Tintasiyasi.ID -- Aktivis Muslimah Malaysia Shahirah Shafaruddin mengungkapkan bahwa hakikat bahagia yang sebenarnya adalah bertakwa.
“Bahagia yang hakiki itu sebenarnya bukan terletak
pada banyaknya harta, tetapi orang yang benar-benar bahagia adalah orang yang
bertakwa. Itulah hakikat bahagia yang sesungguhnya,” katanya dalam acara Open
Circle Siri Baiti Jannati bertajuk Mengukir Bahagia dalam Keluarga,
Sabtu (02/08/2025).
Ia menyatakan, “Nilai kebahagiaan ini, kalau kita
lihat gambarkan kebaikan atau kebahagiaan di dunia, di antaranya kita mendapat
pasangan yang saleh, rumah yang nyaman, dan sahabat yang baik,” tuturnya.
“Kalau kita lihat gambaran kebaikan atau kebahagiaan
di akhirat, itu adalah ketika kita bisa masuk surga, dimudahkan hisab, dan
selamat dari ketakutan besar di Padang Mahsyar. Itulah nilai kebahagiaan yang
bisa kita jadikan ukuran.”
Menurutnya, laporan Indeks Kebahagiaan Dunia 2025
menempatkan Malaysia di urutan ke-64 dari 147 negara, turun dari posisi ke-59
pada tahun sebelumnya.
“Kalau kita lihat indeks kebahagiaan ini, ada beberapa
faktor yang memengaruhi kesejahteraan penduduk. Di antaranya dukungan sosial,
pendapatan, kebebasan, kesehatan, dan juga persepsi individu terhadap korupsi,”
ujarnya yang kemudian menilai ukuran ini tidak mencerminkan kebahagiaan sejati
karena berpijak pada nilai kapitalisme.
Yang lebih mengkhawatirkan, Shahirah juga
mengungkapkan statistik yang menunjukkan perceraian di Malaysia terus
meningkat, khususnya pada pasangan muda dengan usia pernikahan di bawah 10
tahun.
“Faktor utama perceraian termasuk tidak adanya
kesepahaman, kekerasan dalam rumah tangga, serta masalah keuangan,” ungkapnya.
Berdasarkan data 2023, ia menjelaskan, “Tingkat
perceraian tertinggi dicatatkan pada laki-laki berusia 35–39 tahun dan
perempuan 30–34 tahun.”
Dalam konteks perempuan milenial, ia menyoroti
realitas beban ganda yang harus ditanggung oleh perempuan hari ini, yang
menjadi tantangan dan hambatan dalam mengejar kebahagiaan hidup.
Setidaknya ada empat realitas beban ganda perempuan
milenial saat ini. “Pertama, tantangan menyeimbangkan dua peran dalam
hidupnya,” sebutnya.
“Mereka terpaksa, saya tekankan terpaksa,
menyeimbangkan antara karier dan juga urusan rumah tangga. Perempuan bukan
hanya harus memenuhi tuntutan pekerjaan, menyelesaikan tugas, mencapai target,
tetapi di saat yang sama juga harus mengurus rumah tangga, menjaga anak-anak,
menyiapkan makanan, memastikan rumah rapi, menjaga kesejahteraan keluarga,”
paparnya.
“Jadi beban kerja ganda ini sebenarnya menimbulkan
tekanan besar dan kelelahan,” jelasnya seraya menekankan hal itu berkontribusi
pada tekanan mental dan fisik perempuan.
Kedua, biaya hidup tinggi dan hilangnya
peran di rumah. “Fokus orang tua pada kebutuhan ekonomi saat ini telah merampas
waktu berkualitas bersama anak-anak,” ucapnya.
“Kalau kita lihat sekarang, gaji tidak sebanding
dengan biaya hidup. Suami-istri terpaksa lembur, bekerja lebih dari satu
pekerjaan, bahkan ada yang mengerjakan dua hingga tiga pekerjaan sehari hanya
untuk menutup biaya hidup,” ujarnya.
Ketiga, lemahnya sistem dukungan negara. “Realitas
bahwa membesarkan anak membutuhkan biaya besar. Karena itu, banyak pasangan
merencanakan matang sebelum menambah anak karena sistem dukungan keluarga belum
memadai,” sebutnya.
“Selain itu, ada tantangan besar dalam biaya
pengasuhan dan pendidikan anak. Anak memang amanah, rezeki, tetapi dalam sistem
hari ini yang tidak memberi dukungan menyeluruh, orang tua harus berpikir keras
sejak anak lahir,” ujarnya.
“Setelah cuti melahirkan, siapa yang jaga? Mau
dititipkan ke mana? Semua itu melibatkan biaya bulanan dan tahunan, dari bayi,
prasekolah, hingga universitas. Walau ada sekolah negeri gratis, tetap ada
biaya tambahan. Bayangkan kalau punya tiga atau empat anak sekolah bersamaan.
Itu realitas yang harus ditelan,” jelasnya kecewa.
Keempat, kurangnya dukungan dari keluarga
sendiri. “Dukungan pasangan dan keluarga sangat penting bagi perempuan,”
tuturnya.
“Kita tahu sistem dukungan dari suami dan keluarga
sangat penting. Kalau tidak ada dukungan, beban perempuan makin berat,” ujarnya.
Lanjut dijelaskan, suami yang tidak membantu mengurus
anak atau rumah, atau tidak memahami kondisi istri, bisa mengganggu
keharmonisan rumah tangga. “Akhirnya muncul juga masalah KDRT dan tekanan
sosial, yang memang sering dihadapi perempuan,” katanya.
Tambahnya lagi, “Kalau kita lihat sekarang, saat
terjadi perceraian, nafkah anak sering dibebankan pada ibu. Perceraian bukan
lagi masalah individu, tetapi sudah menjadi masalah sistemis. Banyak ibu
tunggal yang berjuang keras membesarkan anak karena pengabaian tanggung jawab
oleh ayahnya.”
Dalam menghadapi tantangan ini, ia memberi nasihat
agar perempuan milenial mengubah pola pikir.
Shahirah menyatakan, “Kalau kita harus menjadi ibu
bekerja sekaligus pencari nafkah utama, apalagi ibu tunggal, kita perlu
mengubah mindset. Niatkan bekerja untuk mencari rida Allah, supaya tetap
kuat secara mental dan fisik. Kalau kita melihat kerja hanya sebagai beban,
tentu akan terasa berat. Jadi ubah pekerjaan ini menjadi jalan ibadah dan
manfaat bagi keluarga tercinta.”
Ia juga menegaskan bahwa orang tua, suami dan istri,
adalah komponen utama dalam memastikan kebahagiaan rumah tangga. “Maka fungsi
inilah yang harus dikembalikan dalam keluarga Muslim,” lugasnya.
Nasihatnya, “Kita perlu memahami fungsi setiap anggota
keluarga, terutama ayah dan ibu. Peran masing-masing harus jelas agar bisa
saling meringankan beban.”
Sebagai penutup, Shahirah mengajak umat Islam kembali
kepada asas kekeluargaan yang berlandaskan syariat. “Rumah tangga sebagai
benteng terakhir masyarakat,” tandasnya.
“Sebab itu penting bagi setiap keluarga menjadikan
rumahnya sebagai tempat yang aman, penuh berkah, dan rahmat Allah Swt.. Kalau
rumah dinaungi keberkahan, Insyaallah kehidupan kita akan dipenuhi
kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat,” tegasnya.[] Aliya Ab Aziz
