Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Gen Z untuk Peradaban Islam: Saatnya Perubahan Mendasar, Bukan Tambal Sulam

Jumat, 12 September 2025 | 05:48 WIB Last Updated 2025-09-11T22:48:30Z

TintaSiyasi.id -- Fenomena keikutsertaan generasi muda, khususnya Gen-Z, dalam menyuarakan aspirasi belakangan ini cukup menyita perhatian publik. Aksi demonstrasi, unjuk rasa, hingga berbagai ekspresi kreatif di media sosial menjadi bukti nyata bahwa anak-anak muda hari ini tidak tinggal diam melihat realitas sosial-politik di sekeliling mereka. Mereka bicara lantang lewat meme, poster penuh estetika, video singkat, hingga untaian kata-kata di ruang digital.

Dilansir dari kompas.com (4/9/2025), menurut Psikolog Anak dan Remaja, Anastasia Satriyo, M.Psi., Gen-Z lebih memilih menyampaikan aspirasi dengan cara khas mereka, tanpa harus melakukan tindakan destruktif seperti membakar fasilitas umum. Namun, dilansir dari Republik.co.id (1/9/2025), Psikolog Universitas Indonesia, Prof. Rose Mini Agoes Salim, memberi catatan lain, meningkatnya keterlibatan anak di bawah umur dalam demonstrasi menimbulkan kerentanan, karena kontrol diri mereka belum matang sehingga mudah terprovokasi.

Dari kacamata psikologi, Gen-Z dilihat sebagai generasi dengan mekanisme pertahanan unik, yaitu ekspresif, kritis, tetapi juga rapuh. Analisis seperti ini tentu ada benarnya, tetapi jika berhenti hanya pada perspektif psikologi, kita berisiko mengabaikan satu hal penting, dialah akar persoalan yang sesungguhnya.

Analisis Konstruksi

Pertama, pengklasifikasian karakteristik generasi berdasarkan ilmu psikologi dalam kerangka kapitalisme cenderung diarahkan untuk menyesuaikan pola pikir anak muda dengan sistem yang ada. Fokusnya lebih pada bagaimana Gen-Z tetap bisa mengekspresikan diri, mempertahankan identitas, namun tetap berada dalam koridor yang tidak membahayakan stabilitas politik. Artinya, aspirasi mereka diarahkan agar tidak mengguncang status quo.

Kedua, dalam perspektif Islam, karakteristik manusia sejak awal penciptaan memiliki naluri untuk mempertahankan diri (gharizah al-baqa’). Naluri ini membuat manusia menolak kezaliman dan mencari solusi yang bisa menghilangkan kezaliman itu. Jika dituntun oleh syariat, naluri tersebut akan menghasilkan sikap berani menegakkan keadilan. Namun, bila diarahkan hanya dengan psikologi kapitalis, ekspresi itu dipelihara sebatas “Emosi kreatif” yang aman bagi penguasa.

Ketiga, Islam memandang manusia memiliki khasiatul-insan (karakter khusus) berupa akal yang dituntut untuk menerima aturan dari Allah. Artinya, pemenuhan naluri dan kebutuhan jasmani manusia harus tunduk pada tuntunan syara', bukan pada panduan psikologi Barat yang sering kali relatif.

Keempat, dalam Islam, aktivitas mengoreksi penguasa zalim atau muhasabah lil hukkam adalah bagian dari dakwah yang diwariskan sejak masa Rasulullah Saw. 

Allah Swt berfirman dalam surah An-Nahl ayat 125 yang artinya, "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk."

Rasulullah Saw juga bersabda, "Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan (juga) seorang laki-laki yang berdiri di hadapan penguasa zalim, lalu ia memerintahkannya (kepada kebaikan) dan melarangnya (dari kemungkaran), kemudian penguasa itu membunuhnya." (HR. al-Hakim)

Dari dalil ini, jelas bahwa menegur penguasa zalim bukanlah pelanggaran, melainkan kemuliaan.

Kelima, sejarah membuktikan bahwa pemuda selalu menjadi garda terdepan perubahan hakiki (taghyir). Rasulullah Saw sendiri dikelilingi oleh pemuda dalam dakwah awal Islam, sebutlah Ali bin Abi Thalib, Mus’ab bin Umair, Zaid bin Tsabit, hingga Usamah bin Zaid.
Semangat, keberanian, dan idealisme mereka menguatkan risalah Islam hingga akhirnya tegak menjadi peradaban besar.

Potensi Gen-Z untuk Kebangkitan

Potensi besar Gen-Z hari ini tidak bisa dipandang remeh. Mereka lahir di era digital, terhubung dengan informasi global, terbiasa menyuarakan gagasan dengan kreatif, dan punya keberanian untuk menantang otoritas. Namun, potensi ini akan sia-sia bila hanya diarahkan untuk sekadar “Berekspresi aman” tanpa menyentuh akar kezaliman sistemik.

Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Nizham al-Islami menegaskan bahwa perubahan hakiki bukanlah perubahan parsial, melainkan perubahan mendasar pada sistem yang mengatur kehidupan manusia. Beliau menyebutkan, solusi tuntas atas kezaliman hanya akan terwujud melalui penerapan syariat Islam secara kaffah dalam bingkai Daulah Khilafah.

Dengan demikian, Gen-Z yang resah terhadap ketidakadilan, krisis moral, kerusakan lingkungan, dan tirani politik, harus diarahkan pada perjuangan yang benar, yaitu menegakkan Islam sebagai solusi sistemik, bukan sekadar menuntut perbaikan kosmetik.

Islam sebagai Jalan Perubahan Hakiki

Islam menawarkan arah yang jelas bagi aspirasi anak muda.

Pertama, menyalurkan energi kritis mereka pada dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, dan muhasabah lil hukkam. 

Kedua, menuntun kreativitas mereka agar digunakan untuk menyebarkan kebenaran, bukan sekadar hiburan. 

Ketiga, membingkai idealisme mereka dengan visi besar kebangkitan umat melalui khilafah.

Sistem Islam memberikan mekanisme partisipasi politik yang mulia, bukan hanya demonstrasi jalanan atau ekspresi digital. Dalam Khilafah, rakyat berhak melakukan koreksi terhadap penguasa, bahkan boleh mencopotnya bila menyimpang dari syariat. Dengan cara ini, aspirasi anak muda menemukan saluran sehat dan konstruktif.

Fenomena Gen-Z yang berani bicara perubahan adalah tanda fitrah mereka masih hidup. Mereka menolak kezaliman dan mendambakan keadilan. Namun, jika potensi ini hanya diarahkan dalam kerangka kapitalisme, maka hasilnya sebatas ekspresi kreatif yang tidak mengguncang akar masalah.

Islam memandang pemuda sebagai motor peradaban. Dari masa Rasulullah Saw hingga sejarah khilafah, pemuda selalu menjadi garda terdepan kebangkitan. Kini, Gen-Z punya kesempatan emas, bukan hanya jadi generasi kritis di media sosial, tapi generasi penegak peradaban Islam.

Oleh karena itu, arah perjuangan mereka harus jelas, bukan sekadar demonstrasi atau protes simbolik, melainkan taghyir hakiki perubahan sistem menuju penerapan Islam kaffah. Hanya dengan itu, kezaliman dapat dihapus, dan keadilan hakiki bisa terwujud. []


Nabila Zidane
Jurnalis

Opini

×
Berita Terbaru Update