Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Direktur TEFI: Bercokolnya Paradigma Sekuler Penyebab Sistem Mata Uang Islam Tidak Dipertimbangkan

Selasa, 30 September 2025 | 21:22 WIB Last Updated 2025-09-30T22:39:53Z

TintaSiyasi.id -- Menanggapi upaya bersama China dan Indonesia menjayakan dedolarisasi melalui skema LCT (Local Currency Transaction), Direktur The Economic Future Institute (TEFI) Dr. Yuana Tri Utomo menyatakan bahwa bercokolnya paradigma sekuler di benak umat menyebabkan sistem mata uang Islam tidak dipertimbangkan.

 

“Jadi Indonesia ini kan memang tidak mempertimbangkan sistem mata uang Islam, karena bercokolnya paradigma sekuler dalam negeri kita ini dan ini argumen yang paling vital,” ujarnya dalam kanal YouTube bertema China Ingin Tumbangkan Dolar, Ekonom Ingatkan Begini, Ahad (21/9/2025).

 

Ia menegaskan, upaya dedolarisasi dengan memperkuat daya tahan sistem keuangan regional bagi menghadapi dinamika global hanya memindahkan ketergantungan dan selama ini tidak berubah, sistem krisisnya akan terus terjadi.

 

“LCT dengan yuan, mata uang lokal lainnya pada dasarnya memang hanya memindahkan ketergantungan, bukan menghapus akar ketidakstabilan moneter global. Jadi akar masalahnya itu pada sistem fiat money global yang sebetulnya berbasis utang dan hegemoni politik ekonomi negara adidaya,” katanya.

 

Ia menambahkan, dalam skala yang lebih besar, dunia Muslim sangat bisa memimpin transformasi keuangan global dengan penerapan mata uang Islam lintas negara dengan adanya kemauan yang kuat, pada paradigma akidah yang digunakan oleh para pengambil kebijakan, para politisi, dan para ekonom.

 

“Itu hanya mungkin bisa dilakukan kalau adanya kemauan yang visioner, kesatuan politik ekonomi yang visioner, keberanian melawan tekanan global, serta konsistensi  menerapkan sistem Islam yang kaffah. Jadi bukan sekedar kosmetik syariat di atas pondasi kapitalisme itu bukan,” ungkapnya.

 

Ia membeberkan bagaimana potensi dunia Muslim dengan sumber daya alam yang sangat besar jika dapat disatukan menjadi satu tekad dan kemauan bisa menguncang dominasi dolar dan yuan, bahkan bisa menjadi pusat gravity baru moneter global.

 

“Mayoritas cadangan minyak, gas, dan mineral sangat melimpah di Timur Tengah, Afrika, dan Asia Tengah. Kemudian juga menjadi pasar yang besar, hampir 2 milliar penduduk dengan daya beli kolektif yang sangat besar itu potensi betul. Adanya cadangan emas misalnya di Turki, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab melimpah juga,” tambahnya.

 

Oleh karena negara-negara Muslim masih terpecah belah, ia menyatakan adanya tantangan-tantangan yang harus dihadapi dengan akidah dan kemauan yang kuat.

 

“Ini kan kita masih terfragmentasi oleh negara-negara Muslim yang belum bersatu dalam visi ekonominya. OKI aja misalnya Indonesia, Malaysia dan negara-negara yang Muslim itu kan ketergantungan sistemis itu masih kuat terhadap IMF, terhadap pasar finansial Barat itu harus ditinggalkan,” ujarnya.

 

“Terus kemudian dominasi elite global, dominasi elite lokal di negeri-negeri Muslim tadi kan banyak di dunia Islam. Ini rezim-rezimnya justru bermitra dengan kekuatan global. Kemudian ancaman geopolitik di mana setiap upaya ke luar dari sistem fiat langsung ditindak dengan agresi militer,” ungkapnya.

 

Ia menyebut, telah terbukti adanya jaminan kemandirian geopolitik dan ekonomi di mana dunia Islam pernah menjadi pusat perdagangan dunia lebih dari 1000 tahun tanpa krisis moneter dan dominasi negara tertentu, karena adanya kesadaran untuk tunduk kepada syariat Islam dan bukannya tunduk pada permainan kurs dolar atau yuan.

 

“Kita punya identitas sendiri, karakter sendiri. Islam punya prinsip sendiri, punya ajaran-ajaran yang kaffah. Di antaranya adalah penggunaan dinar dan dirham,” pungkasnya.[] Rahmah

Opini

×
Berita Terbaru Update