Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Diamnya Saudi terhadap Palestina Merupakan Pengkhianatan Terbuka kepada Kaum Muslim

Selasa, 09 September 2025 | 15:40 WIB Last Updated 2025-09-09T08:40:27Z

Tintasiyasi.ID -- Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi mengungkapkan bahwa diamnya Saudi terhadap Palestina merupakan pengkhianatan terbuka kepada kaum Muslim.

 

"Jadi kalau kita lihat apa yang dilakukan oleh Saudi sekarang ini jelas adalah merupakan pengkhianatan yang terbuka terhadap kaum Muslim," tuturnya dalam Kabar Petang: Terbongkar Konspirasi Perdagangan Senjata untuk Isr@3L, Saudi Terlibat? di kanal YouTube Khilafah News, Kamis (04/09/2025).

 

Menurutnya, apa yang dilakukan Saudi saat ini adalah pengkhianatan yang nyata. “Kalau masyarakat yang tidak memiliki senjata menetapkan untuk memilih bantuan kemanusiaan itu bisa diterima. Walaupun tentu itu tidak cukup,” jelasnya.

 

“Tetapi bagi sebuah negara yang dia memiliki persenjataan, memiliki pasukan dan bisa menggerakkan pasukan, bisa mengerahkan senjata-senjatanya untuk membebaskan saudaranya yang dizalimi, yang ditindas, itu tidak dilakukan. Berarti ini adalah pengkhianatan,” tandasnya.

 

"Apalagi kemudian Saudi sangat berperan dalam normalisasi. Meskipun Saudi sampai saat ini tidak menunjukkan bahwa dia secara terbuka melakukan normalisasi dengan Israel, tetapi banyak fakta yang menunjukkan Saudilah yang menjadi arsitektur bagi normalisasi beberapa negara-negara Arab belakangan ini. Artinya normalisasi negara-negara Arab dengan Israel ini di bawah sponsor Saudi," ungkapnya.

 

Demikian juga kalau dilihat, Saudi juga berperan dalam mengusung isu dua negara. “Sebagaimana yang dilakukan oleh Saudi dalam Deklarasi New York. Sementara nyata-nyata isu dua negara yang menjadi solusi untuk Palestina itu adalah solusi palsu yang menjebak, karena solusi dua negara adalah solusi yang sangat lemah.

 

"Pertama, dilihat dari posisi bahwa solusi dua negara itu tetap mempertahankan eksistensi penjajah Yahudi. Artinya apa? Persoalannya tidak akan selesai, karena persoalan di Palestina itu disebabkan karena eksistensi penjajah Yahudi ini,” bebernya.

 

Kedua, kalaupun ada dua negara di sana, ada negara Palestina di sana, tentu adalah negara Palestina yang lemah yang diposisikan tidak sampai pada tingkat yang mengancam Israel, dan posisi lemah ini sudah dirancang sejak sekarang," jelasnya.

 

Ia menggambarkan, bagaimana negara yang disebut negara Palestina itu kalaupun nanti terwujud adalah negara yang sangat kecil, yang hanya meliputi Gaza dan Tepi Barat. “Itu pun dipisah oleh berbagai penghalang-penghalang yang tidak mudah menyatukan antara Tepi Barat dan jalur Gaza. Jadi sudah dirancang demikian lemah,” ungkapnya.

 

"Bisa kita pastikan, kalaupun ada negara Palestina adalah negara yang tidak memiliki kekuatan militer yang mengancam. Lantas negara Palestina seperti apa kalau terwujud seperti itu? Nah, Saudi berperan untuk mengusung solusi dua negara ini,” lugasnya.

 

“Ini sesungguhnya bentuk dari pengabaian terhadap solusi utamanya itu yang seharusnya Saudi menyatukan kaum Muslim, menggerakkan kaum Muslim, menggerakkan negeri-negeri Islam untuk mengirimkan tentaranya," pungkasnya.[] Rina

Opini

×
Berita Terbaru Update