Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Worldview yang Salah: Akar Kerusakan Dunia dan Kebenaran Abadi QS. Ar-Ruum: 41

Senin, 18 Agustus 2025 | 04:58 WIB Last Updated 2025-08-17T21:58:20Z
Tintasiyasi.ID-- Pendahuluan: Dunia di Persimpangan

Kita hidup di zaman yang paradoks. Teknologi mencapai puncak, komunikasi melesat melampaui batas, ilmu pengetahuan berkembang pesat. Namun pada saat yang sama, dunia diliputi krisis multidimensi: kerusakan lingkungan, kesenjangan ekonomi, konflik sosial, dan krisis moral.
Al-Qur’an sejak 14 abad lalu sudah mengingatkan:

 ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Ruum: 41)

Ayat ini bukan sekadar peringatan moral, tetapi diagnosa yang tepat atas penyakit dunia modern: kerusakan sebagai akibat dari worldview (pandangan hidup) yang salah.

1. Memahami Worldview: Pondasi Peradaban

Worldview atau pandangan hidup adalah kerangka dasar yang menentukan:

Bagaimana kita memandang Allah, manusia, dan alam.

Bagaimana kita menilai benar-salah, baik-buruk.

Bagaimana kita menentukan tujuan hidup dan arah peradaban.

Dalam Islam, worldview dibangun di atas tauhid: pengakuan bahwa Allah adalah sumber kebenaran, pemilik alam, dan tujuan akhir semua amal.
Namun peradaban modern mengadopsi worldview sekuler-materialis yang menyingkirkan Tuhan dari pusat kehidupan, menjadikan manusia sebagai penguasa absolut, dan mengukur segalanya dengan keuntungan materi.

2. Karakter Worldview yang Salah

Worldview modern yang keliru memiliki beberapa ciri utama:

a. Sekularisme – Memisahkan agama dari kehidupan

Agama hanya dianggap urusan pribadi, tanpa relevansi pada ekonomi, politik, hukum, dan ilmu pengetahuan.

b. Materialisme – Mengutamakan keuntungan materi

Nilai moral dan spiritual dikorbankan demi profit jangka pendek.

c. Relativisme Moral

Kebenaran dianggap subjektif, tergantung selera mayoritas atau kekuatan.

d. Eksploitasi Alam

Alam dipandang hanya sebagai komoditas, bukan amanah yang harus dijaga.

3. Bukti Kebenaran QS. Ar-Ruum: 41 dalam Dunia Modern

Ayat ini menyebut dua wilayah kerusakan: darat dan laut.
Hari ini kita menyaksikan kenyataannya:

a. Kerusakan di Darat

Deforestasi masif, tanah kritis, bencana banjir dan kekeringan.

Lenyapnya keanekaragaman hayati akibat industri yang rakus.

Polusi udara di kota-kota besar mengancam kesehatan jutaan jiwa.

b. Kerusakan di Laut

Laut menjadi tempat pembuangan 8 juta ton plastik per tahun.

Penangkapan ikan berlebihan mengancam rantai ekosistem.

Pencemaran minyak dan limbah industri merusak biota laut.

c. Kerusakan Moral dan Sosial

Krisis keluarga: perceraian, kekerasan rumah tangga, degradasi nilai.

Hedonisme: hidup hanya untuk kesenangan instan.

Kejahatan global: perdagangan manusia, narkoba, dan peperangan.

Semua ini adalah output dari worldview yang salah: manusia merasa bebas tanpa pertanggungjawaban kepada Tuhan.

4. Hubungan Worldview dan Peradaban

Sejarah menunjukkan:

Worldview benar → Peradaban maju dan berkeadilan.
Contoh: Zaman Khulafaur Rasyidin, Andalusia, Abbasiyah.

Worldview salah → Peradaban runtuh dalam kerusakan.
Contoh: Imperium Romawi, kolonialisme Barat, dan krisis global hari ini.

Worldview adalah pondasi peradaban. Jika pondasinya retak, bangunan akan roboh walau megah.

5. Solusi Qur’ani: “Agar Mereka Kembali”

Allah menutup QS. Ar-Ruum: 41 dengan لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ — agar mereka kembali.
Ini adalah peta jalan peradaban:

1. Kembali ke Tauhid – Menjadikan Allah pusat kehidupan.

2. Integrasi Ilmu dan Iman – Ilmu menjadi alat untuk kemaslahatan, bukan alat penindasan.

3. Ekonomi Berkeadilan – Berlandaskan maqashid syariah.

4. Etika Lingkungan – Menjaga alam sebagai amanah.

5. Kepemimpinan Berbasis Akhlak – Mengutamakan amanah, bukan ambisi.

6. Refleksi untuk Umat Islam

Dunia modern yang penuh kerusakan ini bukan hanya tantangan, tetapi panggilan sejarah bagi umat Islam untuk:

Menawarkan kembali worldview tauhid.

Membangun model peradaban alternatif yang berkelanjutan.

Menjadi saksi kebenaran Al-Qur’an di hadapan dunia.

Kita tidak cukup hanya mengkritik kerusakan Barat atau modernisme, tetapi harus menyediakan solusi nyata: dari pendidikan, ekonomi, teknologi, hingga tata kelola lingkungan yang berlandaskan nilai Islam.

Penutup

QS. Ar-Ruum: 41 bukan sekadar nubuat, tetapi diagnosa sekaligus resep. Kerusakan global adalah bukti bahwa worldview yang salah membawa bencana. Kembali ke worldview Islam berbasis tauhid adalah satu-satunya jalan menuju peradaban yang adil, beradab, dan berkelanjutan.

"Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad: 7)

Peradaban Islam yang agung dimulai dari benarnya cara pandang, diteruskan dengan benarnya cara hidup, dan diakhiri dengan benarnya warisan yang kita tinggalkan untuk generasi setelah kita.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spirirual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update