Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Demokrasi Terbukti hanya Melahirkan Oligarki

Senin, 08 September 2025 | 20:01 WIB Last Updated 2025-09-08T13:01:55Z

TintaSiyasi.id -- Media RayahTV mengatakan bahwa demokrasi terbukti melahirkan oligarki, sementara rakyat ditinggalkan dalam kesengsaraan.

"Demokrasi pun terbukti hanya melahirkan oligarki, segelintir elit yang menguasai kekayaan negeri sementara rakyat ditinggalkan dalam kesengsaraan," ungkapnya di akun Instagram RayahTV, Jumat (5/9/2025). 

Ia menjelaskan, fenomena kenaikan gaji wakil rakyat tidak berhenti pada DPR saja, para pejabat negara mulai dari menteri, wakil menteri hingga komisaris ikut menikmati pendapatan fantastis.

"Ironisnya mereka hidup bergelimang harta dari uang rakyat sementara di sisi lain rakyat kian menderita tidak sedikit diantara para pejabat itu yang tersandung kasus korupsi bahkan nilainya bukan lagi milyaran melainkan triliunan rupiah," paparnya. 

"Tidak ayal suara rakyat pun lantang terdengar bubarkan DPR sebab selama ini jabatan seolah hanya dijadikan bancakan politik demokrasi yang mahal telah melahirkan pejabat haus harta, kursi kekuasaan direbut mati-matian bukan untuk melayani rakyat melainkan untuk mengembalikan modal politik memperkaya diri dan memamerkan gaya hidup mewah," cecarnya.

Padahal, Islam telah mengingatkan bahayanya hidup bermewah-mewahan apalagi bagi para pemimpin Allah Swt berfirman 

اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُۙ ۝١
Berbangga-bangga dalam memperbanyak (dunia) telah melalaikanmu

حَتّٰى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَۗ ۝٢
sampai kamu masuk ke dalam kubur.

(QS. At Takasur ayat 1-2) 

Serta ia mengutip QS. Al Isra' Al-Isra' · Ayat 16

وَاِذَآ اَرَدْنَآ اَنْ نُّهْلِكَ قَرْيَةً اَمَرْنَا مُتْرَفِيْهَا فَفَسَقُوْا فِيْهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنٰهَا تَدْمِيْرًا ۝١٦

Jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah). Lalu, mereka melakukan kedurhakaan di negeri itu sehingga pantaslah berlaku padanya perkataan (azab Kami). Maka, Kami hancurkan (negeri itu) sehancur-hancurnya.

"Dalam pandangan Islam kekuasaan adalah amanah bukan santapan lezat untuk dinikmati, Khalifah Umar bin Khattab pernah berkata aku memposisikan diriku terhadap harta Allah seperti wali bagi anak yatim jika aku berkecukupan aku menjaga diri jika aku membutuhkan aku mengambil sekedarnya saja dengan cara yang baik," terangnya. 

Demikian, ia menambahkan, Umar bin Abdul Aziz mengingatkan kekuasaan akan menjadi kehinaan dan penyesalan di akhirat kecuali bagi yang menunaikannya dengan benar. 

"Sikap pemimpin dan pejabat semacam itu sangat sulit ditemukan hari ini hal itu karena mereka lahir dan tumbuh dari rahim sistem demokrasi kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan, sistem inilah yang melahirkan para pemimpin dengan watak yang melekat dengan keserakahan, ketidakadilan dan tega terhadap penderitaan rakyat untuk itu solusinya jelas negeri ini harus segera keluar dari aturan-aturan manusia menuju hukum Allah SWT," ungkapnya. 

Allah berfirman “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 208)

Sehingga, penerapan syariah Islam secara kaffah dalam bingkai khilafah adalah jalan satu-satunya untuk mewujudkan keadilan, kesejahteraan dan keberkahan sebab Allah telah berjanji "Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan." (QS Al-A'raf Ayat 96). [] Alfia Purwanti

Opini

×
Berita Terbaru Update