Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Enam Cara Komunikasi dengan Gen Z

Minggu, 21 September 2025 | 17:59 WIB Last Updated 2025-09-21T11:13:14Z

TintaSiyasi.id -- Pemerhati Keluarga dan Generasi Ustazah Dedeh Wahidah Achmad membeberkan enam cara bagaimana orang tua berkomunikasi dengan Gen Z.

 

"Ada enam cara bagaimana orang tua komunikasi dengan Gen Z," bebernya dalam rubrik Family Zone: Menjadi Teman Cerita bagi Gen Z di kanal YouTube Muslimah Media Hub, Selasa (16/09/2025).

 

Pertama, tempatkan sebagai sahabat. “Ketika orang tua menempatkan Gen Z sebagai sahabat berarti orang tua lebih banyak mendengar, bukan banyak berbicara,” ucapnya.

 

“Kalau kepada anak kecil orang tua harus banyak berbicara karena sedang melatih kemampuan mereka berekspresi, kemampuan mereka untuk berbicara,” imbuhnya.

 

"Nah, kalau Gen Z karena dia sudah di atas 10 tahun sampai 25 tahun sudah banyak informasi yang mereka miliki. Sementara boleh jadi kita sebagai orang tua tidak tahu tentang apa saja yang ada di benak anak kita itu," ujarnya.

 

Ia menyarankan, cara orang tua berkomunikasi dengan banyak bertanya lalu mendengarkan apa pun yang mereka katakan.

 

“Tidak langsung menilai ini salah, itu benar. Tetapi dengarkan dulu secara objektif, secara lengkap, integral, komprehensif sehingga orang tua mempunyai pengetahuan yang cukup untuk nanti memberikan penilaian,” sarannya.

 

Ia pun menganjurkan untuk memberikan mereka apresiasi apa pun yang diceritakan oleh anak Gen Z tadi. “Itu adalah sebuah informasi yang sangat istimewa yang akan membantu kita untuk memperlakukan mereka secara tepat. Jadi berikan apresiasi, mungkin dengan kata terima kasih,” katanya.

 

"’Terima kasih sudah terbuka sama Ibu ya, sudah menjadikan Ibu sebagai teman dan lain sebagainya.’ Silakan yang penting anak merasa dihargai," tuturnya.

 

Kedua, Gen Z mudah memberikan perhatian terhadap apa yang dikagumi. “Sebagai contoh kenapa Gen Z lebih percaya kepada chat GPT? Karena mungkin mengagumkan. Apa pun yang ditanyakan pada ChatGPT bisa diketahui dan tepat, validitasnya terjamin, tidak ada hoax dan lain sebagainya,” ulasnya.

 

"Sementara, mungkin orang tuanya ditanya ini tidak tahu, diminta bantuan ini, kita punya kelemahan dan lain sebagainya. Sehingga tidak jarang Gen Z itu tidak merasa kagum dengan orang tuanya,” ucapnya.

 

Apalagi, lanjutnya, kalau orang tuanya itu kesehariannya hanya bisa memberikan perintah-perintah dan larangan-larangan tanpa memberikan pemahaman kepada Gen Z.

 

“Di sisi lain mungkin ada bukti-bukti fakta orang tuanya itu yang justru melakukan sesuatu yang buruk menurut persepsi Gen Z," ujarnya.

 

Oleh karena itu, ia memberikan pesan, sebagai orang tua jangan mudah menyerah. “Teruslah belajar sehingga apa pun yang menjadi masalah anak, apa pun yang ditanyakan oleh anak, kebutuhan seperti apa, Insyaallah orang tua akan mampu menjawabnya,” tuturnya.

 

Ia memberikan motivasi agar menjadi orang tua pembelajar sehingga mereka akan kagum dengan keilmuan dan kompetensi yang orang tua miliki.

 

"Ketiga, Gen Z adalah generasi yang unik. Mereka memiliki sesuatu yang tidak kita miliki. Nah, yang kadang menjadi kelemahan kita, kita luput untuk mengoptimalkan keunikan Gen Z itu, tetapi mengedepankan apa yang kita inginkan,” sebutnya.

 

“Sehingga dalam komunikasi itu, ibu maunya ini, kalau ayah ingin kamu tuh seperti ini. Tanpa kita mengeksplorasi, tanpa kita itu mendengarkan sebenarnya yang ada di benak mereka itu apa, apa kompetensi, apa kelebihan yang mereka miliki dan mereka sadari," imbuhnya.

 

Komunikasi tersebut yang mungkin harus orang tua optimalkan, imbuhnya, sehingga di dalam perbincangan, Gen Z merasa diperhatikan, bahkan akan mengakui bahwa orang tuanya peduli kepada dia, dengan memperhatikan sisi kelebihan dia.

 

“Maka ini akan membantu untuk memperlancar, mengharmoniskan komunikasi yang akan kita lakukan,” tandasnya.

 

"Keempat, berbicara dengan Gen Z jangan terlalu teoritis. Mereka itu adalah generasi instan. Mereka tidak mempunyai waktu yang cukup untuk mendengarkan penjelasan kita yang begitu detail. Karena mereka akan tahu teori itu dari ChatGPT dan itu bisa mereka dapatkan mungkin hanya dengan satu menit bahkan kurang," ucapnya.

 

Sementara, ia menyatakan, mendengarkan ceramah orang tuanya, nasihat dari orang tuanya yang mereka bilang bertele-tele, mengulang ngulang. “Berarti orang tua harus mempunyai strategi bagaimana ketika menjelaskan sesuatu jangan terlalu teoritis. Poin-poinnya saja tetapi tetap intinya sampai, filosofinya sampai, dan memberikan pemahaman kepada Gen Z.

 

"Dari situ justru ada tantangan bagi Gen Z. Mereka akan mengoptimalkan kemampuannya tadi itu berikutnya mereka akan mencari tahu dan tentu saja berdasarkan pengawalan dan arahan kita. Sehingga pengetahuan yang berikutnya akan mereka cari bukan pengetahuan yang menyesatkan," tambahnya.

 

Kelima, generasi sekarang hasil asuhan kapitalisme. “Hasil pendidikan yang dilahirkan, dibesarkan, didewasakan oleh ideologi yang mengedepankan keuntungan materi. Sehingga berikutnya wajar kalau sekarang Gen Z selalu mengedepankan apa untungnya bagi mereka, kalau mereka melakukan itu apa manfaatnya. Orang tua tidak usah langsung meng-cut, tetapi memahami,” tuturnya.

 

"Berarti memang dalam penjelasannya kita harus mampu membangun kesadaran pada Gen Z bahwa apa yang kita sampaikan itu sangat bermanfaat bagi mereka. Nah, tentu yang kita sampaikan bukan hanya manfaat materi, tetapi selalu kita kaitkan bahwa kita hidup ini harus bervisi akhirat. Apa yang dilakukan oleh kita harus ya punya nilai ibadah," lanjutnya.

 

Jadi orang tua harus menjelaskan dari mulai yang paling mendasar, lanjutnya, itu adalah perintah Allah ataukah larangan-Nya. “Sehingga kalau orang tua melakukannya akan dapat pahala, Allah rida atau Allah murka itu harus clear dulu posisinya secara hukum, syarat seperti apa,” sarannya.

 

"Kita memberikan contoh benefit atau manfaatnya. Kalau kamu belajar, kamu akan begini, begini. Kalau kamu latihan maka akan lebih profesional dan lain sebagainya. Itu mungkin akan lebih mendorong Gen Z ini semangat berkomunikasi karena berbicara dengan orang tuanya ternyata banyak manfaatnya," ujarnya.

 

Keenam, bangun kepercayaan. “Jangan mudah men-judge, jangan langsung menilai. Karena akan menutup kepercayaan,” lugasnya.

 

"Jadi, kalau ada rahasia, pegang rahasia itu. Kalau mereka memberikan amanah, tunaikan amanah itu dengan sebaik-baiknya," sarannya.

 

Demikian juga kalau orang tua memberikan instruksi, sebutnya, berikan instruksi dengan sejelas-jelasnya. “Sehingga Gen Z ini, putra dan putri kita ini, merasa aman, nyaman, dan percaya dengan kita,” paparnya.

 

Ia menyebut, ketika orang tuanya bisa bersahabat memerankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai orang tua, maka anak-anak kita, putra dan putri kita bukan tidak boleh ya dekat dengan ChatGPT, tetapi mereka akan proporsional dan akan bertanggung jawab.

 

“Mana yang bisa didialogkan dengan ChatGPT, mana yang justru harus dikomunikasikan dengan orang tuanya, dengan ayah dan ibunya, karena mereka tahu yang akan membimbing mereka untuk hidup bahagia di dunia dan selamat di akhirat bukanlah ChatGPT tetapi orang tuanya," pungkasnya.[] Eka

Opini

×
Berita Terbaru Update