Tintasiyasi.ID -- Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi mengungkapkan bahwa diamnya Saudi terhadap Palestina merupakan pengkhianatan terbuka kepada kaum Muslim.
"Jadi kalau kita lihat apa yang dilakukan oleh
Saudi sekarang ini jelas adalah merupakan pengkhianatan yang terbuka terhadap
kaum Muslim," tuturnya dalam Kabar Petang: Terbongkar Konspirasi
Perdagangan Senjata untuk Isr@3L, Saudi Terlibat? di kanal YouTube
Khilafah News, Kamis (04/09/2025).
Menurutnya, apa yang dilakukan Saudi saat ini adalah
pengkhianatan yang nyata. “Kalau masyarakat yang tidak memiliki senjata menetapkan
untuk memilih bantuan kemanusiaan itu bisa diterima. Walaupun tentu itu tidak
cukup,” jelasnya.
“Tetapi bagi sebuah negara yang dia memiliki
persenjataan, memiliki pasukan dan bisa menggerakkan pasukan, bisa mengerahkan
senjata-senjatanya untuk membebaskan saudaranya yang dizalimi, yang ditindas,
itu tidak dilakukan. Berarti ini adalah pengkhianatan,” tandasnya.
"Apalagi kemudian Saudi sangat berperan dalam
normalisasi. Meskipun Saudi sampai saat ini tidak menunjukkan bahwa dia secara
terbuka melakukan normalisasi dengan Israel, tetapi banyak fakta yang
menunjukkan Saudilah yang menjadi arsitektur bagi normalisasi beberapa
negara-negara Arab belakangan ini. Artinya normalisasi negara-negara Arab
dengan Israel ini di bawah sponsor Saudi," ungkapnya.
Demikian juga kalau dilihat, Saudi juga berperan dalam
mengusung isu dua negara. “Sebagaimana yang dilakukan oleh Saudi dalam Deklarasi
New York. Sementara nyata-nyata isu dua negara yang menjadi solusi untuk
Palestina itu adalah solusi palsu yang menjebak, karena solusi dua negara
adalah solusi yang sangat lemah.
"Pertama, dilihat dari posisi bahwa solusi
dua negara itu tetap mempertahankan eksistensi penjajah Yahudi. Artinya apa? Persoalannya
tidak akan selesai, karena persoalan di Palestina itu disebabkan karena
eksistensi penjajah Yahudi ini,” bebernya.
“Kedua, kalaupun ada dua negara di sana, ada
negara Palestina di sana, tentu adalah negara Palestina yang lemah yang
diposisikan tidak sampai pada tingkat yang mengancam Israel, dan posisi lemah
ini sudah dirancang sejak sekarang," jelasnya.
Ia menggambarkan, bagaimana negara yang disebut negara
Palestina itu kalaupun nanti terwujud adalah negara yang sangat kecil, yang
hanya meliputi Gaza dan Tepi Barat. “Itu pun dipisah oleh berbagai
penghalang-penghalang yang tidak mudah menyatukan antara Tepi Barat dan jalur
Gaza. Jadi sudah dirancang demikian lemah,” ungkapnya.
"Bisa kita pastikan, kalaupun ada negara
Palestina adalah negara yang tidak memiliki kekuatan militer yang mengancam.
Lantas negara Palestina seperti apa kalau terwujud seperti itu? Nah, Saudi
berperan untuk mengusung solusi dua negara ini,” lugasnya.
“Ini sesungguhnya bentuk dari pengabaian terhadap
solusi utamanya itu yang seharusnya Saudi menyatukan kaum Muslim, menggerakkan
kaum Muslim, menggerakkan negeri-negeri Islam untuk mengirimkan tentaranya,"
pungkasnya.[] Rina
