Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Cinta Allah, Cinta Rasul, dan Cinta Jihad fi Sabillah

Minggu, 21 September 2025 | 17:58 WIB Last Updated 2025-09-21T11:13:12Z

TintaSiyasi.id -- Konselor Keluarga dan Pengasuh Rumah Qur’an As-Salam Ustazah Reni Raden Sugriwo menuturkan, jangan pernah menempatkan cinta pada tempat atau pada suatu hal yang salah.

 

“Jangan pernah menempatkan cinta pada tempat atau pada suatu hal yang salah,” sebutnya pada kajian Tematik MTR bertema Cinta Nabi Cinta Rasululullah, Rasululullah Muhammad Teladan Sepanjang Zaman, Ahad (14/09/2025).

 

“Cinta kepada Allah, cinta kepada Rasul, dan cinta pada jihad fi sabilillah harus di atas segala-galanya, karena di situlah kunci kebahagiaan sesungguhnya,” bebernya.

 

Ia melanjutkan, jika cinta Allah dan Rasulnya diabaikan, maka akan terjangkitlah penyakit wahn, yakni cinta dunia dan takut mati.

 

“Orang-orang yang Allah cintai adalah orang-orang yang senantiasa  mengutamakan Allah dan Rasul-Nya,” serunya.

 

Reni menegaskan, cinta Allah dan Rasul bukan sekadar klaim, melainkan harus dibuktikan. “Bukti cinta haruslah sesuai antara ucapan dengan perbuatan,” tegasnya seraya menyebutkan cara membuktikan.

 

Pertama, men-dawam-kan (membiasakan) lisan untuk selalu menyebut-nyebut namanya dengan berselawat.

 

“Cinta Nabi tidak hanya mencukupkan diri dengan berselawat, namun juga melaksanakan apa yang Rasulullah bawa dan sampaikan,” singgungnya.

 

Kedua, jangan membuat sakit hati Rasululullah. “Yang membuat sakit hati Rasulullah adalah ketika kita meragukan apa yang Rasulullah bawakan,” ujar Reni.

 

Dikisahkannya, Rasulullah saw pernah datang menemui seorang sahabat dalam keadaan marah. “Sahabat berkata, 'Siapa yang telah membuat Engkau marah, wahai Rasulullah? Semoga Allah memasukkan mereka ke dalam neraka.’ Beliau menjawab, ‘Bagaimana perasaanmu ketika aku memerintahkan orang-orang dengan suatu perintah, lalu mereka bimbang (ragu untuk melaksanakan perintah tersebut).’,” ungkapnya menukil hadis riwayat Imam Muslim dan Imam Ibnu Hibban.

 

Ia mengutip firman Allah Swt. di dalam Al-Quran surah At-Taubah ayat 61:

 

... وَالَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ رَسُولَ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

 

... orang-orang yang menyakiti Rasulullah bagi mereka azab yang sangat pedih.

 

Rasulullah adalah penyempurna agamam, lanjutnya, sehingga apa-apa yang di bawa olehnya maka diambil dan ditinggalkan apa-apa yang dilarang.

 

Ketiga, itibak kepada Rasulullah. “Rasulullah harus menjadi role model umat Islam,” lugasnya.

 

“Kedudukan Rasulullah tidak hanya sebagai nubuat pembawa risalah, melainkan kedudukannya juga sebagai pemimpin,” tandasnya.

 

Reni menjelaskan, posisi beliau sebagai nubuat pembawa risalah tidak bisa diikuti karena beliau adalah penutup para Nabi, tidak ada lagi Nabi yang diutus setelahnya sehingga wahyu pun telah sempurna diturunkan sebagai risalahnya.

 

“Yang bisa kita lakukan untuk itibak kepada Rasul adalah dari sisi kepemimpinannya, karena Rasulullah menuturkan bahwa tidak ada Nabi setelahnya tetapi akan ada khalifah dan jumlahnya banyak,” ungkap Reni.

 

Teladan Rasul

 

“Keteladan Rasul dari sisi kepemimpinan, yaitu Rasul memutuskan perkara di antara manusia dan mengurusi urusan manusia dengan Al-Qur'an. Yang Rasul contohkan bukan hanya mengajarkan akhlak tetapi juga membawa aturan untuk diterapkan dalam semua aspek kehidupan,” lugas Reni.

 

“Kita mengaku cinta pada Rasul tetapi justru jauh dari ajarannya dan bermaksiat kepada Rasul dengan tidak mengamalkan apa yang di bawanya, serta menjauhkan agama dari kehidupan,” timpalnya

 

“Kita tidak akan pernah tersesat jika kita berpegang teguh pada Al-Qur'an dan sunahnya (thariqah atau jalan) yang di contohkan Rasulullah dalam menjalankan seluruh aspek kehidupan,” tandasnya.[] Nuraida

Opini

×
Berita Terbaru Update