Cinta dunia adalah penyakit hati yang paling halus, tetapi paling berbahaya. Ia tidak selalu terlihat dalam bentuk kemewahan atau keserakahan yang mencolok; terkadang ia bersembunyi di balik kesibukan, pencapaian, dan rutinitas yang menguras waktu, sehingga hati lupa pada tujuan hakiki: menghadap Allah dengan hati yang selamat (qalbun salīm).
Dua kitab Irsyādul Ibad dari dua ulama besar—Syaikh Zainuddin al-Malibari dan Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad bin Salman—memberikan resep ruhani yang mendalam untuk mengobati penyakit ini. Meski berasal dari konteks dan zaman yang berbeda, keduanya mengalir ke muara yang sama: menuntun hamba agar hidupnya terarah menuju ridha Allah dan akhirat yang abadi.
1. Menyadari Hakikat Dunia
Kedua kitab ini menegaskan bahwa dunia hanyalah ladang (mazra‘ah) untuk akhirat.
• Syaikh Zainuddin al-Malibari mengingatkan melalui kisah-kisah salaf bahwa kemewahan dunia adalah fatamorgana: indah dipandang, tetapi kosong saat didekati.
• Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad bin Salman menambahkan bahwa dunia hanya kendaraan; tidak layak dijadikan tujuan. Siapa yang menjadikan dunia sebagai tempat tinggal abadi akan kecewa saat maut menjemput.
Refleksi:
Merenunglah setiap malam, “Andai ini hari terakhirku, apa yang kubawa menghadap Allah? Apakah hanya harta, pencapaian, dan pujian manusia… atau amal saleh yang tulus?”
2. Meluruskan Niat dan Menghidupkan Ibadah
Dua Irsyādul Ibad sama-sama menempatkan niat sebagai titik awal penyembuhan dari cinta dunia.
• Niat yang bercampur riya atau kepentingan duniawi akan meracuni amal.
• Ibadah yang dilakukan dengan khusyuk, mengikuti sunnah, dan penuh penghayatan adalah penawar yang menyucikan hati.
Kunci Praktis:
1. Awali hari dengan niat: “Ya Allah, jadikan seluruh aktivitasku hari ini sebagai ibadah.”
2. Jangan remehkan amal kecil; shalat sunnah, senyum, sedekah tersembunyi—semua dapat mengikis cinta dunia.
3. Menyucikan Akhlak dan Adab
• Syaikh Zainuddin banyak membahas adab sosial: menghormati orang tua, menjaga lisan, amanah dalam janji—semua ini menahan diri dari perilaku yang mementingkan dunia.
• Syaikh Abdul Aziz menekankan zuhud: bukan meninggalkan dunia sepenuhnya, tetapi menggunakannya secukupnya untuk menolong agama dan sesama.
Refleksi:
Zuhud bukan berarti miskin, tetapi mengendalikan hati agar tidak diperbudak oleh apa yang dimiliki.
4. Mengelola Waktu: Menolak Pemborosan Umur
Salah satu bentuk cinta dunia adalah menghabiskan waktu untuk hal sia-sia.
• Kedua kitab menekankan manajemen waktu yang berbasis amal saleh.
• Syaikh Abdul Aziz menulis: “Umur adalah modal. Siapa yang menghabiskannya untuk dunia semata, ia rugi sebesar-besarnya.”
Tips Praktis:
• Sisipkan dzikir di sela-sela pekerjaan.
• Baca satu halaman Qur’an sebelum memegang ponsel di pagi hari.
• Jadikan waktu luang sebagai ladang amal.
5. Hikayat dan Kisah Teladan
Keduanya menggunakan kisah untuk mengetuk hati:
• Kisah ulama yang menolak hadiah besar dari penguasa demi menjaga kemurnian hati.
• Kisah seorang saudagar yang meninggalkan perdagangan saat adzan berkumandang, walau transaksi sedang menguntungkan.
Pesan yang mengalir:
Dunia akan meninggalkan kita—lebih cepat dari yang kita kira. Tetapi amal yang ikhlas akan tetap menyertai sampai di alam kubur.
6. Jalan Terapi dari Cinta Dunia
Dari dua Irsyādul Ibad, lahir beberapa langkah penyembuhan:
1. Menyadari kefanaan dunia setiap hari.
2. Menguatkan niat dan tujuan hidup pada akhirat.
3. Meningkatkan kualitas ibadah lahir dan batin.
4. Menumbuhkan sifat zuhud: menggunakan dunia sebagai sarana, bukan tujuan.
5. Menghidupkan amal jariyah: sedekah, ilmu, dan kebaikan yang terus mengalir pahalanya.
Penutup
Dunia ini hanyalah persinggahan singkat. Kedua kitab Irsyādul Ibad adalah cahaya yang menuntun agar kita tidak tersesat di jalan menuju rumah abadi di akhirat.
Jika hati terasa berat meninggalkan dunia, bacalah kembali nasihat para ulama:
"Hiduplah di dunia seperti orang asing atau pengembara." – HR. Bukhari
Kita adalah musafir, dan tujuan kita adalah kampung akhirat. Dunia hanyalah tempat mengisi bekal. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang tidak tertipu oleh dunia, tetapi memanfaatkannya sebagai jembatan menuju surga.
Oleh. Dr Nasrul Syarif M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)