Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Aktivis Muslimah: Hakikat Bahagia Adalah Takwa

Selasa, 09 September 2025 | 15:10 WIB Last Updated 2025-09-09T08:40:30Z

Tintasiyasi.ID -- Aktivis Muslimah Malaysia Shahirah Shafaruddin mengungkapkan bahwa hakikat bahagia yang sebenarnya adalah bertakwa.

 

“Bahagia yang hakiki itu sebenarnya bukan terletak pada banyaknya harta, tetapi orang yang benar-benar bahagia adalah orang yang bertakwa. Itulah hakikat bahagia yang sesungguhnya,” katanya dalam acara Open Circle Siri Baiti Jannati bertajuk Mengukir Bahagia dalam Keluarga, Sabtu (02/08/2025).

 

Ia menyatakan, “Nilai kebahagiaan ini, kalau kita lihat gambarkan kebaikan atau kebahagiaan di dunia, di antaranya kita mendapat pasangan yang saleh, rumah yang nyaman, dan sahabat yang baik,” tuturnya.

 

“Kalau kita lihat gambaran kebaikan atau kebahagiaan di akhirat, itu adalah ketika kita bisa masuk surga, dimudahkan hisab, dan selamat dari ketakutan besar di Padang Mahsyar. Itulah nilai kebahagiaan yang bisa kita jadikan ukuran.”

 

Menurutnya, laporan Indeks Kebahagiaan Dunia 2025 menempatkan Malaysia di urutan ke-64 dari 147 negara, turun dari posisi ke-59 pada tahun sebelumnya.

 

“Kalau kita lihat indeks kebahagiaan ini, ada beberapa faktor yang memengaruhi kesejahteraan penduduk. Di antaranya dukungan sosial, pendapatan, kebebasan, kesehatan, dan juga persepsi individu terhadap korupsi,” ujarnya yang kemudian menilai ukuran ini tidak mencerminkan kebahagiaan sejati karena berpijak pada nilai kapitalisme.

 

Yang lebih mengkhawatirkan, Shahirah juga mengungkapkan statistik yang menunjukkan perceraian di Malaysia terus meningkat, khususnya pada pasangan muda dengan usia pernikahan di bawah 10 tahun.

 

“Faktor utama perceraian termasuk tidak adanya kesepahaman, kekerasan dalam rumah tangga, serta masalah keuangan,” ungkapnya.

 

Berdasarkan data 2023, ia menjelaskan, “Tingkat perceraian tertinggi dicatatkan pada laki-laki berusia 35–39 tahun dan perempuan 30–34 tahun.”

 

Dalam konteks perempuan milenial, ia menyoroti realitas beban ganda yang harus ditanggung oleh perempuan hari ini, yang menjadi tantangan dan hambatan dalam mengejar kebahagiaan hidup.

 

Setidaknya ada empat realitas beban ganda perempuan milenial saat ini. “Pertama, tantangan menyeimbangkan dua peran dalam hidupnya,” sebutnya.

 

“Mereka terpaksa, saya tekankan terpaksa, menyeimbangkan antara karier dan juga urusan rumah tangga. Perempuan bukan hanya harus memenuhi tuntutan pekerjaan, menyelesaikan tugas, mencapai target, tetapi di saat yang sama juga harus mengurus rumah tangga, menjaga anak-anak, menyiapkan makanan, memastikan rumah rapi, menjaga kesejahteraan keluarga,” paparnya.

 

“Jadi beban kerja ganda ini sebenarnya menimbulkan tekanan besar dan kelelahan,” jelasnya seraya menekankan hal itu berkontribusi pada tekanan mental dan fisik perempuan.

 

Kedua, biaya hidup tinggi dan hilangnya peran di rumah. “Fokus orang tua pada kebutuhan ekonomi saat ini telah merampas waktu berkualitas bersama anak-anak,” ucapnya.

 

“Kalau kita lihat sekarang, gaji tidak sebanding dengan biaya hidup. Suami-istri terpaksa lembur, bekerja lebih dari satu pekerjaan, bahkan ada yang mengerjakan dua hingga tiga pekerjaan sehari hanya untuk menutup biaya hidup,” ujarnya.

 

Ketiga, lemahnya sistem dukungan negara. “Realitas bahwa membesarkan anak membutuhkan biaya besar. Karena itu, banyak pasangan merencanakan matang sebelum menambah anak karena sistem dukungan keluarga belum memadai,” sebutnya.

 

“Selain itu, ada tantangan besar dalam biaya pengasuhan dan pendidikan anak. Anak memang amanah, rezeki, tetapi dalam sistem hari ini yang tidak memberi dukungan menyeluruh, orang tua harus berpikir keras sejak anak lahir,” ujarnya.

 

“Setelah cuti melahirkan, siapa yang jaga? Mau dititipkan ke mana? Semua itu melibatkan biaya bulanan dan tahunan, dari bayi, prasekolah, hingga universitas. Walau ada sekolah negeri gratis, tetap ada biaya tambahan. Bayangkan kalau punya tiga atau empat anak sekolah bersamaan. Itu realitas yang harus ditelan,” jelasnya kecewa.

 

Keempat, kurangnya dukungan dari keluarga sendiri. “Dukungan pasangan dan keluarga sangat penting bagi perempuan,” tuturnya.

 

“Kita tahu sistem dukungan dari suami dan keluarga sangat penting. Kalau tidak ada dukungan, beban perempuan makin berat,” ujarnya.

 

Lanjut dijelaskan, suami yang tidak membantu mengurus anak atau rumah, atau tidak memahami kondisi istri, bisa mengganggu keharmonisan rumah tangga. “Akhirnya muncul juga masalah KDRT dan tekanan sosial, yang memang sering dihadapi perempuan,” katanya.

 

Tambahnya lagi, “Kalau kita lihat sekarang, saat terjadi perceraian, nafkah anak sering dibebankan pada ibu. Perceraian bukan lagi masalah individu, tetapi sudah menjadi masalah sistemis. Banyak ibu tunggal yang berjuang keras membesarkan anak karena pengabaian tanggung jawab oleh ayahnya.”

 

Dalam menghadapi tantangan ini, ia memberi nasihat agar perempuan milenial mengubah pola pikir.

 

Shahirah menyatakan, “Kalau kita harus menjadi ibu bekerja sekaligus pencari nafkah utama, apalagi ibu tunggal, kita perlu mengubah mindset. Niatkan bekerja untuk mencari rida Allah, supaya tetap kuat secara mental dan fisik. Kalau kita melihat kerja hanya sebagai beban, tentu akan terasa berat. Jadi ubah pekerjaan ini menjadi jalan ibadah dan manfaat bagi keluarga tercinta.”

 

Ia juga menegaskan bahwa orang tua, suami dan istri, adalah komponen utama dalam memastikan kebahagiaan rumah tangga. “Maka fungsi inilah yang harus dikembalikan dalam keluarga Muslim,” lugasnya.

 

Nasihatnya, “Kita perlu memahami fungsi setiap anggota keluarga, terutama ayah dan ibu. Peran masing-masing harus jelas agar bisa saling meringankan beban.”

 

Sebagai penutup, Shahirah mengajak umat Islam kembali kepada asas kekeluargaan yang berlandaskan syariat. “Rumah tangga sebagai benteng terakhir masyarakat,” tandasnya.

 

“Sebab itu penting bagi setiap keluarga menjadikan rumahnya sebagai tempat yang aman, penuh berkah, dan rahmat Allah Swt.. Kalau rumah dinaungi keberkahan, Insyaallah kehidupan kita akan dipenuhi kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat,” tegasnya.[] Aliya Ab Aziz

Opini

×
Berita Terbaru Update