Al-Qur’an adalah puncak ibadah, seni merayu Allah ﷻ dengan firman-Nya sendiri, serta bentuk ketaatan paling mulia. Setiap huruf yang dilafalkan bernilai pahala, setiap ayat yang direnungkan menjadi cahaya, dan setiap pesan yang diamalkan menjadi jalan menuju keberkahan hidup.

Allah ﷻ menegaskan keutamaan orang-orang yang tekun membaca Al-Qur’an dalam firman-Nya:

QS. Fathir: 29–30

 إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ

(٢٩)

لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

(٣٠)

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an), mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, baik dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”

Tafsir dan Makna Ayat

Para mufassir menjelaskan bahwa ayat ini memuat tiga amalan agung yang menjadi kunci kejayaan seorang mukmin:

1. Tilawah Al-Qur’an (يتلون كتاب الله)

Kata yatluuna bukan sekadar berarti membaca dengan lisan, tetapi juga mencakup tadabbur (merenungkan makna) dan ittiba’ (mengamalkan isi Al-Qur’an). Ibnu Katsir menegaskan bahwa tilawah yang sejati adalah membaca, memahami, dan mengamalkan.

2. Mendirikan Shalat (أقاموا الصلاة)

Tilawah tanpa shalat akan kehilangan ruhnya. Shalat adalah bukti ketaatan lahir dan batin, sekaligus sarana menjaga hubungan langsung dengan Allah.

3. Menafkahkan Harta (وأنفقوا مما رزقناهم)

Membaca Al-Qur’an melahirkan jiwa yang dermawan. Infak yang dilakukan secara sembunyi maupun terang-terangan adalah bukti keikhlasan, sekaligus penyuci jiwa dari sifat kikir.

Allah menyebut semua itu sebagai “tijaaratan lan tabuur” — perniagaan yang tidak pernah merugi. Seakan-akan Allah menyerupakan ibadah dengan sebuah perdagangan, di mana seorang hamba menyerahkan amalnya, dan Allah membalasnya dengan keuntungan abadi: pahala, karunia, ampunan, dan syukur dari-Nya.

Hadis-Hadis tentang Keutamaan Membaca Al-Qur’an

Banyak hadis Rasulullah ﷺ yang menjelaskan kemuliaan membaca Al-Qur’an, di antaranya:

1. Pahala setiap huruf

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidak mengatakan Alif Lām Mīm satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lām satu huruf, dan Mīm satu huruf.”

(HR. Tirmidzi)

2. Al-Qur’an sebagai syafa’at

“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat memberi syafa’at kepada para pembacanya.”

(HR. Muslim)

3. Derajat bersama malaikat

“Orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama malaikat yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan sulit baginya, ia mendapatkan dua pahala.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Teladan Para Sahabat dan Ulama Salaf

Para sahabat Nabi ﷺ dan ulama salaf adalah teladan dalam kecintaan mereka kepada Al-Qur’an:

Utsman bin Affan r.a. pernah berkata: “Seandainya hati kalian bersih, niscaya kalian tidak akan pernah merasa kenyang dari firman Allah.” Diriwayatkan bahwa beliau khatam Al-Qur’an dalam satu rakaat shalat malam.

Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata: “Barang siapa ingin mengetahui apakah ia mencintai Allah, maka hendaklah ia melihat kepada kecintaannya kepada Al-Qur’an. Barangsiapa mencintai Al-Qur’an, berarti ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.”

Imam Asy-Syafi’i dikenal mampu mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 60 kali dalam bulan Ramadhan, dua kali khatam setiap hari, karena cintanya yang mendalam kepada Kitabullah.

Imam Ahmad bin Hanbal meski dalam keadaan sakit dan usia senja, beliau tetap berusaha membaca Al-Qur’an setiap hari, tidak pernah meninggalkannya.

Hikmah dan Refleksi

Membaca Al-Qur’an bukan hanya ritual, tapi:

1. Sumber Cahaya Hidup – Al-Qur’an adalah cahaya yang menuntun dari kegelapan menuju terang (QS. Al-Maidah: 15–16).

2. Penguat Hati – Setiap ayat yang dibaca meneguhkan iman dan menguatkan kesabaran.

3. Sarana Perubahan Diri – Tilawah yang benar melahirkan akhlak mulia, kesabaran, ketawakkalan, dan sifat dermawan.

4. Bekal Akhirat – Al-Qur’an akan datang sebagai pembela dan penolong bagi pembacanya di Hari Kiamat.

Penutup dan Doa

Maka, jadikanlah membaca Al-Qur’an sebagai rutinitas harian, bukan sekadar kewajiban, tapi kebutuhan ruhani. Tilawah dengan hati yang khusyuk, tadabbur dengan penuh penghayatan, dan amal nyata dengan penuh keikhlasan akan menjadikan hidup kita berkah di dunia dan selamat di akhirat.

Doa:

Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai cahaya hati kami, penyejuk jiwa kami, penghapus kesedihan kami, pengusir kegelapan dalam dada kami, dan penuntun kami menuju surga-Mu yang penuh kenikmatan.”

Dr. Nasrul Syarif, M.Si  (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update