TintaSiyasi.id -- Pemerhati Keluarga dan Generasi Ustazah Dedeh Wahidah Achmad membeberkan enam cara bagaimana orang tua berkomunikasi dengan Gen Z.
"Ada enam cara bagaimana orang
tua komunikasi dengan Gen Z," bebernya dalam rubrik Family Zone:
Menjadi Teman Cerita bagi Gen Z di kanal YouTube Muslimah Media Hub,
Selasa (16/09/2025).
Pertama, tempatkan
sebagai sahabat. “Ketika orang tua menempatkan Gen Z sebagai sahabat berarti orang
tua lebih banyak mendengar, bukan banyak berbicara,” ucapnya.
“Kalau kepada anak kecil orang tua
harus banyak berbicara karena sedang melatih kemampuan mereka berekspresi,
kemampuan mereka untuk berbicara,” imbuhnya.
"Nah, kalau Gen Z karena dia
sudah di atas 10 tahun sampai 25 tahun sudah banyak informasi yang mereka
miliki. Sementara boleh jadi kita sebagai orang tua tidak tahu tentang apa saja
yang ada di benak anak kita itu," ujarnya.
Ia menyarankan, cara orang tua berkomunikasi
dengan banyak bertanya lalu mendengarkan apa pun yang mereka katakan.
“Tidak langsung menilai ini salah,
itu benar. Tetapi dengarkan dulu secara objektif, secara lengkap, integral,
komprehensif sehingga orang tua mempunyai pengetahuan yang cukup untuk nanti
memberikan penilaian,” sarannya.
Ia pun menganjurkan untuk memberikan
mereka apresiasi apa pun yang diceritakan oleh anak Gen Z tadi. “Itu adalah
sebuah informasi yang sangat istimewa yang akan membantu kita untuk
memperlakukan mereka secara tepat. Jadi berikan apresiasi, mungkin dengan kata
terima kasih,” katanya.
"’Terima kasih sudah terbuka
sama Ibu ya, sudah menjadikan Ibu sebagai teman dan lain sebagainya.’ Silakan
yang penting anak merasa dihargai," tuturnya.
Kedua, Gen Z mudah
memberikan perhatian terhadap apa yang dikagumi. “Sebagai contoh kenapa Gen Z
lebih percaya kepada chat GPT? Karena mungkin mengagumkan. Apa pun yang
ditanyakan pada ChatGPT bisa diketahui dan tepat, validitasnya terjamin, tidak
ada hoax dan lain sebagainya,” ulasnya.
"Sementara, mungkin orang tuanya
ditanya ini tidak tahu, diminta bantuan ini, kita punya kelemahan dan lain
sebagainya. Sehingga tidak jarang Gen Z itu tidak merasa kagum dengan orang
tuanya,” ucapnya.
Apalagi, lanjutnya, kalau orang
tuanya itu kesehariannya hanya bisa memberikan perintah-perintah dan
larangan-larangan tanpa memberikan pemahaman kepada Gen Z.
“Di sisi lain mungkin ada bukti-bukti
fakta orang tuanya itu yang justru melakukan sesuatu yang buruk menurut
persepsi Gen Z," ujarnya.
Oleh karena itu, ia memberikan pesan,
sebagai orang tua jangan mudah menyerah. “Teruslah belajar sehingga apa pun
yang menjadi masalah anak, apa pun yang ditanyakan oleh anak, kebutuhan seperti
apa, Insyaallah orang tua akan mampu menjawabnya,” tuturnya.
Ia memberikan motivasi agar menjadi
orang tua pembelajar sehingga mereka akan kagum dengan keilmuan dan kompetensi
yang orang tua miliki.
"Ketiga, Gen Z adalah
generasi yang unik. Mereka memiliki sesuatu yang tidak kita miliki. Nah, yang
kadang menjadi kelemahan kita, kita luput untuk mengoptimalkan keunikan Gen Z
itu, tetapi mengedepankan apa yang kita inginkan,” sebutnya.
“Sehingga dalam komunikasi itu, ibu
maunya ini, kalau ayah ingin kamu tuh seperti ini. Tanpa kita mengeksplorasi,
tanpa kita itu mendengarkan sebenarnya yang ada di benak mereka itu apa, apa
kompetensi, apa kelebihan yang mereka miliki dan mereka sadari," imbuhnya.
Komunikasi tersebut yang mungkin
harus orang tua optimalkan, imbuhnya, sehingga di dalam perbincangan, Gen Z
merasa diperhatikan, bahkan akan mengakui bahwa orang tuanya peduli kepada dia,
dengan memperhatikan sisi kelebihan dia.
“Maka ini akan membantu untuk
memperlancar, mengharmoniskan komunikasi yang akan kita lakukan,” tandasnya.
"Keempat, berbicara
dengan Gen Z jangan terlalu teoritis. Mereka itu adalah generasi instan. Mereka
tidak mempunyai waktu yang cukup untuk mendengarkan penjelasan kita yang begitu
detail. Karena mereka akan tahu teori itu dari ChatGPT dan itu bisa mereka
dapatkan mungkin hanya dengan satu menit bahkan kurang," ucapnya.
Sementara, ia menyatakan, mendengarkan
ceramah orang tuanya, nasihat dari orang tuanya yang mereka bilang
bertele-tele, mengulang ngulang. “Berarti orang tua harus mempunyai strategi
bagaimana ketika menjelaskan sesuatu jangan terlalu teoritis. Poin-poinnya saja
tetapi tetap intinya sampai, filosofinya sampai, dan memberikan pemahaman
kepada Gen Z.
"Dari situ justru ada tantangan
bagi Gen Z. Mereka akan mengoptimalkan kemampuannya tadi itu berikutnya mereka
akan mencari tahu dan tentu saja berdasarkan pengawalan dan arahan kita.
Sehingga pengetahuan yang berikutnya akan mereka cari bukan pengetahuan yang
menyesatkan," tambahnya.
Kelima, generasi sekarang
hasil asuhan kapitalisme. “Hasil pendidikan yang dilahirkan, dibesarkan,
didewasakan oleh ideologi yang mengedepankan keuntungan materi. Sehingga
berikutnya wajar kalau sekarang Gen Z selalu mengedepankan apa untungnya bagi
mereka, kalau mereka melakukan itu apa manfaatnya. Orang tua tidak usah
langsung meng-cut, tetapi memahami,” tuturnya.
"Berarti memang dalam
penjelasannya kita harus mampu membangun kesadaran pada Gen Z bahwa apa yang
kita sampaikan itu sangat bermanfaat bagi mereka. Nah, tentu yang kita
sampaikan bukan hanya manfaat materi, tetapi selalu kita kaitkan bahwa kita
hidup ini harus bervisi akhirat. Apa yang dilakukan oleh kita harus ya punya
nilai ibadah," lanjutnya.
Jadi orang tua harus menjelaskan dari
mulai yang paling mendasar, lanjutnya, itu adalah perintah Allah ataukah
larangan-Nya. “Sehingga kalau orang tua melakukannya akan dapat pahala, Allah
rida atau Allah murka itu harus clear dulu posisinya secara hukum,
syarat seperti apa,” sarannya.
"Kita memberikan contoh benefit
atau manfaatnya. Kalau kamu belajar, kamu akan begini, begini. Kalau kamu
latihan maka akan lebih profesional dan lain sebagainya. Itu mungkin akan lebih
mendorong Gen Z ini semangat berkomunikasi karena berbicara dengan orang tuanya
ternyata banyak manfaatnya," ujarnya.
Keenam, bangun
kepercayaan. “Jangan mudah men-judge, jangan langsung menilai. Karena akan
menutup kepercayaan,” lugasnya.
"Jadi, kalau ada rahasia, pegang
rahasia itu. Kalau mereka memberikan amanah, tunaikan amanah itu dengan
sebaik-baiknya," sarannya.
Demikian juga kalau orang tua
memberikan instruksi, sebutnya, berikan instruksi dengan sejelas-jelasnya. “Sehingga
Gen Z ini, putra dan putri kita ini, merasa aman, nyaman, dan percaya dengan
kita,” paparnya.
Ia menyebut, ketika orang tuanya bisa
bersahabat memerankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai orang tua, maka
anak-anak kita, putra dan putri kita bukan tidak boleh ya dekat dengan ChatGPT,
tetapi mereka akan proporsional dan akan bertanggung jawab.
“Mana yang bisa didialogkan dengan ChatGPT,
mana yang justru harus dikomunikasikan dengan orang tuanya, dengan ayah dan
ibunya, karena mereka tahu yang akan membimbing mereka untuk hidup bahagia di
dunia dan selamat di akhirat bukanlah ChatGPT tetapi orang tuanya,"
pungkasnya.[] Eka
