Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Rakyat Sudah Menderita: Jangan Biarkan Amanah Itu Tercabik oleh Sandiwara Politik

Selasa, 09 September 2025 | 01:17 WIB Last Updated 2025-09-08T23:07:44Z

tintaSiyasi.id -- Pendahuluan: Jeritan Sunyi dari Rakyat Kecil

Di balik gemerlap panggung politik, ada suara lirih yang sering tidak terdengar. Rakyat kecil—petani, buruh, nelayan, pedagang kecil, guru honorer, para pekerja harian—hidup dalam kesulitan yang nyata. Harga kebutuhan melonjak, akses pendidikan tidak merata, biaya kesehatan semakin berat, sementara janji-janji politik yang dulu lantang diucapkan kerap berakhir sebagai retorika kosong.

Mereka bukan sekadar angka dalam daftar pemilih, bukan pula objek yang dimanfaatkan untuk kepentingan jangka pendek. Mereka adalah manusia yang memiliki martabat, harapan, dan hak untuk hidup sejahtera.

Namun, sungguh menyedihkan, di atas panggung kekuasaan justru sering kita saksikan sandiwara politik picik. Alih-alih memperjuangkan kepentingan rakyat, elit politik sibuk dengan intrik, perebutan kursi, dan kepentingan golongan. Inilah pengkhianatan besar yang kelak tidak hanya dicatat sejarah, tetapi juga akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Kekuasaan Adalah Amanah, Bukan Panggung Sandiwara

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka." (HR. Abu Dawud).

Kepemimpinan bukanlah tahta kehormatan, melainkan beban amanah. Seorang pemimpin sejati adalah pelayan rakyatnya, bukan penguasa yang memperalat rakyat untuk kepentingan pribadi.

Sayangnya, banyak elit politik yang lupa akan hakikat ini. Mereka menganggap jabatan sebagai kesempatan untuk memperkaya diri, mengamankan dinasti politik, atau membangun citra palsu di depan publik. Padahal Allah dengan tegas mengingatkan:

"Dan janganlah kamu campur-adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 42).

Politik yang dijalankan tanpa moral hanyalah panggung sandiwara yang menipu rakyat. Tetapi ketahuilah, Allah tidak tidur. Setiap pengkhianatan akan mendapatkan balasannya.

Teladan Pemimpin Adil dalam Islam

Dalam sejarah Islam, kita menemukan contoh pemimpin yang benar-benar menghayati amanah kekuasaan.

1. Umar bin Khattab r.a.

Khalifah kedua ini terkenal sangat peduli pada rakyatnya. Ia sering menyamar di malam hari, berjalan keliling kota Madinah untuk memastikan tidak ada rakyat yang kelaparan. Suatu malam ia mendapati seorang ibu yang memasak batu untuk menenangkan anak-anaknya yang menangis kelaparan. Umar menangis tersedu, lalu segera memanggul sendiri karung gandum dari baitul mal untuk diberikan kepada keluarga itu.

Ketika salah satu pengawalnya menawarkan untuk membawakan karung tersebut, Umar berkata:
"Apakah engkau sanggup memikul dosaku di hari kiamat?"

2. Umar bin Abdul Aziz

Khalifah yang dikenal sebagai “Umar II” ini memimpin hanya dua tahun lebih, tetapi keadilannya membuat rakyat hidup makmur. Sejarah mencatat, di masa pemerintahannya hampir tidak ada orang yang berhak menerima zakat, karena kemiskinan berhasil ditekan dengan adilnya distribusi kekayaan.

Umar bin Abdul Aziz pernah berkata:
"Aku tidak akan merasa kenyang sementara masih ada rakyatku yang lapar."

Sungguh teladan yang kontras dengan kondisi elit politik masa kini yang kerap hidup dalam kemewahan, sementara rakyat banyak bergelut dengan penderitaan.

Refleksi: Allah Tidak Tidur

Setiap kepemimpinan akan berakhir di hadapan pengadilan Allah. Jabatan hanyalah sementara, tetapi pertanggungjawaban di akhirat abadi. Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an:

"Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak." (QS. Ibrahim: 42).

Inilah pesan keras bagi siapa pun yang menyalahgunakan kekuasaan. Jangan pernah merasa aman dari pengawasan Allah, sebab Dia tidak tidur.

Jalan Keluar: Membangun Kepemimpinan Berbasis Amanah dan Moral

Kritik sosial ini bukan sekadar keluh kesah, tetapi panggilan agar kita semua—terutama para elit negeri—menata kembali arah kepemimpinan bangsa. Ada beberapa prinsip penting yang harus dihidupkan:

1. Kembali pada nilai amanah – kekuasaan adalah titipan, bukan hak milik.

2. Mengutamakan kepentingan rakyat – bukan kepentingan partai, kelompok, atau keluarga.

3. Menegakkan keadilan sosial – memastikan distribusi ekonomi merata, pendidikan dan kesehatan dapat diakses semua orang.

4. Membangun integritas moral – politik yang berlandaskan iman, bukan hanya kalkulasi pragmatis.

5. Keterbukaan dan akuntabilitas – karena rakyat berhak tahu bagaimana negeri ini dijalankan.

Penutup: Seruan Moral untuk Negeri

Wahai para elit politik negeri ini, janganlah engkau bermain sandiwara picik di atas penderitaan rakyat. Jangan engkau khianati suara mereka, sebab pengkhianatan itu bukan hanya melukai rakyat, tetapi juga menyalakan murka Allah.

Rakyat sudah menderita. Jangan tambahkan luka dengan kezaliman. Jadilah pemimpin yang melayani, bukan yang dilayani. Jadilah pelindung rakyat, bukan pemangsa rakyat.

Ingatlah, Allah tidak tidur. Setiap kebijakan, setiap pengkhianatan, setiap janji yang diingkari, akan kembali kepada dirimu di hadapan pengadilan-Nya.

Maka, mari belajar dari Umar bin Khattab, Umar bin Abdul Aziz, dan para pemimpin adil lainnya:
Bahwa kekuasaan sejati bukanlah berapa lama engkau berkuasa, tetapi seberapa besar engkau mampu menebar keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat.

Dr. N. Faqih Syarif M.Si. (Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa)

Opini

×
Berita Terbaru Update