TintaSiyasi.id -- Menanggapi upaya bersama China dan Indonesia menjayakan dedolarisasi melalui skema LCT (Local Currency Transaction), Direktur The Economic Future Institute (TEFI) Dr. Yuana Tri Utomo menyatakan bahwa bercokolnya paradigma sekuler di benak umat menyebabkan sistem mata uang Islam tidak dipertimbangkan.
“Jadi Indonesia ini kan memang tidak mempertimbangkan
sistem mata uang Islam, karena bercokolnya paradigma sekuler dalam negeri kita
ini dan ini argumen yang paling vital,” ujarnya dalam kanal YouTube bertema
China Ingin Tumbangkan Dolar, Ekonom Ingatkan Begini, Ahad (21/9/2025).
Ia menegaskan, upaya dedolarisasi dengan memperkuat
daya tahan sistem keuangan regional bagi menghadapi dinamika global hanya
memindahkan ketergantungan dan selama ini tidak berubah, sistem krisisnya akan
terus terjadi.
“LCT dengan yuan, mata uang lokal lainnya pada
dasarnya memang hanya memindahkan ketergantungan, bukan menghapus akar
ketidakstabilan moneter global. Jadi akar masalahnya itu pada sistem fiat money
global yang sebetulnya berbasis utang dan hegemoni politik ekonomi negara
adidaya,” katanya.
Ia menambahkan, dalam skala yang lebih besar, dunia Muslim
sangat bisa memimpin transformasi keuangan global dengan penerapan mata uang
Islam lintas negara dengan adanya kemauan yang kuat, pada paradigma akidah yang
digunakan oleh para pengambil kebijakan, para politisi, dan para ekonom.
“Itu hanya mungkin bisa dilakukan kalau adanya kemauan
yang visioner, kesatuan politik ekonomi yang visioner, keberanian melawan
tekanan global, serta konsistensi
menerapkan sistem Islam yang kaffah. Jadi bukan sekedar kosmetik syariat
di atas pondasi kapitalisme itu bukan,” ungkapnya.
Ia membeberkan bagaimana potensi dunia Muslim dengan
sumber daya alam yang sangat besar jika dapat disatukan menjadi satu tekad dan
kemauan bisa menguncang dominasi dolar dan yuan, bahkan bisa menjadi pusat gravity
baru moneter global.
“Mayoritas cadangan minyak, gas, dan mineral sangat
melimpah di Timur Tengah, Afrika, dan Asia Tengah. Kemudian juga menjadi pasar
yang besar, hampir 2 milliar penduduk dengan daya beli kolektif yang sangat
besar itu potensi betul. Adanya cadangan emas misalnya di Turki, Arab Saudi, dan
Uni Emirat Arab melimpah juga,” tambahnya.
Oleh karena negara-negara Muslim masih terpecah belah,
ia menyatakan adanya tantangan-tantangan yang harus dihadapi dengan akidah dan
kemauan yang kuat.
“Ini kan kita masih terfragmentasi oleh negara-negara Muslim
yang belum bersatu dalam visi ekonominya. OKI aja misalnya Indonesia, Malaysia
dan negara-negara yang Muslim itu kan ketergantungan sistemis itu masih kuat
terhadap IMF, terhadap pasar finansial Barat itu harus ditinggalkan,” ujarnya.
“Terus kemudian dominasi elite global, dominasi elite
lokal di negeri-negeri Muslim tadi kan banyak di dunia Islam. Ini
rezim-rezimnya justru bermitra dengan kekuatan global. Kemudian ancaman
geopolitik di mana setiap upaya ke luar dari sistem fiat langsung ditindak
dengan agresi militer,” ungkapnya.
Ia menyebut, telah terbukti adanya jaminan kemandirian
geopolitik dan ekonomi di mana dunia Islam pernah menjadi pusat perdagangan
dunia lebih dari 1000 tahun tanpa krisis moneter dan dominasi negara tertentu, karena
adanya kesadaran untuk tunduk kepada syariat Islam dan bukannya tunduk pada
permainan kurs dolar atau yuan.
“Kita punya identitas sendiri, karakter sendiri. Islam
punya prinsip sendiri, punya ajaran-ajaran yang kaffah. Di antaranya adalah
penggunaan dinar dan dirham,” pungkasnya.[] Rahmah
