Tintasiyasi.ID -- Menurut Muslim Intelektual Inggris Adnan Khan, ada dua tanda seseorang terindikasi menjadi agen kekuatan asing.
“Jadi, bagaimana seharusnya kita bisa
mengatakan ada kemungkinan seseorang itu adalah agen kekuatan asing? Ada dua
tanda kunci yang kita butuh untuk melihat ke identitasnya jika seseorang
terindikasi sebagai seorang agen. Kemudian mereka menjadi agen untuk siapa?”
ujarnya dalam video unggahan X at @TGeoplity, Rabu (13/08/2025).
Pertama, ada yang
membawa ke tampuk kekuasaan. “Jadi seseorang atau kelompok masuk dalam
kekuasaan tanpa dukungan kekuatan lain atau secara mandiri, maka indikasinya
lebih cenderung hanya sebagai kandidat independent,” ulasnya.
“Tetapi apa yang kita temukan adalah
banyak individ-individu, atau sekelompok keluarga yang masuk ke dalam
kekuasaan. Karena ada kekuatan asing di belakang yang membawa mereka pada
kekuasaan tersebut. Ini kriteria pertama,” jelasnya.
Kedua, adanya alasan
yang besar dari beberapa kekuasaan yang menginginkan kebijakan atau aturan dari
para agen, untuk kemudian diimplementasikan pada agenda regional sehingga
menyasar rakyat dari implementasi kebijakan asing tersebut.
“Sehingga, siapa pemilik rencana
kebijakan politik ini? Pendukung dan implementasinya? Itulah yang mungkin
menjadi kriteria kunci. Itulah mengapa ini sangat penting untuk kita pahami apa
yang disebut dengan setiap agenda kekuasaan di berbagai wilayah berbeda di
dunia,” lanjut Adnan.
Seterusnya, kata Adnan Khan, umat
sebenarnya bisa melihat aktor-aktor yang mengimplementasikannya, dan para
pelaku yang menjadi bagiannya sebagai
penggerak dalam implementasinya.
“Jadi ketika Anda melihat ke arah
Timur Tengah, seperti contoh, Anda tahu Amerika punya sebuah rencana.
Maksudnya, tidak ada agenda balasan yang sungguh-sungguh untuk membalas
strategi Amerika. Sehingga kita melihat
penguasa mana yang menjadi bagian ini.
Beberapa hari lagi Donal Trump berkunjung ke Timur Tengah untuk bertemu
Saudi, Qatar, juga wilayah UEA,” jelasnya.
Dengan demkian, menurutnya, umat akan
bisa memecahkan dibalik rencana Amerika. Karena Amerika pada faktanya cukup
terbuka dengan agenda-agenda lamanya, yaitu tentang stabilitas Israel,
melahirkan arsitektur baru, serta menciptakan koridor ekonomi baru.[] M.
Siregar
