TintaSiyasi.id -- Tragedi di Gaza terus berlanjut. Dunia menyaksikan kezaliman Zionis yang semakin menggila, menewaskan ribuan jiwa tak berdosa, menghancurkan rumah, masjid, bahkan rumah sakit. Dukungan negara-negara besar seperti Amerika Serikat justru memperkuat arogansi Zionis. Sementara itu, masyarakat dunia berusaha menunjukkan solidaritas: aksi demonstrasi, kampanye digital, hingga penggalangan bantuan kemanusiaan terus dilakukan.
Upaya solidaritas tersebut salah satunya diwujudkan melalui misi flotilla yang kembali digerakkan untuk menembus blokade Gaza. Kapal-kapal dari berbagai negara berlayar membawa obat-obatan, makanan, dan relawan dengan tujuan meringankan derita warga Palestina. Seperti diberitakan Republika (23 Mei 2024), armada bantuan internasional yang disebut Gaza Sumud Flotilla telah menghimpun dukungan dari banyak negara untuk mengirim logistik ke Jalur Gaza. Bahkan menurut laporan Tempo (12 Juli 2024), partisipasi warga sipil dalam misi flotilla menunjukkan dunia tidak tinggal diam melihat penderitaan Gaza. Namun, semua itu tidak pernah cukup untuk menghentikan mesin perang Zionis yang terus menggempur tanpa belas kasihan.
Dari realitas ini, ada dua hal penting yang perlu disadari umat. Pertama, pengkhianatan para penguasa negeri-negeri Muslim telah membuat Zionis semakin berani. Alih-alih mengerahkan kekuatan militer untuk menghentikan agresi, mereka memilih diam atau sekadar mengirim pernyataan diplomatis. Bahkan sebagian justru menjalin normalisasi hubungan dengan Israel, seakan-akan kezaliman di Gaza bukan urusan mereka. Sikap ini jelas membuka ruang bagi Zionis untuk melanjutkan penjajahannya.
Kedua, aksi kemanusiaan yang terus diupayakan masyarakat dunia sejatinya hanya menjadi penyangga penderitaan, bukan pemutus kezaliman. Pengiriman bantuan, misi flotilla, dan solidaritas global memang meringankan sesaat, tetapi tidak menyentuh akar masalah. Zionis tetap berkuasa, Gaza tetap terkepung, darah kaum muslim terus ditumpahkan. Selama sumber kejahatan tidak dicabut, maka penderitaan Gaza hanya akan berulang.
Islam sebenarnya telah memberi jalan keluar yang hakiki. Syariat menetapkan kewajiban jihad fi sabilillah untuk melawan penjajah yang menumpahkan darah kaum muslim. Rasulullah Saw. bersabda: “Perumpamaan kaum mukmin dalam cinta, kasih sayang, dan empati mereka ibarat satu tubuh. Jika satu bagian sakit, maka seluruh tubuh merasakan sakit dan demam.” (HR. Muslim). Hadis ini bukan hanya seruan empati, melainkan dorongan untuk tindakan nyata. Persaudaraan iman tidak berhenti pada doa atau pengiriman bantuan, tetapi diwujudkan dalam pembelaan total, termasuk dengan kekuatan militer.
Sejarah mencatat, para khalifah tidak pernah membiarkan darah kaum muslim ditumpahkan begitu saja. Shalahuddin al-Ayyubi memimpin kaum Muslim merebut kembali Baitul Maqdis dari Tentara Salib, bukan dengan diplomasi panjang, tetapi dengan kekuatan militer yang terorganisir. Ia tidak menunggu persetujuan lembaga internasional, melainkan mengerahkan seluruh potensi umat dalam satu komando.
Kondisi hari ini sangat berbeda. Umat memang besar jumlahnya, tetapi tercerai-berai oleh sekat nasionalisme dan dipimpin penguasa yang tunduk pada kepentingan asing. Padahal jika potensi militer dan sumber daya negeri-negeri Muslim disatukan, Zionis tidak akan mampu bertahan. Sebab, kekuatan itu bukan hanya berupa senjata, tetapi juga keyakinan bahwa jihad adalah ibadah yang dijanjikan pahala besar oleh Allah.
Maka, penderitaan Gaza harus membuka mata kita bahwa solusi parsial tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Dunia boleh mengirim bantuan, tetapi hanya khilafah yang mampu menggerakkan jihad secara sah dan terorganisir. Hanya khilafah yang dapat memobilisasi tentara, menyatukan negeri-negeri Muslim, dan menghancurkan penjajahan Zionis hingga ke akar-akarnya.
Umat harus berhenti puas dengan retorika dan aksi simbolis. Saatnya menuntut penguasa muslim agar menjalankan kewajiban syariat, bukan terus meninabobokan rakyat dengan diplomasi kosong. Jika mereka enggan, maka umat wajib berjuang melahirkan kepemimpinan alternatif: khilafah yang menjadikan jihad sebagai instrumen pembebasan, bukan ancaman yang ditakuti.
Sejarah membuktikan, tidak ada penjajah yang berhenti karena belas kasihan, mereka hanya akan berhenti ketika dilawan dengan kekuatan yang sepadan. Gaza sedang menunggu kebangkitan umat Islam. Dunia sedang menanti saat ketika kaum Muslim benar-benar bertindak sebagai satu tubuh. Kini, pertanyaannya hanya satu: apakah kita rela penderitaan Gaza terus berlangsung tanpa akhir, ataukah kita siap mengembalikan aturan Allah yang menjadi satu-satunya solusi hakiki? []
Oleh: Mahrita Julia Hapsari
Aktivis Muslimah Banua